
KOMPAS.com - Semua orang dihinggapi sindrom ingin tampil. Begitulah psikolog Ratih Ibrahim melihat masyarakat Indonesia yang hidup di era reality show seperti sekarang ini.
”Dulu tidak ada medianya. Sekarang banyak. Tidak hanya koran, tapi juga televisi. Sekali tampil langsung dapat perhatian. Reward-nya bertubi-tubi. Lantas, orang akan berpikir, ’kalau orang bisa, gue juga bisa’. Teatrikal banget deh,” ujar pemilik lembaga konsultasi psikologi Personal Growth ini.
Inilah yang bisa menjelaskan mengapa orang-orang dari pelosok kampung hingga politisi di Jakarta berlomba-lomba ingin tampil di televisi dan terkenal.
Apa yang mendorong orang ingin terkenal? ”Popularitas, uang, kekuasaan, perhatian, jaringan, dan masih banyak lagi,” jawabnya cepat.
Dengan tampil di televisi, orang yang tadinya bukan siapa-siapa, tiba-tiba jadi someone. ”Kalau enggak (tampil), who are you? Orang sangat menikmati (jadi terkenal) dan mereka rela ’berantem’ untuk masuk televisi,” tambahnya.
Ratih tahu benar hal itu sebab dia pernah menjadi psikolog yang mendampingi peserta acara Indonesian Idol 1, 2, 3, dan 4 yang digelar berturut-turut dari tahun 2004 sampai 2007. Dari acara itu, dia jelas melihat bagaimana sindrom ingin terkenal diidap para peserta.
Sindrom ini sebagian memang sengaja dibentuk industri. Peserta Indonesian Idol, misalnya, sejak awal disuruh bermimpi setinggi langit, kemudian didorong memperjuangkan mimpi mereka sampai titik darah penghabisan. ”Dari sini, mereka mulai melihat fatamorgana. Mereka merasa jadi diva. Lebih diva dari diva sebenarnya,” ujar Ratih.
Kondisi ini, lanjut Ratih, berpotensi menimbulkan stres. Karena itulah, dia dan timnya ditugaskan memberikan konseling, terapi, dan memodifikasi perilaku peserta.
”Ini bukan pekerjaan mudah. Peserta dari berbagai daerah termasuk dari ujung kampung di Manado sana. Mereka mengalami gegar budaya yang dahsyat. Tadinya bukan siapa-siapa, tiba-tiba jadi sorotan dan didandanin habis-habisan sampai shock lihat muka sendiri. Mereka harus belajar cara makan, duduk, jongkok, sampai menjawab pertanyaan wartawan,” kata Ratih yang biasa menyebut para peserta sebagai ”anak-anakku”.
Ketika kompetisi ini berjalan, mereka mendapat tekanan yang luar biasa besar dari keluarga, pengelola acara, dan media. ”Mereka dituntut tampil bagus setiap saat. Meski capek dan sedih, mereka harus tetap tersenyum. Akhirnya senyumnya miring dan besoknya jadi bulan-bulanan media. Kalau diam dibilang sombong, kalau lincah dibilang kecimpringan,” katanya.
”Kalau ada yang bilang mereka ecek-ecek, itu enggak benar. Mereka benar-benar fight. Saya bangga pada mereka,” kata Ratih.
(Budi Suwarna/Myrna Ratna)
