Sabtu, 19 April 2014
Melatih Anak Agar Tidak Tinggi Hati
Senin, 21 Februari 2011 | 17:11 WIB
|
Share:
BANAR FIL ARDHI

Chairwoman and Founder of Martha Tilaar Group, Dr Martha Tilaar, saat sesi wawancara dengan KOMPAS.com, di Kantor Martina Berto, Pulo Gadung, Jakarta, Kamis (17/2/2011). KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI

KOMPAS.com - Meski menyandang nama besar Martha Tilaaar, empat putra-putri pendiri perusahaan kosmetika Martha Tilaar Group ini tak menunjukkan karakter tinggi hati. Sikap menghargai orang lain, mau belajar dan mendengarkan pendapat tim yang notabene adalah anak buahnya, melekat dalam diri Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Maharani Tilaar, dan Kilala Esra Tilaar. Martha Tilaar bersinergi dengan sang suami, Prof Dr Henry Alexis Rudolf Tilaar, untuk melatih karakter anak yang mandiri, peduli, dan perhatian terhadap sesama.

Kuncinya, kata Martha, adalah kepekaan dan kemandirian yang dilatih sejak dini. Dengan begitu anak tumbuh dan berkembang menjadi sosok penuh penghargaan terhadap sesama, mau belajar dari yang lebih muda, dan terbuka dengan pendapat dari siapapun tanpa memandang usia.

"Sejak kecil anak-anak diajarkan cara bersyukur. Setiap kali melihat anak yang meminta-minta di jalan raya, saya mengajak anak kami mensyukuri apa yang kami miliki. Di dalam mobil, kami selalu menyiapkan paket kue untuk diberikan kepada peminta-minta. Saya dan anak-anak tak pernah memberikan uang," tutur Martha, saat bincang-bincang bersama Kompas Female di kantor PT Martina Berto, Pulo Gadung, Kamis (17/2/2011) lalu.

Anak-anak belajar berbagi sejak kecil sebagai cara melatih kepekaan mereka, lanjut Martha. Pola asuh yang diterapkan Martha bersama suami tentunya punya misi. Selain membangun karakter pribadi yang positif, kepekaan yang ditanamkan dalam diri anak dipersiapkan agar kelak siap memimpin perusahaan keluarga yang dirintis Martha sejak 1970.  "Dengan memiliki kepekaan yang tinggi, mereka akan menjadi pemimpin yang lebih mampu menghargai orang lain dan tidak semena-mena," tutur anak sulung dari tiga bersaudara ini.

Kepemimpinan Martha Tilaar Group yang nantinya akan dilanjutkan oleh anak-anaknya, juga tak diberikan dengan mudah. Kemandirian anak yang dibangun sejak kecil terus dipupuk saat dewasa. Martha mengaku, putra-putrinya yang terlibat dalam bisnis kecantikan keluarga ini memulai peran dari level bawah. "Anak-anak terlibat di perusahaan dari level management trainee," kata perempuan yang pernah berprofesi sebagai guru sekolah dasar dan dosen ini.  Dengan begitu, lanjut Martha, anak-anak akan punya rasa memiliki yang besar terhadap perusahaan dan berminat melanjutkan bisnis keluarga.

Dalam kamus pola asuh Martha, kemandirian dan kepekaan menjadi bekal mumpuni untuk menyiapkan sosok pemimpin. Walaupun kesempatan menjadi pemimpin sudah di depan mata, karakter kepemimpinan ini tetap perlu disiapkan sejak dini. Seperti Martha dan suami yang menyiapkan Wulan sebagai Direktur Martha Tilaar Group, Bryan sebagai Direktur Utama PT Martina Berto, Kilala sebagai Wakil Direktur Marketing PT Martina Berto, dan Pingkan sebagai Manajer Sekolah Kecantikan PT Martha Beauty Gallery.

"Mencari pekerjaan saat ini susah, jika ada tempat berkarya anak-anak hanya perlu meneruskan saja," tutur Martha sederhana.

Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Dini