Jumat, 22 Agustus 2014
Berduka, Pemerintah dan Masyarakat Sultra
Selasa, 31 Maret 2009 | 00:50 WIB
|
Share:

KENDARI, KOMPAS.com - Pemerintah dan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) berduka atas meninggalnya mantan Gubernur Laode Kaimoeddin. "Laode Kaimoeddin adalah putra daerah terbaik yang pantas jadi teladan bagi pemerintah dan rakyat Sultra. Kita kehilangan sosok yang berani, tegas dan disiplin," kata Gubernur Sultra H.Nur Alam di rumah duka sebelum almarhum diantarkan ke peristirahatan terakhir, Senin (30/3).
    
Nur Alam mengajak semua pihak untuk saling mendukung dalam rangka melanjutkan program pembangunan yang telah digagas mantan Gubernur Sultra dua perode (1992-1997 dan 1997 -2002) itu demi wujudkan kesejahteraan masyarakat.
    
Sebagai ungkapan rasa duka atas kepergiaan selama-lamanya bagi figur yang dinobatkan sebagai Tamalakino Lipu (laki-laki pemberani) dalam suatu sidang paripurna DPRD, seluruh kantor pemerintah, swasta dan masyarakat diinstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari berturut-turut.
    
Segala biaya yang timbul dalam rangka prosesi pemakaman almarhum yang meninggal dunia Senin dini hari (30/3) sekitar pukul 03:12 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menjadi tanggungan Pemerintah Provinsi Sultra.
    
Gubernur Nur Alam yang menyebut Laode Kaimoeddin sebagai "gubernur senior" juga menyampaikan ucapan belangsungkawa yang disampaikan dari Wapres RI Jusuf Kalla, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, dan Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh.
     
Mewakili keluarga, Laode Sirad Imbo saat  menyampaikan mengatakan, almarhum bersama keluarga berjuang keras untuk menyembuhkan penyakit stroke yang dideritanya selama tiga tahun. "Pihak keluarga menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada pelayat, baik sebagai pemerintah, tokoh masyarakat dan kerabat dan semoga mendapat balasan dari Allah," kata adik kandung almarhum Laode Kaimoeddin.
     
Laode Kaimoeddin yang putra Raja Muna, almarhum Laode Dika dikebumikan di kompleks perumahan keluarga di Nanga-Nanga Kendari yang prosesi pemakamannya sampai pukul 21.00 Wita itu tampak dihadiri ribuan pelayat.
      
Sejumlah bupati/wali kota maupun pensiunan pejabat era kepemimpinan almahum  melayat hingga mengantarkan ke tempat perisitrahatn terakhir, antara lain Bupati Buton Syafei Kahar, Wali Kota Kendari Asrun, mantan Wali Kota Kendari Masyhur Masie Abunawas, Bupati  Konawe Selatan Imran, dan Bupati Muna Ridwan.
     
Para mantan Wakil Gubenur yakni Hoesein Efendy saat almarhum sebagai Gubernur Sultra periode 1997-2002, mantan Wakil Gubernur Sultra Jacob Silondae dan mantan Wakil Gubernur Yusran Silondae.
     
Bupati Muna Ridwan mengatakan, kepemimpinan almarhum Kaimoeddin pantas ditiru sebagai pamong praja yang tegas, disiplin dan berani melakukan terobosan. "Bagi saya salut dengan semangat almarhum yang menghabiskan masa hidupnya sebagai PNS. Saya biasa bertentangan, tetapi itu adalah bagian dari pembinaan beliau terhadap bawahannya," kata Ridwan.
    
Mantan Wakil Gubernur Sultra Yusran Silondae mengatakan, rakyat Sultra tidak akan pernah lupa dengan karya pembangunan yang ditinggalkan almarhum Kaimoeddin. "Kota Kendari yang kita nikmati hari ini karena jalur jalan yang tertata rapi dan laju pembangunan yang begitu cepat adalah kerja keras dan komitmen almarhum sehingga wajar kalau disebut sebagai bapak pembangunan  Sultra," kata Yusran.
    
Kaimoeddin yang lahir di Raha 26 Oktober 1935 dikenal energik dan pekerja keras, baik sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun saat menjadi pemimpin Bumi Anoa Sultra menghembuskan nafas terakhir karena penyakit stroke yang dideritanya.
     
Almarhum yang juga mantan anggota MPR RI/DPR RI (1971), mantan Bupati Muna (1975-1989), Ketua Bapedda Provinsi Sultra dan Pembantu Gubernur Sultra wilayah kepuluan dan daratan itu, menjalani perawatan karena menderita stroke sejak tahun 2006 (selama tiga tahun tiga bulan).
     
Empat bulan terakhir kondisi fisik mantan Gubernur Sultra yang juga alumnus Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah mada tahun 1962 serta alumnus kursus reguler Angkatan XIX Lemhanas (1986) terus menurun.
      
Kaimoeddin yang meninggalkan seorang istri Hj. Andi Norma dan enam orang putra/putrinya meniti karir PNS sejak tahun 1962 sebagai Kepala Seksi Ekonomi Bahagian Pemerintahan Umum Kantor Gubernur Maluku di Ambon.

 


BERITA LAIN: