Rabu, 22 Oktober 2014
Home / /
INDUSTRI KREATIF
Manfaat Kain Tradisional
Senin, 5 Juli 2010 | 04:47 WIB
|
Share:
KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY

Perancang tekstil asal Inggris, Laura Miles, bersama perancang busana Oscar Lawalata dalam proyek bersama penenun kain ikat Nusa Tenggara Timur, awal Juni 2010.

Ninuk Mardiana Pambudy

Bukan kebetulan bila mode dunia sedang melirik tenun ikat. Perekonomian yang merosot di negara- negara kaya di Barat sejak tahun 2008 membuat orang merindukan suasana menyenangkan dari masa lalu; tentang segala hal yang bersentuhan dengan warisan dan kehangatan emosi.

Indonesia adalah negeri yang kaya dengan berbagai jenis kain tradisional, termasuk corak kain ikat. Tiap suku memiliki corak kain yang berkembang menurut lingkungan, adat, dan kepercayaan masing-masing. Begitu juga warna, berangkat dari bahan pewarna alam yang tersedia di tempat.

Maka, ketika industri mode yang digerakkan modal raksasa dengan merek mendunia, seperti Gucci, Bottega Veneta, dan Dries van Noten, mengambil corak ikat—dan juga batik—ke dalam produk mereka, pertanyaan yang menggelitik adalah bagaimana dengan para artisan seni kriya yang telah membuat tenun dan batik tradisional tetap ada sehingga memberi inspirasi dan membangkitkan nilai ekonomi begitu besar di tempat lain? Tidakkah mereka juga pantas mendapat manfaat dari munculnya kegiatan ekonomi bernilai jutaan dollar itu?

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Batik Indonesia setelah dinyatakan sebagai warisan dunia tak benda, artinya telah menjadi milik bersama dunia, meskipun untuk itu masyarakat dunia melalui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), berkewajiban membantu kelestarian seni batik, antara lain dengan membantu proses regenerasi. Lalu, ketika corak lereng dimanfaatkan Van Noten dalam desain busana untuk musim semi dan panas 2010, apakah para perajin di Jawa Tengah yang masih melestarikan corak tersebut perlu ikut mendapat manfaat ekonomi secara langsung?

Manfaat tak langsung adalah pengakuan internasional dan promosi yang menyertainya. Untuk mendapat manfaat dari situ, yang diperlukan adalah kemampuan mengubah warisan tradisional itu menjadi produk baru yang memiliki unsur kekayaan intelektual dan bernilai ekonomi.

Tradisi dan modern

Tradisi dan modern kerap dianggap tidak mungkin bertemu. Dalam proyek bersama desainer busana Oscar Lawalata dengan desainer tekstil asal Inggris, Laura Miles (36), dua hal itu tidak harus bertentangan.

Keduanya bertemu di London tahun lalu ketika Oscar mengikuti kompetisi Young International Fashion Entreprenuer Award yang diadakan British Council. Miles kemudian datang ke Jakarta dan Nusa Tenggara Timur awal Juni ini untuk mengerjakan proyek kain tenun ikat bersama para penenun di Melola di Sumba Timur, Keva di Timor Tengah Utara, dan Ende. Miles yang menyebut dirinya sebagai jembatan antara perancang busana dan penenun mengajak penenun menggunakan benang sutra, rami, dan benang katun yang ketebalannya dikurangi hingga separuh ketebalan biasa.

Mereka belum merencanakan langkah lebih lanjut kecuali melihat hasil proyek ini. Miles mengatakan, penting memperkenalkan karya para penenun ini ke dunia lebih luas, terutama karena mereka berhak mendapat pengakuan atas apa yang telah mereka lakukan.

Menurut Miles, yang belajar desain tekstil di University of Brighton, Inggris, berhubungan dengan dunia lebih luas tidak berarti mengubah kain tradisional menjadi barang komersial, terutama kain adat. Kain tersebut tetap dipertahankan, tetapi para perajin juga berhak memiliki pilihan untuk membuat kain yang dapat diterima masyarakat lebih luas. Artinya, warna dan jenis benangnya harus disesuaikan. ”Saya tak melihat masalah dalam corak, tetapi warna harus lebih lembut bila ditujukan untuk pasar Eropa dan benangnya tidak kaku dan tebal,” kata Miles di butik Oscar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dua pekan lalu.

Miles, yang kain hasil desainnya digunakan Burberry, Carolina Hererra, Isaac Mizrahi, Vera Wang, Basso & Brooke, Hussein Chalayan, dan digunakan oleh Thakoon untuk gaun Michelle Obama yang dipakai saat bertemu Carla Burni Sarkozy, sangat berhati-hati mempertimbangkan proyek bersama penenun NTT. ”Terutama karena komunitas penenun (di Keva) adalah 400-an janda, jadi saya tidak ingin proyek ini sesuatu yang hanya satu kali selesai. Harus berkelanjutan,” kata Miles.

Di sisi lain, mode di Barat, terutama warna, berubah tiap enam bulan sekali karena perubahan dari musim semi-panas ke musim gugur-dingin. Konsekuensinya, kain tenun itu akan lebih cocok untuk produk interior atau aksesori.

Dayak

Menenun dengan alat tenun bukan mesin atau alat tenun yang lebih sederhana lagi, yaitu tenun gendong, masih dipraktikkan di banyak tempat di Indonesia. Salah satunya oleh suku Dayak di Kalimantan. Dalam pameran seni tradisi suku Dayak dari Kalimantan Barat di Bentara Budaya Jakarta dua pekan lalu, sebagian kecil kain tenun itu dipamerkan bersama anyaman manik-manik.

Kain-kain itu umumnya memiliki corak pakis dan enggang yang dimiliki Dayak Iban, sementara di seluruh Kalimantan terdapat sekitar 400 subsuku Dayak. Masing-masing memiliki variasi corak sendiri meskipun tetap ada kesamaan dasar.

”Ciri kehidupan suku Iban adalah kepercayaan adanya alam bawah berupa tumbuhan, alam tengah berupa manusia, dan alam atas, yaitu roh dan dewa. Burung juga mewakili alam atas,” kata Thomas Ariston dari Komisi Penyiaran Indonesia Provinsi Kalimantan Barat yang mengamati seni suku Iban.

Menurut pendeta Edmund C Nantes OP dan pendeta Johannes Robini M OP dari Rumah Santo Dominikus yang ikut memprakarsai kegiatan ini, banyak corak lengkung pada karya seni suku Daya karena lengkung bersifat organis, seperti tubuh manusia, tubuh kehidupan. Clara Niken membuat kain bercorak tradisional itu ke dalam gaun malam dan kemeja laki-laki, memberi semakin banyak pilihan baju corak Indonesia.

Sayangnya tak tersedia dokumentasi tertulis cukup lengkap mengenai ragam hias dan makna kain suku Dayak. Menurut Niken, perpustakaan di Pontianak yang menyimpan naskah kain adat suku Dayak terbakar.

Sayangnya pula, terjadi salah kaprah meluas. Di tempat sama dipamerkan pula kain bermotif kain ikat tradisional yang berulang kali disebut batik, tetapi sebetulnya bukan dibuat dengan teknik rintang warna menggunakan lilin. Motif tersebut di-print, bahkan terlihat dari mereknya dibuat di Malaysia. ”Mungkin karena di Pontianak tidak ada industri tekstil dan membuatkan ke Jakarta ongkosnya lebih mahal,” kata Ariston.

Karena itu, tidak berlebihan apa yang disebutkan oleh Laura Miles, kelebihan kain tradisional terletak pada kekuatan pengerjaan memakai tangan. Karena itu, agar dapat dihargai, karya sebaiknya tak dapat ditiru oleh mesin.


BERITA LAIN: