Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Bertetangga ala Si Batita
Kamis, 12 November 2009 | 19:46 WIB
|
Share:
Ajarkan anak bertatakrama saat bermain di rumah tetangga. Ini penting, agar keluarga tetangga tidak terganggu.

KOMPAS.com - Sekali-dua kali si kecil bermain bersama anak di rumah tetangga masih wajar, tapi kalau setiap hari? Tentu perasaan si tuan rumah juga mesti dipertimbangkan. Lantaran itu ada beberapa tatakrama bertetangga agar si kecil merasa senang namun si tuan rumah pun tidak merasa terganggu. Berikut di antaranya;

Waktu Berkunjung
Usahakan bertepatan dengan waktu santai atau waktu bermain si tetangga. Jika waktu bermainnya pukul 10.00 - 11.00 dan pukul 16.00 - 17.00, berkunjunglah di waktu-waktu tersebut.

Lama Kunjungan
Sebaiknya jangan terlalu lama, sekitar 30-60 menit. Waktu berkunjung yang terlalu lama dikhawatirkan akan mengganggu privasi si pemilik rumah.

Frekuensi Kunjungan
Sebaiknya diatur jangan sampai terlalu sering. Pagi datang, siang datang, sore datang lagi. Setiap hari melakukan itu sehingga si pemilik rumah akan merasa terganggu. Sesuaikan dengan kondisi, 3 kali seminggu, contohnya.

Hormati Aturan di Rumah Tersebut
Temani si kecil saat bermain di rumah tetangga. Di usia ini, anak masih tak mampu mengkontrol keinginannya. Ia bisa saja hilir mudik masuk ruangan-ruangan privasi dan membuatnya jadi berantakan.

Membereskan Kembali
Usai bermain, bantu si kecil membereskan kembali mainan milik temannya itu. Selain mengajarkan kedisiplinan kepada anak, si tuan rumah pun akan merasa terbantu dan merasa dihormati sehingga ia pun akan lebih menghargai kita.

Meminjam dan Memelihara Mainan
Bila anak ingin meminjam mainan si teman untuk dibawa ke rumah, mintalah izin terlebih dahulu. Jika memang tidak memungkinkan untuk dipinjam, berikan pengertian kepada si batita untuk tidak membawanya pulang. Memang agak sulit, memang, tapi dengan cara-cara tertentu biasanya kerewelan anak bisa diredam, misalnya dengan mengalihkan perhatian anak. Kalau memang diizinkan, bantu anak memelihara mainan itu jangan sampai rusak. Waktu peminjaman pun sebaiknya jangan terlalu lama. Jika terlalu lama, sang pemilik akan merasa kehilangan, si anak pun seolah-olah memiliki mainan tersebut.

(Irfan Hasuki/Tabloid Nakita)