Senin, 24 November 2014
Yang Terjadi Saat Perempuan Orgasme
Kamis, 19 Agustus 2010 | 16:55 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Kunci dari bangkitnya rangsangan pada perempuan adalah kondisi yang rileks.

 KOMPAS.com - Masalah orgasme pada perempuan adalah sesuatu yang rumit dan misterius. Para peneliti sudah banyak melakukan penelitian mengenai fenomena orgasme perempuan. Di antaranya, melakukan MRI scanning untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi pada otak perempuan pada saat orgasme (baca Orgasme Tanpa Sentuhan, Bisakah?).

Dr Barry Komisaruk, penulis The Science Of Orgasm, mengakui bahwa ada banyak hal mengenai seksualitas perempuan yang belum sepenuhnya dipahami. Namun metode MRI scanner ini memberikan banyak informasi. Misalnya saja, scanner tidak hanya menunjukkan area mana di bagian otak yang aktif selama orgasme, tetapi juga bagian mana yang tidak aktif. Terlihat juga bahwa perempuan mengalami orgasme secara berbeda daripada pria.

"Salah satunya, orgasme perempuan ternyata berlangsung lebih lama daripada pria, yang membuatnya lebih mudah untuk dipelajari," kata Dr Komisaruk.

Otak pria cenderung berfokus pada stimulasi fisik yang dikaitkan dengan kontak seksual, namun kunci dari gairah pada perempuan adalah kondisi yang rileks. Hasil scanning menunjukkan bahwa selama bercinta, bagian dari otak perempuan yang memproses rasa takut, kegelisahan, dan emosi, semakin rileks. Hal ini mencapai puncaknya ketika orgasme, dimana kegelisahan dan emosi pada otak perempuan secara efektif menutup untuk menghasilkan suatu keadaan nyaris trance.

Fenomena yang terjadi saat perempuan orgasme sungguh luar biasa. Detak jantungnya berlipat ganda, sensitivitasnya pada rasa sakit berkurang, aliran darah ke otak meningkat, dan perasaan senang, bahagia, dan cinta juga meningkat.

Menurut terapis seks Paula Hall, perempuan butuh merasa rileks dan aman supaya dapat berpasrah dan menikmati seks secara total. Jadi jika Anda tegang, terlalu memikirkan bahwa Anda harus mencapai klimaks, hal itu bisa mengacaukan kemampuan otak untuk mengalami orgasme.

Namun Paula mengingatkan, seks itu juga melibatkan manusia lain, sehingga mencapai orgasme sebenarnya bukan satu-satunya hal penting. "Jika Anda terlalu berfokus pada bagaimana mencapai klimaks, dan membuat hal itu sebagai tujuan utama, maka fokus Anda berdua bisa terpecah satu sama lain. Akhirnya, seks menjadi sangat egois," katanya.

Di lain pihak, Dr Komisaruk mencoba untuk lebih melihat sisi positifnya. Baginya, mendapatkan kenikmatan dari orgasme bisa menguatkan relasi pria dan wanita, dan membuat seks menjadi lebih berarti. Dengan mengusahakan orgasme dengan berbagai cara, perempuan juga tidak lantas diartikan terlalu memikirkan diri sendiri. Bila itu membuat perempuan bahagia dan lebih mencintai relasi berpasangannya, kenapa tidak?


Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini
BERITA LAIN: