Jumat, 28 November 2014
Kenali Perubahan Psikologis Ibu Hamil
Selasa, 6 Juli 2010 | 17:52 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Seks di akhir semester masih boleh dilakukan asalkan kondisi kehamilan kuat atau risiko rendah.

KOMPAS.com - Memasuki masa kehamilan sama dengan mengalami berbagai perubahan fisik maupun psikologis. Dengan mengenali berbagai perubahan pada ibu hamil (bumil), pasutri bisa lebih mempersiapkan kehamilan sehingga mampu menjalaninya dengan lebih menyenangkan.

Psikolog Dr Rose Mini AP, MPsi, mengatakan, dengan mendapatkan informasi yang tepat seputar kehamilan, pasutri akan lebih siap menghadapi berbagai perubahan. Entah informasi itu didapat dari konsultasi dengan dokter, pengalaman orangtua, saudara, maupun teman-teman.

Pada trimester pertama, biasanya istri akan mengalami ngidam yang kadang berlebihan dan sekadar meminta perhatian suami. Sebaiknya tanyakan kepada dokter apakah ada kekurangan dalam tubuh bumil. Sedangkan pada trimester kedua bentuk tubuh bumil mulai berubah, diikuti dengan perubahan posisi tidur, hingga pola hubungan seks pasutri. Jika bumil stres dengan kondisinya, sebaiknya konsultasikan kepada psikolog untuk mencari bantuan.

"Lain lagi pada trisemester ketiga. Bumil akan ngidam pada bulan terakhir, ditambah munculnya ketakutan akan fisik anak, misalnya apakah jarinya lengkap, atau ketakutan atas kondisi ibunya, misalnya meninggal (saat melahirkan). Akibatnya bumil cenderung moody," papar psikolog yang akrab disapa Romi ini, dalam seminar diadakan oleh Lactamil beberapa waktu lalu.

Lebih detailnya, berikut kondisi psikologis bumil yang umum dialami, dan sebaiknya pasutri mempersiapkan secara psikis menjelang kehamilan:

Trimester pertama
* Bumil mengalami kondisi psikis campur-aduk, antara cemas, bahagia, dan ragu dengan kehamilannya. Ia mengetahui kemunculan tanda kehamilan, namun masih ragu apakah positif hamil atau tidak.
* Bumil mengalami fluktuasi emosi, risikonya akan muncul pertengkaran atau rasa tidak nyaman. Dengan komunikasi yang baik, pasutri bisa menyiapkan kondisi ini berjalan lebih baik.
* Bumil mengalami perubahan hormonal, yang akan juga mempengaruhi psikis perempuan.
* Bumil mengalami morning sickness, jadi perempuan membutuhkan dukungan suami untuk menjalani kondisi yang juga akan berpengaruh pada psikis perempuan.

Trimester kedua
* Bumil mulai lebih tenang dan bisa beradaptasi dengan perubahan kondisi dan kehamilannya.
* Bentuk tubuh mulai berubah. Untuk ibu yang fokus pada penampilannya, kondisi ini bisa mempengaruhi psikis dan emosinya. Perubahan bentuk tubuh juga mempengaruhi kehidupan seksual, karena itu pasutri perlu melakukan penyesuaian agar hubungan seks menyenangkan bagi keduanya. Hubungan ibu dengan bayi juga mulai terjalin pada masa ini. Mengajak janin bicara atau mendengarkan musik misalnya, bisa membangun hubungan lebih dekat, dan mempengaruhi bumil agar lebih nyaman dengan kehamilannya.
* Bumil akan mulai melihat dan meniru peran ibu, karena kebutuhannya akan figur ibu semakin kuat.
* Bumil akan semakin bergantung kepada pasangannya.

Trimester ketiga
* Kehamilan semakin membesar, begitupun dengan stres pada bumil. Seringkali kondisi ini membuat bumil bermasalah dengan posisi tidur yang kurang nyaman, sehingga bumil mudah terserang lelah.
* Emosi bumil juga kembali fluktuatif. Kali ini bumil lebih membayangkan risiko kehamilan dan proses persalinan. Rasa takut mulai muncul, bukan hanya ketakutan atas risiko kondisi bayi namun juga keselamatan bumil untuk melewati proses persalinan.

"Bumil perlu release dan berserah agar lebih tenang menjelang proses persalinan. Sebab dalam beberapa hal ada yang sifatnya genetik, sehingga tidak bisa dikendalikan," tandas Romi. 


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
din
BERITA LAIN: