Jumat, 19 September 2014
Home / /
Kertas Daur Ulang
Minggu, 24 Oktober 2010 | 04:07 WIB
|
Share:

Pos!” Kudengar teriakan seorang laki-laki yang menghentikan motor di depan rumah. Jaketnya berwarna oranye, sama dengan motor yang dikendarainya.

”Pelangi Andrawina. Tanda tangan di sini ya!” Pak pos tersenyum sambil mengulurkan selembar surat dan tanda terima.

”Terima kasih, Pak!” Aku berlari masuk kamar ingin segera membacanya.

 

SURAT dari Tarita, sahabatku yang pindah ke Sulawesi mengikuti orangtuanya. Meskipun bisa berkirim e-mail atau SMS, kami lebih suka berkirim surat. Rasanya lebih menyenangkan dan deg-degan menunggu kedatangan pak pos.

Tanganku sudah tak sabar ingin membuka surat itu. Namun aku tertegun mengamati amplop berwarna merah muda. Biasanya Tarita mengirim surat dengan amplop bergambar bunga-bunga atau kartun.

Tetapi kali ini amat istimewa. Bukan gambar bunga, tetapi bunga sungguhan. Amplopnya agak kasar dan membentuk kotak-kotak kecil. Di seluruh permukaan amplop terdapat bunga-bunga dan rumput kering yang membuat ia amat cantik.

Bagaimana caranya memasukkan bunga dan rumput ini ke kertas amplop?

Baru kali ini aku mendapat surat dengan amplop semacam ini. Karena terlalu asyik mengamati amplop, aku lupa membuka surat hingga suara Ibu mengejutkanku.

 

”ELA, ada Mbak Arin. Katanya kangen sama kamu,” kata Ibu.

Mbak Arin adalah saudara sepupuku dari luar kota. Dia kuliah dan kos di dekat kampus. Kadang dia datang ke rumah bila libur.

”Hai Ela, lagi ngapain?” Mbak Arin masuk ke kamar dan mendekatiku.

”Sini Mbak. Lihat, aku baru dapat surat dari temanku dan amplopnya bagus banget.”

”O, ini kertas daur ulang,” kata Mbak Arin.

”Kertas daur ulang? Apa itu Mbak?”

”Kertas daur ulang itu dibuat dari kertas bekas pakai yang diolah lagi sehingga bisa digunakan kembali. Kita juga bisa membuat sendiri kalau mau,” kata Mbak Arin.

”Buatnya pakai apa Mbak?” tanyaku bingung masih belum paham penjelasan Mbak Arin.

”Ya dari kertas apa saja yang sudah tidak terpakai. Dari bekas buku tulis, majalah, atau koran bekas juga bisa,” terang Mbak Arin.

”Dengan mendaur ulang kertas bekas, selain mendapatkan kertas baru yang indah, kita juga turut membantu mengurangi kerusakan lingkungan. Tahu kenapa?” tanya Mbak Arin.

Aku menggeleng.

”Karena kertas dibuat dari kayu. Semakin banyak kertas yang kita pakai maka semakin banyak pohon yang ditebang. Artinya hutan yang berguna untuk menangkap air hujan serta mencegah banjir dan longsor semakin berkurang,” kata Mbak Arin.

”Makanya kita enggak boleh boros dengan kertas. Pakai sehemat mungkin dan manfaatkan kertas bekas untuk keperluan lain atau didaur ulang. Istilah kerennya reduce, reuse, dan recycle. Artinya mengurangi, memakai kembali, dan mendaur ulang,” lanjut Mbak Arin.

 

AKU mengangguk-angguk. ”Wah aku mau membuat kertas daur ulang. Caranya bagaimana?” tanyaku.

”Mudah kok! bahannya hanya kertas bekas, pewarna, blender untuk membuat bubur kertas, kasa untuk mencetak, dan bahan-bahan tambahan untuk membuat kertas jadi indah sesuai keinginan,” kata Mbak Arin.

”Bahan tambahannya bunga kering ya Mbak?” aku antusias.

”Bunga atau rumput kering bisa, kulit bawang sisa Ibu masak juga bagus untuk hiasan,” kata Mbak Arin.

”Wah, kayaknya asyik tuh. Kita buat sekarang yuk, Mbak. Ibu kan sedang masak, pasti ada sisa kulit bawangnya,” aku menarik tangan Mbak Arin dan mengajaknya ke dapur.

”Kamu semangat sekali! Kita kumpulkan dulu bahan-bahannya sore ini. Buat kertasnya besok pagi saja. Mbak kan menginap di sini malam ini,” kata Mbak Arin.

”Sekarang saja Mbak, Ela sudah enggak sabar nih,” aku membujuk Mbak Arin.

”Ya deh. Sore ini rebus dulu kertasnya untuk menghilangkan tintanya, trus kita rendam semalam biar besok mudah dibuat bubur kertas. Oke? Jangan nawar lagi ya,” Mbak Arin tersenyum sabar.

”Iya...,” aku mengalah.

 

KAMI berdua dibantu Ibu mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat kertas daur ulang. Kertas direbus dan dibiarkan terendam air semalam.

Malam itu aku susah tidur. Aku enggak sabar untuk segera membuat kertas daur ulang. Aku mereka-reka kertas yang akan kubuat. Akan kubuat amplop juga untuk membalas surat Tarita.

Aku baru ingat kalau surat Tarita belum kubaca. Segera kuambil suratnya dan kubaca. Tetapi aku tertidur sebelum selesai membaca.

 

ESOKNYA, pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Setelah mandi dan sarapan, kami mulai membuat kertas daur ulang.

”Kertasnya disobek jadi kecil-kecil, baru dimasukkan blender!” Mbak Arin mulai memberi instruksi.

”Oke, Mbak. Aku yang memblender!”

”Kalau semua sudah diblender, masukkan ke bak besar dan dicampur air yang banyak. Tambahkan pewarna dan bahan tambahan yang kamu inginkan!”

Aku segera melaksanakan instruksi Mbak Arin.

Tak lama kemudian Mbak Arin mengambil kasa yang sudah dibingkai untuk mencetak kertas daur ulang.

”Nah, ini proses yang terakhir. Kita cetak kertas dengan kasa ini, kemudian taruh di matras dan kita jemur. Sekarang kita tinggal menunggu kertasnya kering dan jadilah kertas daur ulang bikinan Ela,” kata Mbak Arin.

”Ternyata gampang membuatnya ya, Mbak. Berapa lama keringnya?” aku tidak sabar.

”Kalau matahari cerah, tengah hari nanti pasti sudah kering,” kata Mbak Arin.

Setelah makan siang kami mendapati kertasnya sudah kering. Hasilnya sangat bagus seperti amplop surat yang kuterima dari Tarita.

Besok kubawa ke sekolah, pasti teman-teman ingin juga membuat kertas daur ulang sendiri.

 

Fransisca Emilia Penulis Cerita Anak, Tinggal di Balikpapan


BERITA LAIN: