Rabu, 27 Agustus 2014
Mengadili Pelaku KDRT
Sabtu, 30 Januari 2010 | 09:52 WIB
|
Share:
shutterstock

Jangan sampai kekerasan seperti ini terjadi pada diri Anda.

KOMPAS.com - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali berakhir tanpa penyelesaian. Kebanyakan perempuan yang menjadi korban, enggan mempermasalahkan lebih lanjut kasus ini. Penyebabnya macam-macam. Jika perempuan nekad pergi dari rumah, khawatir tak bisa bertemu kembali dengan anak. Jika ia tidak bekerja, bagaimana ia harus membiayai anak-anak bila diceraikan suaminya?

Karena itu, banyak perempuan enggan melaporkan kasus KDRT yang dialaminya. ''Budaya tabu dan takut juga masih dijunjung erat perempuan. Tak heran, mereka yang memiliki karier cemerlang dan tergolong perempuan yang mandiri juga terkadang masih takut dan bingung untuk menindak pelaku KDRT,'' tutur Rita Serena, Direktur Mitra Perempuan dalam diskusi Akses Korban KDRT terhadap Pelayanan Kesehatan di Kantor Yayasan Kesehatan Perempuan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Memang akan sulit membuat pelaku KDRT mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, apalagi ketika sudah berpisah pun, mereka cenderung masih akan menteror korbannya. Namun tak ada salahnya Anda mencoba. Rita memberikan enam langkah untuk menyeret dan mengadili pelaku kekerasan dalam rumah tangga.

1. Cari tahu apakah Anda termasuk korban KDRT. Jika Anda mengalami:
* Kekerasan fisik: menderita luka, cacat, sakit, akibat pukulan dan kejahatan fisik lainnya.
* Kekerasan psikis: trauma psikologis, ketakutan, dan terancam.
* Kekerasan seksual: berakibat kerusakan organ reproduksi, penularan penyakit infeksi menular seksual.
* Penelantaran atau kekerasan ekonomi: tidak mendapatkan hak menurut hukum. Pelaku mempunyai hubungan keluarga, perkawinan, pekerjaan, dan menetap dalam rumah tangga bersama dengan korban.

2. Melaporkan ke polisi
* Dapat dilaporkan oleh korban langsung, atau kuasa dan saksi.
* Lapor ke kantor polisi (unit pelayanan perempuan dan anak).
* Berita acara pemeriksaan (BAP) akan diserahkan pada kejaksaan negeri setempat.
* Korban mendapatkan perlindungan sementara (1x24 jam).
* Korban akan mendapatkan akses pendampingan dan pelayanan pemulihan.

3. Dakwaan dan tuntutan pidana oleh Jaksa Penuntut Umum
* Jaksa mendakwa pelaku KDRT di sidang pengadilan (menghadirkan saksi, korban, dan bukti-bukti).
* Tuntutan pidana diajukan jaksa.
* Korban didampingi advokat.

4. Putusan sidang pidana di pengadilan
* Hakim memeriksa tuntutan pidana yang diajukan jaksa.
* Pelaku pidana mendapatkan hukuman (pidana penjara dan denda).

5. Permohonan penetapan perlindungan dari pengadilan
* Permohonan pada pengadilan untuk melindungi korban, keluarga, dan saksi.
* Membatasi gerak-gerik pelaku dan keluarga pelaku.

6. Bantuan dan pemulihan keluarga
* Bantuan hukum dan pemulihan korban sejak laporan hingga putusan pengadilan.
* Konseling oleh konselor, psikolog, dan pekerja sosial.
* Bimbingan rohani.
* Bantuan pengobatan dan pemeriksaan medis.

 


Penulis :
Golda
Editor :
din
BERITA LAIN: