Kamis, 24 Juli 2014
"Gentle Birth", Menghadapi Persalinan dengan Tenang
Senin, 9 Agustus 2010 | 08:47 WIB
|
Share:
KOLEKSI PRIBADI

Kai Matari Bejo Kaler, anak Oppie Andaresta, lahir di Klinik Bumi Sehat, Desa Nyuh Kuning, Ubud, Bali, 20 Juli 2007, dengan bidan ibu Robin Lim.

KOMPAS.com - Teknologi kedokteran untuk menolong persalinan semakin canggih. Namun, sebagian perempuan justru memilih persalinan dengan cara sealamiah mungkin. Meski tetap berkonsultasi dengan dokter atau bidan, tetapi mereka meminimalkan segala bentuk intervensi medis sejak masa kehamilan.

Melahirkan dengan cara normal adalah proses alamiah bagi seorang perempuan. Meski begitu, proses alamiah itu kerap dilihat dengan sudut pandang negatif.

”Setiap proses persalinan selalu melibatkan rasa sakit. Yang perlu dilakukan adalah mengubah persepsi untuk menyikapi rasa nyeri tersebut,” kata dr Hariyasa Sanjaya, penggagas Bali Water Birth Association (BWBA), Senin (2/8) di Denpasar, Bali. Agar bisa melahirkan dengan tenang, sebagian perempuan memilih melahirkan dengan metode gentle birth.

Beberapa hal yang diajarkan dalam gentle birth adalah mengelola stres selama masa kehamilan dan menghadapi persalinan. Selain itu, gentle birth juga menganjurkan persalinan di dalam air untuk mengurangi trauma kelahiran pada bayi.

”Namun, persalinan normal di dalam air hanya boleh dilakukan untuk kehamilan tanpa faktor penyulit,” kata Hariyasa yang bekerja di RSUP Sanglah, Denpasar.

Kesadaran untuk merawat kandungan dan melahirkan bayi dengan cara sealamiah mungkin membuat penyanyi dan penulis Dewi Lestari (34) atau Dee memilih metode gentle birth untuk melahirkan anak keduanya, Atisha Prajna Tiara (9 bulan). Dee melahirkan Atisha di dalam air di rumah mereka di Tangerang, Banten.

Saat melahirkan, Dee dibantu suaminya, Reza Gunawan (34), yang berprofesi sebagai terapis penyembuhan holistik. Karena sudah berlatih sebelumnya, Dee dan Reza tidak kesulitan membantu kelahiran Atisha meski tanpa bantuan dokter atau bidan.

”Tetapi, saya sudah mendaftarkan Dee ke rumah sakit terdekat supaya cepat mendapat pertolongan,” kata Reza. Bila terjadi sesuatu pada Dee, Reza sudah siap melarikan istrinya ke rumah sakit karena waktu tempuh rumah mereka ke rumah sakit hanya sekitar 10 menit.

Sebelumnya, Dee punya pengalaman melahirkan Keenan (6), anak pertamanya, dengan cara caesar. Dee terpaksa menjalani caesar setelah diberi tahu dokter kandungan bahwa kehamilannya bermasalah. ”Namun, tidak jelas betul apa yang mempersulit kehamilan saya,” kata Dee.

Diiringi musik

Pengalaman Oppie Andaresta (37) tidak kalah seru dibandingkan dengan Dee. Penyanyi ini tidak memilih rumah sakit besar untuk mengantarkan kelahiran anaknya, Kai Matari Bejo (3), tiga tahun lalu.

Kai lahir di dalam bak air berisi air hangat di Yayasan Bumi Sehat, klinik bersalin yang didirikan Robin Lim di Desa Nyuh Kuning, Ubud, Bali. Ketika sudah merasakan kontraksi, Oppie merendam diri di dalam bak berisi air hangat itu. Selama kontraksi itu, Oppie tetap merasakan sakit, tetapi ia bisa menyikapinya dengan tenang.

”Aku setel lagu-lagu reggaenya Bob Marley. Aku menyanyi sambil teriak-teriak wooo…yeaaah,” kata Oppie. Bayi yang dilahirkan Oppie berenang-renang sebentar di dalam bak mandi sebelum akhirnya diangkat dan langsung diberikan ke Oppie untuk diberi air susu ibu (ASI).

Kata Oppie, begitu lahir, plasenta Kai tidak langsung dipotong. Selama kurang lebih sembilan jam, plasenta itu tetap menempel di tali pusar Kai sebelum akhirnya dibakar. Karena plasentanya masih terus menempel, Oppie menggendong-gendong anaknya sambil menyeret-nyeret baskom berisi plasenta.

Oppie mengenal Robin dari seorang teman ketika sedang berlibur ke Bali pada waktu usia kandungannya masih tujuh minggu. Awalnya, ia hanya ingin berkonsultasi dengan Robin tentang gangguan mual yang masih terus menderanya ketika itu.

”Aku lalu ditawari melahirkan di dalam air dan diajarkan filosofi gentle birth. Aku dan suami langsung tertarik,” ujar Oppie yang sekarang menjadi pendukung penuh kegiatan di Yayasan Bumi Sehat.

Lebih rileks
Lalu apa yang membuat para perempuan tadi tertarik untuk melahirkan di air? ”Bohong kalau orang mengatakan melahirkan di air tidak sakit. Rasa sakit tetap ada, tetapi badan rasanya lebih rileks,” kata Oppie.

Karena rileks, Oppie tidak merasakan kelelahan luar biasa setelah melahirkan. Begitu anaknya lahir, beberapa jam kemudian ia sudah bisa langsung berjalan-jalan di dalam kamar.

Hariyasa menjelaskan, secara ilmiah kelahiran di dalam air mengurangi tingkat nyeri dibandingkan di tempat tidur pada umumnya. ”Air hangat membuat nyaman dan rileks. Seperti kalau kita lelah bekerja lalu mandi berendam di dalam bathtub,” kata Hariyasa.

Perasaan nyaman itu mengubah proses kimiawi dalam tubuh, yaitu terjadi penurunan pelepasan hormon adrenalin dan sebaliknya pelepasan hormon endorfin semakin meningkat. Hormon endorfin itu melebarkan pembuluh darah dan membuat otot-otot tidak kaku. Hormon ini juga berefek bagus pada ”hubungan” si ibu dengan jabang bayi melalui tali pusat. Dengan kata lain, si bayi juga akan merasa lebih nyaman dalam proses persalinan.

Merawat kehamilan
Adalah proses yang tidak kalah penting dari persalinan. Selama hamil, Oppie mengaku menjauhkan diri dari obat-obatan kimia bila tidak sangat diperlukan. Untuk urusan sakit ringan, Oppie memilih pengobatan homeopati, yaitu pengobatan dengan bahan-bahan alamiah.

”Aku menjaga kondisi tubuh dengan banyak makan sayuran dan buah-buahan,” kata Oppie. Meski terdengar klise, bagi Oppie makan sayur dan buah-buahan adalah rutinitas yang cukup menantang selama hamil. ”Kalau hari biasa, boro-boro makan sayur. Ngelihat aja tidak tertarik,” tutur perempuan yang baru mendapatkan anak setelah sembilan tahun lebih menikah dengan Kurt Kaler.

Sementara itu, Dee rajin berlatih self healing untuk membersihkan trauma dan emosi negatif yang bisa memengaruhi proses persalinan. Ia juga rutin berlatih meditasi dan menjaga asupan gizi secara alami. Apa pun gaya melahirkannya, mau di air atau di tempat tidur, ketenangan diri sangat dibutuhkan untuk persalinan.

(Lusiana Indriasari/Benny D Koestanto)


Editor :
din
BERITA LAIN: