Kamis, 27 November 2014
3 Cara Mencegah "Human Trafficking"
Kamis, 29 Juli 2010 | 09:45 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Penyebab utama dari adanya perdagangan anak dan perempuan ini adalah tingkat pendidikan yang rendah.

KOMPAS.com — Masalah perdagangan manusia (human trafficking) sudah lama terjadi. Namun, apakah orang sudah menyadari adanya isu tersebut? Apa yang sudah dilakukan masyarakat, dengan dukungan pemerintah, untuk menghentikannya?

"Ini merupakan isu yang harus disosialisasikan. Sebab, tidak banyak orang mengetahui dan menyadari adanya masalah ini," kata Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, aktivis Islam dan politisi Indonesia, pada sosialisasi kampanye "Stop The Trafficking of Children & Young People" di Hongkong Cafe, Jakarta, Rabu (28/7/2010) kemarin.

Ada beberapa hal yang dapat dikategorikan sebagai perdagangan manusia, seperti bekerja tanpa dibayar, dan yang paling populer adalah eksploitasi seksual. Biasanya anak atau perempuan dijanjikan pekerjaan tertentu, tetapi akhirnya mereka malah dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial. Penculikan anak melalui situs jejaring sosial yang terjadi akhir-akhir ini juga bisa memicu perdagangan anak. Oleh karena itu, perkembangan teknologi seharusnya diiringi dengan pemahaman yang cukup mengenai baik-buruknya.

Melihat fakta semacam itu, tidak mengherankan bila Prof Irwanto, Ketua ECPAT Affiliate Group of Indonesia, mengatakan bahwa penyebab utama dari adanya perdagangan anak dan perempuan ini adalah tingkat pendidikan yang rendah. Di Indonesia, pendidikan yang cenderung rendah membuat anak susah untuk mengatakan "tidak". Orangtua yang berpendidikan rendah, ditambah dengan desakan ekonomi, membuat mereka bersedia melakukan apa saja untuk meningkatkan taraf hidupnya. Termasuk, "menjual" anak mereka sendiri.

Untuk menanggulangi masalah perdagangan anak dan perempuan ini, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
1. Memberi pengetahuan
Untuk dapat mencegah masalah ini, perlu diadakan penyuluhan dan sosialisasi masalah kepada masyarakat. Dengan sosialisasi secara terus-menerus, masyarakat akan mengetahui bahayanya masalah ini, dan bagaimana solusinya.  

Pendidikan tentu saja tidak hanya diberikan kepada masyarakat menengah atas. Yang paling penting adalah masyarakat kelas bawah. Mengapa? Karena perdagangan manusia banyak terjadi pada masyarakat dengan kelas pendidikan yang cukup rendah. Pendidikan harus diberikan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh semua lapisan masyarakat.

2. Memberitahu orang lain
Ketika kita telah mengetahui masalah ini dan bagaimana solusinya, tetapi tidak memberitahu orang lain, permasalahan ini tidak akan selesai. Sebagai orang yang telah mengetahuinya, maka menjadi kewajiban Anda untuk menyampaikan apa yang terjadi pada orang lain, khususnya yang Anda anggap berpotensi mengalami perdagangan manusia. Sebab, orang yang tidak mengetahui adanya permasalahan ini tidak menyadari bahwa hal ini mungkin telah terjadi pada orang-orang di sekitar kita.

3. Berperan aktif untuk mencegah
Setelah mengetahui dan mencoba memberitahu orang lain, Anda juga dapat berperan aktif untuk menanggulangi permasalahan ini. Berperan aktif tersebut dapat dilakukan dengan cara melaporkan kasus yang Anda ketahui kepada yang berwajib. Anda juga bisa mengarahkan anak, keponakan, atau anak muda lain yang gemar beraktivitas di situs jejaring sosial untuk lebih berhati-hati dalam berteman, misalnya. Yang Anda lakukan mungkin hanya sesuatu yang kecil, tetapi bila semua orang tergerak untuk turut melakukannya, bukan tak mungkin masalah yang berkepanjangan ini akan teratasi.

Jika Anda melihat sesuatu yang mencurigakan atau Anda sendiri menjadi korban dan memerlukan bantuan atau nasihat, segera hubungi:

* Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ECPAT Affiliated in Indonesia), Telp: (061) 820 0170, Faks: (061) 821 3009.

* Komisi Nasional Perlindungan Anak, Telp: (021) 8779 1818.

* Mabes Polri, Secretary at the National Central Bureau of INTERPOL, Jalan Trunojoyo 3, Kebayoran Baru, Jakarta. Telp: (021) 721 8098/739 3650, Faks: (021) 720 1402.


Penulis :
Paramitha Devi
Editor :
din
BERITA LAIN: