
AMMAN, SELASA — Ratu Rania al Abdullah dari Jordania mengakui tantangannya lewat situs YouTube untuk mengikis stereotipe Arab dan Islam belum berhasil melumerkan sikap tidak toleran. Namun, ia sudah melihat perubahan perilaku.
Ratu cantik yang akrab dengan media ini berencana menyatukan video interaktifnya di YouTube dan blognya, Selasa (12/8). Ia juga telah membuat sebuah situs untuk menciptakan wadah interaktif bagi para pemuda di dunia Barat dan mempromosikan Islam moderat.
"Saya ingin berpikir bahwa saya telah membuat orang berhenti sejenak, berefleksi dan berpikir bahwa gagasan dan asumsi yang mereka pegang benar, tetapi naif kalau berpikir bahwa orang-orang yang mengeklik situs itu sekarang sudah berpikir secara berbeda," kata Rania dalam email kepada Associated Press, Senin (11/8).
Selama lima bulan terakhir video Rania di YouTube telah dikunjung lebih dari 2 juta orang. Pengunjung bisa melihat video harian Rania yang menyajikan beragam topik, mulai dari pembunuhan demi kehormatan, terorisme, dan hak-hak perempuan Arab. Mulai dari musisi, komedian, dan tokoh lain berpartisipasi dalam video ini. Banyak juga video yang di-posting untuk menanggapi gagasan Rania itu.
Sebagai seorang pembela hak perempuan dan anak di Jordania, perempuan kelahiran Palestina ini sangat senang dengan forum diskusi terbuka yang disediakan YouTube. Ia mengaku bisa menyaksikan perubahan perilaku di sebagian besar pengunjung yang menanggapi.
"Tentu saja banyak juga yang marah dan salah paham, dengan banyak alasan. Tetapi memang untuk itulah saya memulai proyek ini. Saya ingin berhubungan dengan orang-orang dan menyajikan sisi lain dari pertentangan itu," kata Rania.
Rania mengaku sedang berupaya untuk menjabarkan semua hal agar orang tahu bagaimana sebenarnya dunia Arab tanpa diedit, tanpa dikarang, dan tanpa sensor. "Memang perdebatan di YouTube belum berhasil mencairkan ketegangan dan intoleransi antarbudaya. Namun saya menantang untuk mempertimbangkan soal apa yang mereka pikirkan tentang orang-orang yang berpadangan beda, berbusana beda, beribadah secara beda yang tinggal di sekitar mereka," kata Rania.
"Kalau itu kemudian menghasilkan senyuman kepada orang asing atau ketukan di pintu tetangga untuk mengenalkan diri, maka itu menjadi kebanggaan bagi saya," katanya.
