Sabtu, 1 November 2014
Ibu Rumah Tangga dalam Industri Kreatif
Senin, 12 Juli 2010 | 13:47 WIB
|
Share:
KOMPAS/LUSIANA INDRIASARI/PRIYOMBODO

Clara Ng (kiri), dan Sitta Karina Rachmidiharja.

KOMPAS.com - Clara Ng (37), penulis yang populer dengan novel Tujuh Musim Setahun (Dewata Publishing, 2002), terang-terangan mengaku menulis novel adalah pekerjaan kedua. "Pekerjaan utama saya adalah mengurus anak," tutur ibu dari Elysa (8) dan Cathy (4) ini saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Selasa (6/7/2010) lalu.

Padahal, produktivitas Clara sebagai penulis tak perlu diragukan lagi. Sejak menulis Tujuh Musim Setahun pada tahun 2000, hingga kini ia telah menulis dan menerbitkan tak kurang dari 11 novel dan 29 buku cerita anak-anak.

Senada dengan Clara, penulis Sitta Karina Rachmidiharja (29) mengatakan lebih ingin dikenal sebagai ibu rumah tangga daripada penulis atau selebriti apa pun. "Karena saya memang ibu rumah tangga dan tidak pernah ingin jadi selebriti. Lebih enak begini, punya privasi dan kebebasan," kata Sitta di rumahnya di kawasan Kreo, Tangerang, Banten.

Sitta mulai dikenal sejak menerbitkan novel pertamanya, Lukisan Hujan, pada tahun 2004, dan sejak itu sudah menulis 15 novel. Novel Lukisan Hujan sendiri, yang diterbitkan penerbit Terrant Books itu, laku keras dan cetak ulang hingga lima kali.

Keluar dari pekerjaan
Awalnya, Sitta sempat beberapa kali pindah kerja, mulai dari Citibank, perusahaan konsultan manajemen Accenture, hingga menjadi konsultan di PT Freeport Indonesia. Namun, sejak 2005 ia memilih keluar dari pekerjaan dan menjadi penulis freelance. "Sebagai istri, saya ini sangat old fashioned. Bagi saya, tugas utama istri, ya, mengurus rumah dan anak-anak," ungkap alumnus jurusan Teknik Industri, Universitas Trisakti, Jakarta, ini.

Keluar dari kerja kantoran untuk menekuni kegiatan menulis juga dilakukan Ratih Kumala (29). Ia sebenarnya sudah ingin menulis novelnya sejak lama, tetapi baru tahun 2002 ia memutuskan keluar dari pekerjaannya dan merampungkan novel pertama berjudul Tabula Rasa (Grasindo, 2004).

Hasilnya tak sia-sia, novel itu terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2004. "Sejak itu, saya menekuni pekerjaan jadi penulis lepas," kata alumnus jurusan Sastra Inggris, Universitas Sebelas Maret, Solo, ini.

Menulis sendiri bagi Sitta adalah sebuah kegemaran lama. Sejak usia delapan tahun, Sitta sudah gemar mengarang cerita. Inspirasinya ia dapat dari kakeknya, almarhum Mara Karma, seniman dan penulis seangkatan Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.

Sementara bagi Clara, menulis sudah menjadi kebutuhan. Dalam blog-nya, Clara mengaku menulis karena usia ini singkat dan begitu banyak yang harus diungkapkan. "Ada kebutuhan untuk berbagi isi kepala saya kepada orang lain," kata lulusan jurusan Komunikasi Interpersonal di Ohio State University, Amerika Serikat, itu.

Clara juga sempat bekerja di sebuah perusahaan perkapalan di Jakarta sepulang dari AS. Namun, ia memutuskan keluar setelah tiga tahun karena sempat mengalami keguguran kandungan hingga dua kali. Setelah berhenti bekerja itulah, ia punya waktu untuk menekuni kembali hobi menulisnya.

Film dan sinetron
Menurut Sitta, tawaran untuk mengangkat novel-novelnya menjadi film sudah datang silih berganti, tetapi ia selalu menolak. Alasannya, kualitas sebagian besar aktor di Indonesia belum sesuai harapannya, dan jika dipaksakan, justru bisa merusak karakter-karakter dalam novelnya.

Sementara Clara mengaku belum mau menerima tawaran menulis skenario untuk sinetron dengan alasan kebebasan berkarya. "Kalau menulis skenario, saya harus memenuhi tenggat waktu yang ketat, padahal saya lebih mementingkan keluarga," tuturnya.

Berbeda dengan dua penulis tersebut, Ratih justru memutuskan mencoba dunia baru untuk penulisan tersebut. Awal Mei lalu, Ratih terlibat sebagai penulis skenario teater musikal berjudul "Doel: Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik". Pentas, yang diselenggarakan Ikatan Abang None Jakarta bekerja sama dengan Teater Peqho, itu digelar di Gedung Kesenian Jakarta, 14-15 Mei.

Ratih juga setiap hari berkecimpung dalam dunia skenario  sinetron karena posisinya sebagai editor naskah cerita drama di Divisi Drama TransTV. Dua tahun lalu Ratih memang memutuskan memasuki dunia kerja lagi.

"Jadi penulis freelance itu sangat enak. Bisa kerja di rumah, tidak ada jam kerja. Tetapi, lama-lama jenuh juga. Saya merasa perlu mendisiplinkan diri karena lama-lama hidup saya mulai ngaco," ungkapnya.

Menurut dia, seorang penulis harus membuat jenjang kariernya sendiri. "Setelah menulis untuk media dan buku sudah khatam, saya harus naik kelas. Bekerja di TV dan menulis naskah teater ini adalah naik kelas saya," tandas istri penulis novel Eka Kurniawan ini.

(Dahono Fitrianto/Lusiana Indriasari)

 


Editor :
din
BERITA LAIN: