Senin, 24 November 2014
Perjalanan Kehidupan Seksual Wanita Usia 30-an
Senin, 7 Maret 2011 | 20:09 WIB
|
Share:
SHUTTERSTOCK

Di usia 30-an, gairah seksual wanita berada di puncaknya karena ia makin paham akan tubuhnya sendiri.

KOMPAS.com - Saat mencapai usia 30-an, kebanyakan wanita sudah memiliki level pemahaman diri yang matang. Umumnya, di usia ini pun perempuan sudah berada dalam sebuah hubungan yang stabil. Memiliki seorang suami bisa menjadi semacam afrodisiak tersendiri bagi perempuan, karena berada dalam hubungan yang aman dan berkomitmen bisa bangkitkan gairah perempuan. Namun stres dari menjaga anak dan masalah karier bisa menurunkan gairah.

Di usia 30-an, wanita sudah makin mengenali tubuhnya, dan sudah makin paham bagaimana mencapai orgasme, yang bisa menstimulasi gairah, karena itulah datang pendapat bahwa perempuan mencapai puncak seksualitasnya di usia 30-an.

Di awal pernikahan, sebelum ada anak, secara umum, wanita tak banyak keluhan dalam hidupnya, jelas Louann Brizendine, M.D., salah seorang direktur kesehatan seksual di University of California, San Fransisco, AS. Level testosteron pada perempuan umumnya akan berkurang di usia 35 tahun sebenarnya tidak berarti banyak.

Usia reproduksi
Untuk kebanyakan perempuan, usia 30-an adalah usia reproduksi. Di pertengahan trimester kehamilan, saat wanita hamil tak lagi bermasalah dengan mual-muntah, dan perutnya belum terlalu besar, kebanyakan wanita akan merasa seks seperti permainan, karena tingginya gairah yang dirasa. Selama kehamilan, hormon progesteron dan estrogen meningkat berkali-kali lipat, yang mengakibatkan menebalnya bibir vagina dan lebih sering terlubrikasi. Ditambah lagi perkembangan janin di rahim yang menekan vagina juga bisa meningkatkan gairah.

Dalam buku For Women Only: A Revolutionary Guide to Overcoming Sexual Dysfunction and Reclaiming Your Sex Life, terapis seks Jennifer Berman, M.D., mengatakan selama pertengahan trimester sebagian wanita akan merasa dalam keadaan setengah terangsang, apalagi saat mengandung anak laki-laki, karena anak laki-laki mendorong hormon testosteron si ibu juga.

Usai hadirnya anak
Banyak perempuan usai melahirkan merasa bahwa seks tak lagi menyenangkan. Penurunan gairah ini bisa terjadi karena kelelahan, namun hormon juga bisa jadi penyebab. Penurunan testosteron menurun sekitar setengah usai kelahiran anak, meski dengan cepat pula akan kembali normal. Umum bagi pasangan usai memiliki anak untuk hanya berhubungan 1-2 kali setelah lebih dari 4 bulan masa nifas. Masalahnya, perempuan masih terngiang rasa sakit usai melahirkan dan ini berefek pada sekitar 70 persen wanita hingga sekitar 6 bulan usai melahirkan.

Sementara untuk para ibu yang menyusui juga bisa jadi merasakan tidak tertarik pada seks. Menyusui memunculkan hormon prolaktin, yang menahan ovulasi dan produksi estrogen, begitupun testosteron. Sebuah studi mengobservasi wanita menyusui dan mendapati sekitar 60 persen perempuan memiliki testosteron (kunci gairah) yang rendah setelah kelahiran anak kedua atau ketiga. Meski alasannya belum jelas betul, Jennifer Berman percaya, ini mungkin terjadi akibat penurunan produksi testosteron oleh ovarium atau kekurangan enzim yang menghambat produksi testosteron.

Stres maksimal

Meski level hormon si wanita berada dalam kondisi normal sekalipun, pekerjaan sebagai orangtua bisa mematikan gairah dalam sekejap. Antara tuntutan pekerjaan, anak yang masih kecil, dan mengurus rumah, wanita di usia 30-an berada dalam tekanan yang cukup tinggi. Seringkali, mereka merasa marah atas suaminya yang tampak tak bisa berbagi tuntutannya. Menurut Peter Kanaris, Ph.D., psikolog dan terapis seks di New York mengungkap, wanita mencapai puncak gairah seksualnya di usia 30-an, tetapi stres yang dialami wanita di usia ini pun cukup tinggi, waspada terhadap stres, karena stres adalah salah satu pembunuh gairah terbesar. Butuh kerjasama dari pasangannya untuk membantu sama-sama mencapai kepuasan.


Editor :
Nadia Felicia
BERITA LAIN: