Minggu, 19 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Raih Karier Impian via Wawancara Telepon
Penulis : Felicitas Harmandini | Kamis, 28 Mei 2009 | 10:25 WIB
|
Share:
Cari posisi yang baik agar suara pun terdengar baik.

KOMPAS.com — Wawancara via telepon sering kali dilakukan antara pewawancara dan pelamar pekerjaan. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Mungkin Anda melamar pekerjaan di luar negeri atau pihak yang berwenang mewawancara kebetulan memang berpusat di negara tertentu. Wawancara telepon bisa juga dilakukan sebagai sarana penyaring awal untuk menyempitkan kelompok kandidat sebelum mengundang mereka langsung untuk wawancara tatap muka.

Namun, meskipun hanya dilakukan melalui telepon dan pembicaraan terdengar begitu santai, tidak berarti wawancara seperti ini tidak penting. Anda tetap perlu mempersiapkan diri seolah akan langsung menghadapi bos perusahaan tersebut. Berikut adalah cara memberikan kesan yang baik saat melakukan wawancara via telepon:
 
Siapkan diri. Wawancara telepon biasanya dilakukan untuk mengetes apakah Anda mampu melanjutkan ke tahap berikutnya. Karena itu, siapkan diri Anda seolah akan menghadapi wawancara tatap muka. Artinya, lakukan semua riset tentang perusahaan di mana Anda melamar pekerjaan ataupun para pejabat penting di dalamnya yang akan berbicara dengan Anda saat wawancara telepon. Selain itu, tentunya, siapkan penjelasan mengapa Anda akan menjadi kandidat terbaik untuk pekerjaan itu.

Berpakaian dengan baik. Meskipun Anda tidak akan terlihat oleh si pewawancara, tetap lah berdandan seolah Anda menghadapinya. Bayangkan jika Anda melakukan wawancara dengan memakai daster sambil mengangkat kaki di sofa. Akan terasa bedanya jika Anda sudah siap dengan pakaian kerja.

Cari tempat yang tenang. Jika Anda sedang berada di rumah, menjauhlah dari kamar anak yang sewaktu-waktu menangis, dari ruangan yang terdekat dengan rumah tetangga yang sedang direnovasi, atau suara anjing di depan rumah yang terus menyalak saat ada orang lewat. Bila Anda tak bisa menjauh dari semuanya itu, pindahkan anak ke ruangan lain atau minta seseorang mengajak anjing berjalan-jalan.

Jangan melakukan hal lain saat menerima telepon. Wawancara telepon bukan waktu yang tepat untuk menunjukkan kemampuan multitasking Anda. Jangan menghadapi komputer meskipun hanya untuk menghapus inbox e-mail. Selain itu, terutama jangan sambil makan, minum, atau mengunyah permen karet. Juga jangan sambil menonton televisi, mendengarkan radio, atau apa pun yang dapat mengalihkan perhatian Anda.

Jangan menggunakan ponsel, apalagi yang jaringannya terkenal sering nge-drop. Anda tak ingin pembicaraan terputus di tengah-tengah wawancara dan pewawancara yang dari Singapura atau Hongkong kesulitan menghubungi Anda lagi, bukan? Bila Anda di rumah, gunakan saja telepon rumah. Jauhkan juga ponsel dari jangkauan Anda saat melakukan wawancara agar perhatian Anda tidak terpecah saat ada SMS masuk.

Siapkan kertas dan dokumen yang sewaktu-waktu diperlukan. Keuntungan melakukan wawancara via telepon adalah Anda bisa "mengintip jawaban" dari buku-buku atau jurnal yang pernah Anda buat (bahkan mungkin juga slip gaji), yang sudah Anda siapkan di dekat Anda. Jangan lupa sediakan pena dan kertas untuk membuat catatan-catatan.

Duduk atau berdiri? Minta seorang teman menelepon Anda dan minta pendapat bagaimana suara Anda. Tanyakan apakah Anda terdengar lebih baik saat duduk atau berdiri. Kadang-kadang orang terdengar lebih rileks saat berbicara sambil berdiri. Yang jelas, jangan sambil berbaring di ranjang dan memeluk bantal.

Cari tahu siapa yang akan menelepon. Jika memungkinkan, cari tahu sebelumnya nama dan jabatan orang yang akan menelepon Anda. Jika ada beberapa orang yang akan mewawancara Anda dan Anda tidak dapat membedakan suara mereka, mintalah mereka untuk menyebutkan nama mereka saat pertama mereka berbicara.

Biarkan jika ada jeda di sela pembicaraan. Dalam kenyataannya, lebih baik untuk mengambil waktu sebentar untuk mencerna pertanyaan yang dilontarkan daripada langsung menjawab sebelum Anda berpikir apa yang harus dikatakan. Lagi pula, orang juga akan memerhatikan kepada orang lain yang tahu bagaimana mendengarkan.

 



Sumber: Working the New Economy
Editor :
Dini