Sabtu, 25 Oktober 2014
Butik Rajutan, Memaksimalkan Benang Limbah
Rabu, 10 Februari 2010 | 12:03 WIB
|
Share:
istimewa/esti

Warna-warna desain rajutan Esti terinspirasi dari warna alam.

KOMPAS.com - Dari mengolah benang wol atau benang rajut yang merupakan limbah dari pabrik, Esti Siti Amanah Gandana berhasil membuat berbagai karya rajutan. Ia berhasil memproduksi berbagai pernik keperluan wanita seperti tas, sepatu, dompet, ponco, rompi, kebaya, dan masih banyak lagi. Sebuah butik khusus karya rajut, ESA Knit Art, dibukanya di kawasan Sersan Bajuri, Bandung.

Semua rajutan ini dibuat handmade. Item seperti rompi, syal, dan tas, umumnya menggunakan pola yang simpel, dengan warna-warna yang cerah. Harganya pun cukup terjangkau, yakni Rp 50.000 - Rp 150.000 untuk rompi, Rp 30.000 - Rp 80.000 untuk syal, dan Rp 80.000 - Rp 200.000 untuk tas.

Namun produk rajutan Esti yang paling diminati pelanggan adalah kebaya. Tergantung dari desain dan tingkat kesulitannya, kebaya Esti dihargai antara Rp 500.000 hingga Rp 5.000.000. Sedangkan bila pelanggan memesan kebaya dengan desain sendiri, harganya bisa mencapai Rp 10.000.000. Esti butuh waktu seminggu hingga sebulan untuk menyelesaikan kebaya tersebut, tergantung tingkat kesulitannya tadi.

Seiring dengan banyaknya permintaan, perempuan berusia 26 tahun ini sekarang mengembangkan koleksinya ke pangsa pasar remaja dan dewasa muda. Karena itu Esti mulai melirik desain yang lebih simpel dan chic.

Salah satu contohnya adalah kebaya untuk remaja. Desain kebaya yang ia tampilkan tidak melulu memiliki corak atau warna yang beragam. Warna-warna cerah khas anak muda mendominasi rancangan kebayanya. Kebaya remaja ini memang masih berupa rancangan. Namun karena pelanggan sudah tak sabar, tak jarang mereka memesan kebaya khusus untuk mereka.

''Untuk kebaya semua tergantung dari si pemesan. Kalau polanya rumit dan warnanya banyak, maka perlu benang yang bervariasi. Semakin mahal pula harganya,'' tutur perempuan yang kini mempekerjakan enam karyawan ini.

 

Esti mengaku tidak kehabisan ide, karena ide menurutnya bisa didapat dari alam. ''Saya suka sekali fotografi, dan punya hobi hunting foto. Jadi sebagian besar desain saya terinspirasi dari foto-foto alam dengan warna yang cenderung natural,'' imbuhnya. Selain itu tekstur dan polanya juga terlihat lebih hidup.

Meskipun demikian, karena semua produk rajutan ini dikerjakan dengan tangan, Esti berusaha membatasi produksinya. Jika sudah merasa kewalahan, ia tidak mau menerima pesanan lagi. Lagipula, ia ingin mengutamakan kualitas produknya. Omzet-nya dalam sebulan kini sebesar Rp 10 - 15 juta, tentu setelah dipotong biaya operasional.

Membuka workshop

Untuk mendapatkan benang-benang itu Esti bersama dengan beberapa pegawainya berburu ke pabrik-pabrik, sentra industri tekstil, tenun, dan rajut. Selain itu ia juga mendapatkan kain perca dari tukang jahit untuk diubah menjadi benang. Semua itu ia peroleh dari Jawa Barat hingga Jawa Timur.

Kejelian Esti memilih benang limbah, alias benang yang sudah tak terpakai, membuahkan keuntungan khusus untuk bisnisnya. Benang-benang tersebut bisa diperolehnya dengan harga yang murah. Hal ini tentu mampu menekan biaya produksinya.

''Karena benang ini benang limbah, harganya berkisar Rp 2.500 hingga 5.000 per kg,'' jelasnya. Padahal, benang yang baru bisa berharga Rp 50.000 per kg, tergantung jenis benangnya.

Sebagian benang juga ia bikin sendiri untuk menghasilkan efek atau aksen tertentu jika dirajut, kemudian diolah dengan alat sederhana.

Esti belajar merajut dari tetangganya sejak di SMP. Menginjak bangku SMA, ia sudah menguasai teknik dasar merajut manual. Lulus SMA, ia memilih kuliah di jurusan Kriya Tekstil Institut Teknologi Bandung. Di situ ia memperdalam kemampuan merajutnya, tetapi lebih ke komposisi secara manual. Sambil kuliah, ia juga belajar di STP Tekstil, dimana ia mendalami rajutan secara mesin.

Lulus kuliah, sekitar tahun 2006, Esti mulai berani menjual karya rajutannya. Namun saat itu ia masih menawarkan ke teman-teman atau tetangganya. Baru pada pertengahan 2008 ia membuka workshop rajut di dekat rumahnya. Tahun lalu, setelah bisnisnya mulai dilirik orang, Esti membuka showroom atau butik ESA Knit Art. Bila dulu produk rajutnya langsung dijual setelah selesai dibuat, di butik ini Esti bisa memajang karyanya.


Penulis :
Golda
Editor :
din
BERITA LAIN: