Senin, 1 September 2014
Home / /
INFERTILITAS
Bayi Tabung Menjadi Solusi
Selasa, 4 Mei 2010 | 04:26 WIB
|
Share:

INDIRA PERMANASARI

Lebih dari lima tahun lamanya Elly (37) menikah dan mendambakan keturunan. Namun, buah hati yang dinantikan tak kunjung hadir. ”Saya mencoba segala cara, termasuk berbagai terapi tradisional. Tidak berhasil,” ujarnya di sela Temu Pasien Klinik Yasmin Kencana RSCM; Penanganan Gangguan Kesuburan pada Pasutri, pertengahan bulan lalu.

Elly dan suaminya lalu mencoba program bayi tabung di Klinik Yasmin, RSUPN Cipto Mangunkusumo. Sebagai perempuan, proses yang dijalani terbilang berat. Suntikan-suntikan obat penekan hormon, obat membesarkan sel telur, pengambilan sel telur, dan peletakan embrio ke dalam rahimnya. Proses peletakan embrio tersebut tanpa dibius.

”Setelah transfer embrio, sebetulnya sehari kemudian boleh beraktivitas, tetapi

saya tidak berani bergerak banyak tiga hari. Khawatir, embrionya keluar lagi,” ujarnya. Upaya itu berujung kabar gembira ketika dia dinyatakan hamil dan sembilan bulan kemudian lahir bayi perempuan.

Perjuangan berat mendapatkan keturunan juga dialami Titi. ”Saya sudah pasrah, tetapi suami mendukung agar terus mencoba. Kami coba bayi tabung dan berhasil,” ujarnya.

Mereka tidak sendiri. Sekitar 10 persen pasangan suami-istri mengalami infertilitas.

”Jumlah pasangan subur di Indonesia tahun 2009 sekitar 15 juta sehingga diperkirakan 1,5 juta hingga 2 juta pasangan mengalami infertilitas,” ujar Kepala Subunit Pelayanan Yasmin Kencana RSCM dr Budi Wiweko SpOG (K).

Kanadi Sumapraja, juga dari Klinik Yasmin Kencana, mengatakan, penyebab infertilitas antara lain gangguan pada sperma, sumbatan saluran telur, endometriosis, gangguan perkembangan sel telur, dan sebab yang tidak dapat dijelaskan. Jika berbagai penanganan terhadap gangguan reproduksi tidak berhasil, dapat dilakukan inseminasi (penyemprotan sperma ke dalam rahim).

Bayi tabung merupakan pilihan terakhir, kecuali untuk infertilitas karena faktor sperma yang sulit dikoreksi seperti azoospermia (semen tidak mengandung sperma) atau severe oligozoospermia (sperma terlalu sedikit). Persoalan lain ialah sumbatan di kedua saluran telur, endometriosis derajat sedang dan berat, serta faktor yang tidak dapat dijelaskan.

Proses bayi tabung

Teknik bayi tabung ialah teknik pembuahan sel telur yang dilakukan di luar tubuh. Sel telur diambil dari indung telur dan dibuahi dengan sperma suami yang sudah disiapkan di laboratorium. Metode bayi tabung dipelopori sejumlah dokter Inggris dan berhasil menghadirkan bayi tabung perempuan pertama, Louise Brown, tahun 1978.

Di Indonesia, teknik bayi tabung (in vitro fertilisation/IVF) pertama kali diterapkan di Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta, tahun 1987. Bayi tabung pertama Indonesia lahir 2 Mei 1988. Sejumlah rumah sakit lalu mengembangkan teknik tersebut, termasuk RSUPN Cipto Mangukusumo yang belakangan menyediakan layanan medis reproduksi satu atap, Klinik Yasmin.

Proses bayi tabung dimulai dengan pemeriksaan terhadap suami dan istri. Pemeriksaan mencakup kondisi hormon reproduksi, organ reproduksi, dan kemungkinan adanya infeksi virus atau penyakit lain seperti diabetes, gangguan fungsi hati, ginjal, dan kelenjar tiroid.

Setelah pemeriksaan, ovarium dirangsang agar menghasilkan banyak folikel yang mengandung sel telur dengan cara menyuntikkan obat stimulasi setiap hari selama 7-9 hari. Setelah folikel (tempat sel telur berkembang) berdiameter lebih dari 20 mm, dilakukan penyuntikan pematangan sel telur.

Sel telur yang matang lalu dikeluarkan. Folikel yang tampak di layar ultrasonografi (USG) ditusuk dengan jarum melalui vagina, kemudian dilakukan pengisapan. Saat pengambilan sel telur, tidak disarankan menggunakan make-up dan parfum karena dapat merusak kualitas sel telur.

Kepala Klinik Yasmin Kencana RSCM Andon Hestiantoro mengungkapkan, tengah dicoba memetik sel telur yang masih mentah, dikeluarkan, dan dimatangkan di luar. Cara itu dinilai lebih praktis dan

menekan biaya lantaran tidak perlu injeksi berulang guna menstimulasi pematangan sel telur. Teknik itu masih dalam percobaan.

Proses berikutnya ialah kultur embrio. Sel telur dan sel sperma disiapkan. Sel sperma diperoleh dengan

masturbasi. Kadang bisa juga dengan pencairan semen yang sudah dibekukan sebelumnya jika suami khawatir tidak bisa hadir. Budi Wiweko menjelaskan, kalau cairan semen tidak mengandung sperma, dilakukan biopsi testis, yakni mengambil sebagian kecil testis untuk dicari spermanya. Normalnya, konsentrasi sperma sekitar 20 juta per milimeter.

Teknik bayi tabung yang kini banyak diaplikasikan adalah IVF konvensional dan IVF-Intra Cytoplasmic Sperm Injection (ICSI) atau suntikan sperma intra sitoplasma. Pada IVF konvensional, satu sel telur dipertemukan dengan 50.000-100.000 sperma di dalam cawan petri dengan tujuan satu sperma yang baik masuk ke dalam satu sel telur agar terjadi pembuahan.

Adapun dengan teknik IVF- ICSI, satu sperma disuntikkan ke dalam satu sel telur dengan menggunakan pipet kecil supaya terjadi pembuahan. Terutama jika ada masalah pada sperma, misalnya sperma tidak dapat masuk ke dalam sel telur dengan kekuatannya sendiri atau jumlah sangat sedikit dan kualitasnya buruk.

Embrio yang terbentuk (stadium 4-8 sel) ditanamkan kembali ke rahim ibu, biasanya 2-3 embrio guna memperbesar peluang kehamilan. Terkadang semua embrio berkembang sehingga lahir bayi kembar. Embrio itu diharapkan tumbuh sebagaimana layaknya pembuahan alamiah. Keberhasilan bayi tabung di seluruh dunia saat ini adalah 30-35 persen, bergantung pada usia dan kondisi pasangan.

Budi Wiweko mengatakan, jika ada embrio tersisa, dapat disimpan. Di klinik itu ada fasilitas penyimpanan embrio. Embrio dibekukan dengan suhu minus 196 derajat celsius. Kalau pasangan ingin mempunyai anak lagi, embrio tinggal ditanamkan ke rahim ibu. Calon ibu tidak perlu lagi menghadapi proses pematangan dan pengambilan sel telur.

”Perempuan dan laki-laki yang mengonsumsi obat antikanker, misalnya, dapat mendepositkan sel sperma atau sel telur. Obat antikanker biasanya ikut merusak indung telur atau produksi sperma,” ujarnya.

Kini, anak Elly dan Titi tumbuh sehat seperti bayi lainnya. ”Bagi saya sama saja karena darah daging saya dan suami walaupun proses berbeda,” ujar Elly sambil tersenyum menggendong buah hatinya.


BERITA LAIN: