
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: views/read_cantikgaya_view.php
Line Number: 209
YOGYAKARTA, KOMPAS - Usaha waralaba bidang nonmakanan lebih menjanjikan. Salah satu alasannya, usaha makanan cepat jenuh sehingga siklus usaha lebih singkat dibandingkan dengan jenis usaha lain.
Waralaba makanan, terutama yang investasinya di bawah Rp 10 juta, cepat rontok. Pasarnya cepat jenuh," kata Ketua Paguyuban Alumni Waralaba Yogyakarta Annas Yanuar, Jumat (13/8).
Menurut dia, pasar waralaba di bidang makanan mudah jenuh karena konsumen sangat sensitif dengan rasa. Jika tidak pandai membuat variasi, konsumen akan merasa bosan sehingga meninggalkannya. Di sisi lain, kompetitor bisnis makanan sangat banyak sehingga konsumen punya banyak pilihan.
Meskipun cepat rontok, waralaba bidang makanan justru mendominasi. Di DIY, kata Annas, ada 38 pewaralaba. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen bergerak di bidang makanan. Adapun bidang usaha lain yang juga potensial untuk diwaralabakan justru belum banyak dilirik.
Secara nasional, tutur Annas, waralaba yang terhitung sukses mulai dari bidang pendidikan, media, dan gaya hidup. Waralaba di bidang pendidikan, seperti tempat kursus maupun bimbingan belajar, relatif sukses karena pasarnya selalu ada.
Waralaba bidang media dan gaya hidup juga menjanjikan. "Kalau media, pewaralaba medianya biasanya dari luar negeri. Kalau gaya hidup, potensinya besar," ujarnya.
Meskipun menjanjikan, di DIY belum banyak pemilik usaha di bidang gaya hidup yang mewaralabakan usaha. Padahal, di DIY banyak pengusaha bidang mode dan kecantikan.
Pemilik usaha yang siap mewaralabakan usaha justru berasal dari Solo, Jawa Tengah. Udi Utomo dan Eliza Damayanti, pemilik Batik Damayanti di Kampung Batik Laweyan, Solo, kini menawarkan waralaba merek dagang mereka. Batik Damayanti menawarkan produk batik siap pakai, dari bahan batik tulis dan batik cap.
Menurut Udi, selama ini, ia kerap menerima permintaan kerja sama dari pengusaha di luar Solo. Melihat potensi itu, ia memilih konsep waralaba. "Kalau hanya menyuplai produk, kami tidak bisa memakai merek Batik Damayanti. Dengan waralaba, kami berharap brand ini akan dikenal," katanya. (ARA)