Jumat, 18 April 2014
Donna Latief, Makin Intens dengan Batik
Senin, 11 Oktober 2010 | 09:21 WIB
|
Share:
KOMPAS/ARBAIN RAMBEY

Donna Latief, mantan jurnalis yang kini giat mempromosikan batik.

KOMPAS.com - Di pasar yang bernama Pasaraya di Blok M, Jakarta, Donna ikut menjalankan bisnis ritel yang didirikan suaminya, Abdul Latief, 37 tahun lalu. Kami bertemu, Rabu (6/10) siang, di Kafe Batik di lantai dua department store itu. Ia mengajak kami menikmati wedang jahe yang segar kesukaannya.

Donna Louisa Maria Latief, begitu namanya, mengenakan kebaya putih dari bahan sutra serta celana panjang blue jeans. Di pundaknya terselempang syal batik Sunyaragi warna biru. Ia lalu mengajak keliling toko serba ada yang antara lain menjual batik dan barang kerajinan dari berbagai daerah.

”Saya sedang cek barang. Ini saya lakukan setelah saya mengantarkan anak ke sekolah,” kata Donna tentang anaknya yang bernama Ahmad Nagara Latief yang berumur dua tahun. Sekolah itu tentu semacam kelompok bermain.

Mengecek barang-barang sudah menjadi kewajiban Donna sebagai senior merchandiser di pasar besar itu. Ia mengajak kami ke bagian-bagian pasar besar itu. Ia mulai dari seksi yang disebut Ken Dedes yang khusus menyediakan batik tulis halus. Ia lalu beralih ke Kampung Batik, yang penataannya dirancang seperti pasar rakyat. Bagian ini memajang batik dari berbagai daerah, seperti batik garutan dari Garut, batik tasik, batik Sukapura, dan lainnya.

Donna kemudian naik ke lantai tiga yang khusus untuk barang kerajinan. Tersebutlah kerajinan mulai patung sampai wayang, dari keris sampai lumpang. Donna membagi bagian kerajinan itu menjadi 12 jenis, seperti anyaman, perak, patung, wayang, hingga kulit dan kerang.

”Konsepnya supermarket, tetapi penataan seperti galeri kerajinan dan batik,” kata Donna.

Sebagai senior merchandiser, Donna memang harus mengetahui benar kondisi dan kualitas barang yang dijual di pasar besarnya. Ia harus bisa membaca tren dan selera konsumen. Saat ini, misalnya, batik Jawa Barat dan Madura sedang ramai dicari orang. Ia kini tengah sibuk merayakan Hari Batik yang dirayakan setiap tanggal 2 Oktober. Dalam rangka Hari Batik itu, ia akan mengadakan pergelaran batik pada 20 Oktober di Pasar Raya. Kali ini dipilih tema batik Jawa Barat.

”Batik garut ini sudah langka dan hampir punah. Perajinnya tinggal satu, dua orang saja,” kata Donna sambil menunjukkan batik garut yang motifnya sudah langka.

Donna sejak tiga tahun lalu mulai diserahi tugas khusus oleh suaminya untuk menangani batik. Ia pun makin intens belajar hal seputar batik. Ia mulai dengan mengenal para pemasok termasuk perajin kecil di berbagai daerah.

Dengan sistem bagi hasil, pihaknya bekerja sama dengan pelaku industri kecil dan menengah. Mereka diberi ruang untuk memajang karya di Pasaraya. Ia mencari perajin batik di daerah, seperti Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, Solo, Madura, dan Bali .

”Ini kerja sama mutual. Kami saling membantu. Kami dapat keuntungan, dan partner kami juga sama-sama untung. Saya bahagia sekali bisa melihat mereka berhasil,” kata Donna.

Hidup itu pendakian
Donna dulu pernah menjadi model foto. Ia antara lain pernah menjadi model untuk produk Pasaraya. Tahun 2000, ia menjadi reporter di stasiun televisi Lativi. Ia pernah meliput kasus kriminal, dari perampokan taksi sampai kasus mutilasi. Setelah menikah dengan Abdul Latief tahun 2003, Donna masih bekerja di Lativi dan mulai belajar seluk-beluk ritel.

”Pagi saya di Pasaraya, dan malamnya saya siaran di Lativi,” kata Donna mengenang stasiun televisi yang kini telah tutup itu.

”Televisi dan ritel itu dunia yang sangat berbeda. Saya perlu setahun untuk beradaptasi,” kata Donna.

Namun, Donna melihat adanya kesamaan filosofi dari dua dunia yang tampak berbeda itu. ”Di televisi, saya menyenangkan pemirsa dengan program. Kalau di ritel, kami harus menyenangkan customer. Seninya saja yang berbeda. Di televisi ada rating, di ritel ada omzet. Hahaha....”

Belakangan, Donna terlibat penuh dalam pengelolaan usaha ritel yang berpangkalan di Blok M dan Manggarai, Jakarta, itu. Dia mengaku benar-benar memulai dari nol. Namun, ia mau belajar. Mula-mula ia belajar masalah operasional, seperti cek stok barang, sampai berhubungan dengan pemasok. Ia lalu belajar tetek-bengek soal nomor lipstik dan warna-warnanya, sampai soal sepatu. Ia pelajari soal ukuran sepatu, desain, hingga kenyamanan pakainnya. Dan ia baru tahu betapa rumitnya urusan sepatu itu jika sudah berhadapan dengan pelanggan.

”Ada customer yang suka pada satu model sepatu, tetapi size-nya tidak ada. Saya harus menerima komplain mereka dan tetap harus kami layani.”

Donna belajar dari karyawan, anak buah suaminya, dan tentu saja dari sang suami. ”Suami saya bilang, ’Kamu kalau sudah pandai, baru tanya sama saya'. He is the best teacher,” kata Donna memuji suami.

Ia mengakui bisnis ritel ada naik dan turunnya, tetapi ia telah belajar untuk menekuni dan mencintai pekerjaan.

”Hidup, kan seperti sebuah pendakian. Jalan mendaki, tetapi pemandangan terlalu indah untuk dilewatkan. Nikmatilah keindahan itu,” kata Donna beribarat sambil menyeruput wedang jahe.

”Saya ingin seperti sungai yang mengalir ke laut. Meski ada batu-batu, tetapi sungai tetap mengalir ke laut. Saya bukan orang yang gampang menyerah,” katanya, lagi-lagi beribarat.

Ingin apa lagi?

”Saya ingin belajar dance dan bernyanyi. Hahaha....”

Donna serius. Karena ia pernah menjadi solis dalam paduan suara. ”Donna, Donna, Donna,...”

Biodata
Nama lahir: Donna Louisa Maria
Kelahiran: Jakarta, 29 Maret 1975
Suami: Abdul Latief
Anak: Ahmad Nagara Latief (2)
Ayah: Sony Hindarto
Ibu: Cecilia Glasmacher
Pendidikan: Fakultas Ekonomi, Universitas Atma Jaya, Jakarta 1997

(Frans Sartono)

Editor :
Dini
TERKAIT: