Sabtu, 1 November 2014
Bom Sleman
Penemu Bom Diinterogasi sampai 14 Jam
Kamis, 2 Desember 2010 | 22:52 WIB
|
Share:

Ilustrasi peziarahan katholik guwa maria

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sri Widodo (45), penemu bom di pelataran rumah ibadah di Dusun Jali, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, dinterogasi selama 14 jam oleh aparat kepolisian. Dia menjalani pemeriksaan di Mapolsek Prambanan.

Widodo mengatakan, setelah bom tersebut dilaporkan ke polisi, beberapa personel polisi dari Polsek Prambanan datang ke lokasi kejadian dan mengecek barang yang dilaporkan. "Mungkin polisi saat melihat sudah tahu kalau barang itu bom. Sempat juga memberitahukan ke saya kalau itu bom," kata Widodo.

Hanya dalam waktu dua jam dari kedatangan personel Polsek itu, anggota Tim Gegana tiba di lokasi. Setelah menyatakan bom itu aman, Widodo harus mengikuti semua perintah rekonstruksi. "Saya memperagakan mulai menemukan bom hingga membawanya ke Pak Lurah," kata Widodo.

Sejak melakukan rekonstruksi itu, Widodo mengaku mulai ketakutan. Hal itu terasa lebih ketika sekitar pukul 16.00 hingga 06.00 WIB, Kamis (2/12/2010), dia harus datang ke Mapolsek Prambanan guna menjalani pemeriksaan. "Saya diinterogasi sampai pagi. Tidak tidur," kata Widodo.

Karena merasa tidak bersalah, Widodo mengaku menjawab semua pertanyaan dengan lancar. "Saya disuruh cerita (oleh polisi) soal penemuan bom itu, ya saya cerita apa adanya," kata Widodo.

Menurut Widodo, polisi juga mencoba mengorek keterangan soal kemungkinan ada orang yang mencurigakan atau orang yang dilihat sejak Selasa (30/11/2010) malam hingga Rabu (1/12/2010) pagi. "Saya tidak melihat orang yang menaruh bom itu," kata Widodo.

Setelah dinyatakan tidak bersalah oleh polisi terkait bom yang ditemukan di tempat Misa Sendang Sriningsih itu, Widodo mengaku lega. "Tadi pagi kami masih takut. Sekarang sudah tenang," kata Widodo.

Canggih

Sementara itu, berdasarkan keterangan Dansat Brimob DIY AKBP Laksana, teknik perakitan bom yang ditemukan Widodo itu tergolong canggih dan dilakukan orang yang profesional. Itu bisa dilihat dari struktur rakitan yang dilengkapi pemicu dan pengatur waktu menggunakan jam beker.

"Jam meledak diatur pada pukul 02.00. Pemicu akan mengalirkan arus listrik dari baterai melalui kabel yang dibubuhi serbuk korek api yang akan terbakar. Api selanjutnya menjalar menuju botol-botol bensin sehingga akan meledak dan membakar benda-benda di sekitar bom," katanya saat memberi keterangan pers di posko Siaga Merapi Polda DIY Morolejar, Cangkringan.

Untungnya, kata Laksana, isolator kabel menghambat pemicu sehingga bom gagal meledak pada pukul 02.00 WIB. Jarum penunjuk timer pada bom itu memang terlihat menunjuk pada angka 02.00.

Kapolres Sleman Ajun Komisaris Besar Irwan Armaini menyatakan, bom tersebut memiliki daya ledak rendah. Secara teknik, bom itu hampir sama dengan empat bom yang ditemukan di wilayah Klaten pada tiga hari lalu.

Berdasarkan pantauan Tribun di lokasi, temuan bom rakitan itu tidak mempengaruhi umat Katolik untuk menjalankan misa pada Kamis malam sebagaimana biasanya. "Tidak terpengaruh, masih seperti biasa. Ada sekitar 600 anggota jemaat," kata Gabriel Sukamto, Ketua Dewan Stasi Sendang Sriningsih. (Tribun Jogja/Viktor M/Ade Rizal/Wilem Jonata)


Editor :
I Made Asdhiana
BERITA LAIN: