Selasa, 25 November 2014
Merespons Perilaku Anak Dua Tahun
Selasa, 18 Januari 2011 | 18:51 WIB
|
Share:
Kimberly Metz

Elisabeth Rohm (37)bersama puteri dua tahunnya Easton August.

KOMPAS.com - Memiliki balita dua tahun bukan pekerjaan mudah bagi orangtua. Dibutuhkan kesabaran merespons setiap perilaku anak yang sedang asik mengekplorasi dirinya. Aktris yang populer dengan perannya sebagai Serena Southerlyn dalam film Law & Order, Elisabeth Rohm (37), belajar menjadi ibu yang tidak reaktif dalam mengasuh puterinya, Easton August (2,5 tahun).

Menjadi ibu untuk anak dua tahun, bagi Elisabeth adalah tantangan. Banyak pelajaran yang didapat Elisabeth dengan peran barunya ini. Easton baginya adalah sumber ilmu untuk menjadikannya sosok perempuan yang lebih kuat dan lebih besar lagi. Dalam blog-nya, Elisabeth menuliskan menjadi orangtua dan mengasuh anak dua tahun meningkatkan intuisi, rasa penghargaan atas diri, dan kasih sayang dalam dirinya.

"Belajar menjadi orang yang sabar telah membawa diri kita menjadi lebih baik lagi," tulis Elisabeth, menggambarkan pengalamannya mengasuh balita.

Menurut Elisabeth, salah satu tantangan terbesar menjadi orangtua adalah mengembangkan kemampuan kepemimpinan. "Tak mudah mengasuh anak dan mencari solusi pengasuhan selama tujuh hari dalam seminggu. Tak juga mudah untuk meyakini bahwa Anda bisa merespons semua perilaku anak. Kadang, jujur, kita harus menebak atau mendasari keputusan pada apa yang pernah kita dengar atau baca," tulisnya.

Apapun pendekatan yang biasa digunakan orangtua dalam mengasuh anak, Anda dituntut untuk bersikap lebih dewasa dan tidak merespons berbagai masalah secara kekanak-kanakan. Orangtua perlu menunjukkan sikap tegas dan matang dalam mengasuh balita, jelas Elisabeth menceritakan pengalamannya.

Mengasuh anak dua tahun, bagi Elisabeth memerlukan kecerdikan dan kreativitas. Tidak semua pendekatan yang dilakukan akan selalu berhasil diterapkan untuk menghadapi tingkah laku anak. Untuk mengatasinya, Elisabeth mencari tahu dan membuat daftar, tindakan apa yang sudah tak lagi berlaku diterapkan dalam pola asuhnya. Ia pun menggantikan cara lama dengan metode pengasuhan baru. Yang bisa dipelajari dari sini adalah pola asuh balita selalu berkembang dan tak pernah bisa stagnan.

"Saya menemukan diri saya bersedia mengangkat beban dan membuat perubahan dalam hidup," aku Elisabeth, yang banyak belajar memperbaiki diri dari mengasuh Easton.

Tidak menjadi orangtua reaktif
Elisabeth menemukan dirinya belajar untuk tidak bersikap reaktif dalam merespons tingkah laku anak dua tahunnya. Seperti yang pernah terjadi padanya sewaktu Easton ngambek di ulang tahun keduanya. Saat Easton ngambek, balita ini lebih memilih mendekat ke pengasuhnya daripada ibunya. Atau saat Easton ngambek dan menendangkan sepatu boots-nya ke arah mata Elisabeth, yang membuat matanya terluka.

"Pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini adalah saya harus bisa tenang meski dalam tekanan. Meskipun saya diperlakukan kasar, dipermalukan di depan umum. Ini adalah tantangan yang sangat nyata yang harus dihadapi setiap hari sepanjang hidup," akunya, menilai positif pengalaman buruknya saat mengasuh balita.

Melawan diri sendiri adalah kunci sukses menjadi orangtua yang tidak reaktif. Insting seseorang, jika mengalami kejadian tak menyenangkan, adalah bersikap reaktif dan membela diri. Namun, saat menjadi ibu, insting ini tak berjalan. Karena ibu, akan merespons sikap anak tersebut (merujuk pada perilaku Easton), dengan berusaha membantu mereka, membimbing, dan memperbaiki perilaku anak yang salah dengan cara selembut mungkin. Ibu takkan menjadi tersinggung saat anak berteriak atau berlari mencari perlindungan kepada orang lain. Melalui pengalaman menjadi ibu inilah, Elisabeth mendapati dirinya, sebagai individu, berkembang lebih baik lagi.

Bagaimana caranya tak reaktif?
Tarik nafas dalam-dalam, berpikir sebelum bertindak, memaafkan, dan menjelaskan perlahan kepada anak yang berperilaku keliru. "Dengan mempraktekkan ini saya belajar dari si kecil mengenai kepercayaan dan pengembangan diri," aku Elisabeth.

Setelah mengambil alih emosi Anda, dan bersikap tenang, lalu berikan anak penjelasan secara perlahan. "Saya memandang putri saya setelah tak sengaja dia melemparkan sepatunya ke wajah saya, karena saya mematikan tayangan kesukaannya, Scooby-Doo. Lalu saya berkata kepadanya, 'Kamu anak yang manis, hebat dan baik. Kamu itu luar biasa. Anak yang manis dan baik tidak memukul, menggigit atau berteriak. Anak baik menggunakan kata-kata yang baik dan lembut'," Elisabeth menyontohkan caranya berbincang dengan puterinya. Lalu Easton menjawab, "Ya". "Dan kamu anak yang baik," lanjut Elisabeth. "Ya, aku baik," jawab Easton dengan senyuman.

Elisabeth menceritakan, dengan tidak bersikap reaktif, Easton justru menunjukkan sikap yang manis, baik, dan menyenangkan sepanjang hari. Meski, diakui Elisabeth, cara ini tak selamanya berhasil.

Anak memerlukan orang dewasa untuk membantu dirinya. Apalagi anak dua tahun yang masih belajar mengenal lingkungannya. Mereka hanya memerlukan panduan mengenali mana yang baik dan buruk. Orang dewasa, dalam hal ini orangtuanya, perlu merendah dan memahami anak apa adanya, sekaligus membimbing mereka. Tantangan terbesarnya, orangtua tak berlebihan menanggapi perilaku anak dengan tidak bersikap reaktif. Elisabeth sudah membuktikannya, bagaimana dengan Anda? Punya cara lain merespons perilaku anak?


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Dini
BERITA LAIN: