Rabu, 1 Oktober 2014
Profil Usaha
Eksotisme Tas Kulit Ular
Senin, 5 April 2010 | 08:05 WIB
|
Share:
KOMPAS/IRMA TAMBUNAN

Tina Sofa

Irma Tambunan

KOMPAS.com — Ular merupakan reptil yang menakutkan bagi sebagian orang. Namun, di mata Tina Sofa (37), ular justru memiliki nilai estetis dan ekonomis. Setelah diolah menjadi aksesori, kulit ular terlihat eksotis dan menggiurkan untuk dimiliki. Tina sebelumnya berkarier sebagai pegawai swasta selama tujuh tahun.

Awal tahun lalu, seorang penangkap ular datang ke rumahnya untuk meminjam uang. Tebersit rasa iba, ia pun memberikan sejumlah uang sekaligus menanyakan tentang pekerjaan orang tersebut. Dari situlah muncul ketertarikan terhadap ular.

Ternyata, sangat mudah menemukan ular di persawahan, perkebunan sawit, ataupun hutan. Yang dapat ditangkap adalah yang tidak dilindungi, seperti ular sanca batik atau Python reticulatus. Jenis ular ini memiliki motif kulit yang eksotis berwarna kuning keemasan dan kuning kecoklatan, tetapi harga jualnya cukup tinggi.

Semula, Tina menjadi penampung ular dan kulit ular untuk dijual ke Jakarta. Belakangan, ia baru menyadari bahwa harga kulit ular yang dijual tersebut sangat tidak sebanding jika sudah diolah menjadi produk jadi.

Kalangan pengusaha di Jakarta dan Bali bisa menjual produk tas dan sepatu berbahan kulit ular dengan harga belasan hingga puluhan juta rupiah per buah.

Ia pun terdorong mencari cara untuk memanfaatkan kulit ular menjadi produk siap pakai. ”Saya langsung browsing internet tentang proses penyamakan hingga penjahitan tas dari bahan kulit reptil,” kenang pemilik usaha CV Mitra Kencana Makmur, yang telah terdaftar di Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, itu.

Menurut Tina, sangat sulit mendapatkan tenaga kerja yang mampu menyamak kulit reptil. Apalagi di Kota Jambi, tempat Tina tinggal sejak masa kecil, belum ada industri yang bergerak dalam bidang tersebut. Ia pun mendatangkan tenaga penyamak dari Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pada uji coba awal, hasil penyamakan ternyata tidak sebaik yang dikira. Kulit menjadi keras dan kaku. Tina begitu kecewa. Terlebih lagi, dua mesin jahit bekas yang dibelinya dari si tenaga penyamak tersebut ternyata rusak.

Namun, Tina tidak putus asa. Ia terus menjelajahi pusat-pusat industri penyamakan kulit. Di Karawang, Jawa Barat, ia mendapatkan seorang buruh penyamakan, yang kemudian diboyong ke Jambi.

Untuk mengolah kulit ular menjadi produk setengah jadi yang berkualitas baik, dibutuhkan proses penyamakan cukup panjang. ”Paling tidak, kami menggunakan sekitar 15 bahan kimia untuk kegiatan penyamakan. Prosesnya bisa berlangsung seminggu lamanya untuk menyamak setiap kulit,” ujar Tina.

Prosesnya memang cukup rumit. Untuk menghasilkan bahan kulit yang lentur, bersih, bebas lemak, dan tidak amis, dilakukan perendaman berulang-ulang dengan bahan kimia tertentu.

Setelah itu, kulit diwarnai sesuai dengan selera dan digilas mesin khusus untuk membuat kulit terlihat mengilap. Barulah kulit kemudian dijahit menjadi tas yang cantik dan terlihat eksotis.

Modifikasi dengan batik

Selain tas, Tina juga mengolah kulit ular dan biawak menjadi sepatu, dompet, sabuk, topi, sarung telepon seluler, dan tempat kartu nama. Di rumahnya, taplak meja Tina juga terbuat dari kulit ular.

Tina kemudian membuat tas kulit reptil yang dimodifikasi dengan batik khas jambi. Kini, ia berencana memadukan tas kulit dengan bahan rotan dan eceng gondok.

Usaha kerajinan kulit reptil ini baru delapan bulan dijalankan Tina dengan menggunakan merek TM (Tina Mitra). Usaha ini berkembang dengan cepat. Dalam sebulan, jumlah pesanan mencapai rata-rata 20 tas, belum termasuk dompet dan aksesori lainnya.

Sebagian besar pesanan datang dari kalangan wanita yang gemar berbelanja. Mereka memesan lewat internet dan ada juga yang datang langsung ke etalase tas kulit di rumahnya yang beralamat di Jalan Adityawarman, Thehok, Kota Jambi.

Menurut Amelia Masniari, penulis buku Miss Jinjing, Pantang Mati Gaya, tas hasil produksi Tina sangat rapi dan tidak kalah dengan tas-tas kulit ular yang diproduksi merek dunia, seperti Adriana Castro dan Bottega Veneta.

Padahal, produk-produk berkelas internasional tersebut dijual dengan harga di atas Rp 50 juta. Sementara Tina menjual tas kulitnya dengan harga paling mahal Rp 3 juta per buah.

Amelia pun selalu membawa Tina bersama tas-tas kulitnya, ikut roadshow peluncuran buku ketiganya tersebut ke sejumlah kota.

Produk tas kulit reptil Tina sangat eksklusif. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Batanghari ini hanya membuat satu unit untuk setiap jenis dan warna. Sebagian besar pembuatan tas didasarkan hasil pesanan.

Calon pembeli umumnya mencontoh desain produk dari luar negeri yang harganya puluhan juta itu. ”Ada yang kami buat dengan desain sendiri. Ada juga yang mereka kasih contohnya, lalu kami buatkan di sini. Hasilnya, mereka tetap puas karena kualitas bagus, tetapi harga jauh lebih murah,” ujar wanita yang memiliki tujuh karyawan di bengkel tas reptilnya itu.

Sejauh ini, ibu lima anak ini belum dapat memenuhi jumlah pesanan besar. Pasalnya, jumlah tenaga kerja yang memadai dalam bidang penyamakan dan penjahitan tas kulit sangat sulit didapatkan. Sementara proses pembuatan satu tas bisa memakan waktu dua hingga tiga pekan.


Editor :
Edj
BERITA LAIN: