Minggu, 26 Oktober 2014
Jangan Abaikan Kesehatan Jiwa Jurnalis
Senin, 9 Februari 2009 | 14:41 WIB
|
Share:
(Getty Images/JEWEL SAMAD)

Para wartawan Kantor Berita Xinhua bertugas di Main Press Centre, Beijing, 6 Agustus 2008.

JAKARTA, SENIN — "Jurnalis menangis? Masa boleh? Ya boleh dong, jurnalis kan manusia juga...." Menangis atau tidak menangis akibat ketakutan, rasa iba berkepanjangan, atau bahkan trauma sering kali menjadi ukuran penilaian tertentu dalam menentukan kualitas seorang jurnalis.

Padahal, dari sisi psikologis, hal itu lumrah, apalagi dalam aktivitas liputan setiap hari, jurnalis sangat rentan terkena trauma.

Psikolog Irma S Martam dalam pelatihan psikologi pers bertajuk "Menjaga Kesejahteraan Psikologis Jurnalis" di Lembaga Pers Dr Soetomo, Senin (9/2), mengatakan, jurnalis memiliki kerentanan yang tinggi terhadap stres, depresi, hingga trauma. "Terutama mereka yang sering meliput konflik, kriminal, kecelakaan, dan bencana alam," ujarnya.

Menurut Irma, trauma bagi wartawan merupakan hal yang lumrah karena pengalaman yang membuat luka batin, mengancam keselamatan, atau bahkan meninggalkan penyesalan yang begitu dalam.

Hanya, mekanisme respons setiap orang berbeda-beda. Ada yang hanya mengalami trauma sesaat, ada yang berkepanjangan. Peristiwa trauma bisa menyebabkan gangguan fisik, seperti mual dan gangguan pencernaan; gangguan emosi, seperti mudah marah dan sedih; gangguan kognisi, seperti mudah lupa dan sulit konsentrasi; gangguan tingkah laku, seperti mudah terkejut dan sering melamun; gangguan moral spiritual, seperti kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan.

Situasi ini, menurut Irma, tidak boleh dibiarkan begitu saja meski yang bersangkutan seperti merasa baik-baik saja dan bisa melakukan aktivitas pekerjaan seperti biasanya.

"Seharusnya, rekan kerja, termasuk perusahaan tempat jurnalis bekerja, memperhatikan hal ini. Misalnya, terkait jangka waktu liputan di daerah konflik," tutur Irma.

Selain karena memang situasi perang atau bencana yang dialami, stres yang bisa berujung trauma pada jurnalis mudah juga muncul akibat tekanan pekerjaan, tuntutan untuk bekerja dalam jam kerja yang panjang dan situasi kerja yang berbahaya, serta akibat kurangnya arahan supervisi dari atasan, penghargaan yang rendah, dan tugas yang tumpang tindih.

Menurut Irma, menjaga psikologis jurnalis adalah tugas bersama dari semua pihak, baik dari si jurnalis sendiri, redaktur, maupun rekan jurnalis lainnya.

"Kita sering lupa, jurnalis adalah manusia biasa, memiliki kebutuhan-kebutuhan psikologis serta hak yang perlu diketahui, dihormati, dan dilindungi," tutur Irma.

Hari Pers Nasional yang jatuh pada hari ini diharapkan bisa menjadi titik lanjut kepedulian masyarakat dan pihak pemegang modal di media terhadap kondisi psikologis para jurnalis yang sedang mengabdi.


BERITA LAIN: