Minggu, 21 Desember 2014
Tiru Cara Makan Orang Jepang
Selasa, 27 Juli 2010 | 07:24 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Setiap sajian, porsinya sedikit dan habis dalam satu kali lahap saja.

KOMPAS.com — Pemenang Soyjoy Healthylicious, Yuliana Tan dan Sri Primadika Agustina, belum lama ini berlibur ke Jepang sebagai hadiah utama dari kompetisi gaya hidup sehat produk tersebut. Pesan apa yang ia bawa dari Negeri Sakura yang dikenal disiplin menerapkan pola hidup sehat itu? Yuliana Tan (31) berbagi pengalamannya kepada Kompas Female saat bertemu di Jakarta, Senin (26/7/2010).

Tubuh langsing yang dimiliki perempuan atau lelaki Jepang, menurut pengamatan Yuliana, ternyata bukan hanya didapatkan dari kebiasaan berjalan kaki. Pola makan mereka setiap hari ditambah karakter makanan Jepang yang dikenal sarat kesegaran dan cenderung mentah, seperti sushi, juga sangat menentukan. Tentu saja pola hidup sehat ini tetap diimbangi dengan olahraga.

"Selama lima hari di Jepang, kami jarang makan makanan cepat saji. Setiap jam makan datang, porsi dan menunya lengkap, mulai makanan pembuka, makanan utama, hingga penutup. Karbohidrat bahkan disajikan menjelang makanan penutup, saat perut sudah mulai kenyang. Tak seperti kebiasaan makan di Indonesia, di mana nasi disajikan sejak awal makan," papar Yuliana, menceritakan pengalamannya selama berkunjung ke Jepang pada 29 Juni-4 Juli 2010.

Yuli mengatakan, setiap sajian, porsinya sedikit dan habis dalam satu kali lahap saja. Misalnya, makanan pembukanya berupa beberapa potong ikan matang dengan sayuran. Lalu makanan utamanya seperti steak atau pilihan nasi dan mi, dan penutup berupa buah atau es krim. Pola dan porsi menu ini baik untuk tubuh karena, saat lapar, perut tidak langsung dipenuhi makanan berat. Usus dibiarkan mencerna perlahan makanan dalam porsi kecil, bertahap hingga agak berat.

"Dari cara ini, kami belajar makan pelan-pelan, dan gula darah pun naik perlahan tidak langsung berubah drastis. Karbohidrat pun disajikan saat perut sudah mulai kenyang sehingga konsumsinya tidak terlalu banyak," ungkap perempuan yang mengaku bermasalah dengan berat badan ini.

Sebelum mengikuti kompetisi yang ingin memberikan inspirasi hidup sehat ini, Yuli sudah mengatur pola makan agar bisa menurunkan beratnya. Maklum, saat itu, sales manager salah satu stasiun televisi swasta ini tengah mempersiapkan pernikahan. Namun, cara yang dicarinya sendiri tak mampu memberikan solusi. Sampai akhirnya Yuli mendapatkan pencerahan dari rangkaian kegiatan kompetisi Soyjoy selama tiga bulan lamanya.

Dari pengalamannya selama di Jepang, Yuli mengaku, makanan segar menjadi faktor lain yang memengaruhi perubahan dalam dirinya. Ikan yang segar dan hanya dimasak saat akan dimakan, ataupun makanan mentah yang ternyata tak seperti dibayangkan sebelumnya, membuat selera makan Yuli berubah.

"Tadinya saya tidak suka makanan mentah karena mengira baunya amis. Namun, cara memasak di Jepang membuat makanan mentah segar tetapi tetap enak dimakan. Dari 10 makanan segar (mentah), hanya tiga yang tak bisa saya makan," ungkap Yuli.

Meski mendapatkan pengalaman dan gaya hidup berbeda di Jepang (khususnya soal pola makan), Yuli mengaku sulit menerapkannya di Jakarta. Cara memasak dan akses untuk mendapatkan makanan segar di Jakarta agak sulit. Di Jepang, kata Yuli, dalam jajanan yang harganya lebih murah, pola makannya sama. Makanan selalu dimulai dari porsi kecil dan bertahap sehingga aman untuk gula darah dan pencernaan.

Cara makan sehat ala Jepang ini dirasa Yuli sesuai kelas nutrisi yang diperoleh dalam kompetisi Soyjoy. Selama dua jam, saat masih menjalankan kompetisi, para finalis mendapatkan pengetahuan seputar nutrisi yang biasanya diberikan dalam satu semester. Pesan penting yang direkam Yuli adalah memilih dan memilah jenis makanan dengan prioritas mengandung banyak serat, mengatur variasi makanan dan pola makan, serta hanya mengonsumsi makanan segar yang tidak diproses dalam waktu lama.

"Makanan yang menjalani proses pembuatan lama mengurangi kandungan gizi dan hanya akan menimbun lemak jika digoreng dalam waktu lama," kata Yuli, yang mengaku berat badannya mulai turun dari 68 kilogram (sebelum mengikuti kompetisi) ke 63 kilogram saat ini. Targetnya, ingin menurunkan lima kilogram lagi. Rasanya, hal itu mungkin saja dicapai dengan kebiasaan Yuli yang mulai berubah ditambah kesadaran untuk lebih menjaga pola makannya.

Tertarik menerapkan pengalaman Yuli untuk diri sendiri?


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Dini
BERITA LAIN: