Jumat, 25 April 2014
Yohannes Surya Gembleng Anak-anak Papua
Rabu, 30 September 2009 | 16:43 WIB
|
Share:
shutterstock

Ilustrasi: Anak-anak Papua itu kemudian diboyong oleh Yohannes ke Jakarta untuk mengikuti pembelajaran matematika secara intensif di Surya Institute. Selama sekitar 12 jam per hari, anak-anak itu tidak hanya mempelajari matematika, melainkan juga Bahasa Inggris, seni lukis dan musik.

JAKARTA, KOMPAS.com - Surya Institute mempersiapkan sejumlah siswa dari beberapa daerah di Provinsi Papua untuk mengikuti olimpiade sains atau matematika di tingkat nasional dan internasional. 

Profesor Yohanes Surya, pendiri lembaga tersebut, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pemerintah daerah, World Vision Internasional, serta Lembaga Nobel Indonesia.

"Kami ingin membuktikan, bahwa anak-anak Papua yang selama ini dianggap terbelakang dan sudah tidak bisa diapa-apakan itu, bisa melakukannya kalau dilatih. Mereka punya harapan," ujarnya di Jakarta, Rabu (30/9).

Selama melakukan perjalanan dalam rangka memperkenalkan metode pembelajaran matematika "gasing" yang di kembangkannya, Yohannes secara acak memilih masing-masing lima siswa kelas tiga sampai enam Sekolah Dasar dari Kabupaten Tolikara, Wamena dan Lanijaya di Papua.

"Kami tidak melakukan seleksi karena memang tidak bisa diseleksi. Semua anak di sana rata-rata tidak menguasai matematika, bahkan siswa SMA pun masih ada yang belum menguasai ilmu hitung pecahan," jelasnya.

Kemudian, lanjut Yohannes, anak-anak yang terpilih itu diboyongnya ke Jakarta untuk mengikuti pembelajaran matematika secara intensif di Surya Institute. Selama sekitar 12 jam per hari, anak-anak itu tidak hanya mempelajari matematika, melainkan juga Bahasa Inggris, seni lukis dan musik.

Saat ini, tiga anak dari Tolikara sudah menjalani latihan sekitar lima bulan. Mereka antara lain adalah  Wemi Jikwa (12), Ali Kogoya (12), serta Merlin Enjelin Rosalina Kogoya (9).