Rabu, 17 September 2014
WSDK
Bela Diri Praktis Bikin Perempuan Lebih Berdaya
Jumat, 1 April 2011 | 13:13 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Wardah Fajri

Lia nurlianty (36), putri pertama pendiri WSDK Shihan H Sofyan Hambally, mempraktekkan gerakan bela diri perempuan menggunakan kuku. Lia melatih WSDK di dojo (tempat latihan) Kopo, Bandung, Jawa Barat setiap Sabtu-Minggu.

KOMPAS.com - Stereotip terhadap perempuan masih saja terpelihara, bahwa perempuan lemah dan harus berada dalam perlindungan orang lain. Ketidakberdayaan perempuan ini kemudian membuat posisinya semakin subordinan. Inilah sebab mengapa diskriminasi dan kekerasan dengan perempuan sebagai korban terus saja terjadi. Kondisi inilah yang melatari keberadaan seni beladiri terapan praktis untuk perempuan bernama Woman Self Defence of Kushin Ryu (WSDK) di Bandung, Jawa Barat. WSDK membuka mata, bahwa perempuan mampu membekali dirinya dengan beladiri praktis. WSDK membangun kepercayaan diri perempuan  untuk melindungi dirinya sendiri, menjadi sosok kuat dan lebih berdaya.

Setiap tahunnya, jumlah perempuan korban kekerasan maupun bentuk kekerasan semakin terkuak. Catatan tahunan kekerasan terhadap perempuan (Catahu KtP) dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bisa menjadi rujukan. Sepanjang 2010, terdapat 105.103 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan angka kekerasan terhadap perempuan pada 2009. Pada 2009 tercatat 143.000 kasus kekerasan terhadap perempuan, yang naik 243 persen dari 2008. Jumlah kekerasan berkurang pada 2010, namun ini tak menandakan hal positif. Ada berbagai macam penindasan yang dialami perempuan. Di ranah publik, perempuan menghadapi kekerasan seksual, antara lain dalam tindak perkosaan, percobaan perkosaan, pencabulan, dan pelecehan seksual. Sedangkan di ranah personal, terjadi kasus kekerasan terhadap istri, kekasih, dan anak perempuan.

Banyak orang gelisah dengan kondisi perempuan yang terlemahkan ini, terutama para orangtua. Perasaan khawatir semakin tinggi saat harus melepas anak perempuan menjalani berbagai aktivitas di luar rumah. Kegelisahan yang sama juga dialami Shihan (guru) H Sofyan Hambally. Hanya saja Sofyan tak tinggal diam. Sebagai guru dari para guru aliran karate Kushin Ryu di dojo (tempat latihan) Kopo, Bandung, Sofyan merasa perlu menularkan ilmu beladiri yang dimilikinya, dalam gerakan yang lebih sederhana. Inilah awal mula lahirnya WSDK.

"Perempuan harus bergerak, mendorong dirinya untuk mengembangkan diri dan memberdayakan kekuatan besarnya yang tersembunyi. Kekuatan itu harus diolah," Sofyan, penyandang DAN VI Karatedo-Jujitsu Int mengutarakan dalam buku WSDK, Tubuhku, Senjataku.

Bersama ketiga anaknya, Lia Nurlianty (36), Eko Hendrawan (34), dan Beny Ramdani (29), Sofyan melatih dan mengenalkan WSDK ke sebanyak mungkin perempuan. "Saat ini WSDK sudah memasuki angkatan ke-11 dan memiliki seribu anggota. Perempuan dari berbagai kalangan mengikuti pelatihan yang dilakukan empat kali dalam satu bulan. Selain di dojo Kopo, latihan juga dilakukan di komunitas Jakarta bersama adik saya, Eko, dan komunitas di Belanda dilatih oleh Beny (adik bungsu)," tutur Lia kepada Kompas Female.

Menurut Lia, dengan mengikuti latihan rutin mulai level dasar, menengah, hingga level teratas (advance), perempuan terbangun kepercayaan dan keberanian dirinya. "Tubuhku senjataku, ini bermakna seluruh bagian tubuh perempuan bisa menjadi senjata untuk membela dirinya saat merasa terancam. Dari kepala hingga kaki semua bisa digunakan perempuan untuk membela diri. Gerakan praktis menggunakan seluruh anggota tubuh inilah yang dilatih di WSDK. Banyak perempuan anggota yang mengaku merasa lebih percaya diri usai berlatih, keberanian menjadi timbul dalam diri mereka. Saya sendiri pun merasakan, dengan sering berlatih bela diri, kita menjadi lebih berani dan percaya diri karena merasa punya bekal membela diri," tutur Lia, mantan atlet karate peraih juara tiga kejuaraan karate dunia pada 1997 lalu.

Perempuan, yang sehari-hari bekerja sebagai staf hubungan masyarakat dan protokol Gubernur Jawa Barat, ini, menjelaskan perempuan bisa menyenjatai dirinya dengan anggota tubuh, aksesori yang dipakai, juga perlengkapan harian yang selalu dibawa dalam tas. Dengan kata lain, high heel yang Anda kenakan bisa menjadi senjata membela diri. Payung, lipstik, pensil alis, dan kartu ATM pun bisa menjadi alat membela diri. Kebiasaan perempuan memelihara kuku juga bisa menjadi senjata ampuh. Tentunya ada sejumlah gerakan yang perlu dilatih untuk menjadikan anggota tubuh ataupun aksesori perempuan untuk membela diri.

"Saat gelagat aneh mulai dirasakan dari pria yang berdiri persis di belakang Anda misalnya, high heel bisa digunakan untuk menginjak pelaku. Jika tak menggunakan high heel, pinggul juga bisa menjadi senjata. Berbagai gerakan praktis menggunakan anggota tubuh bisa membantu perempuan membela diri meski dalam tempat sempit seperti bus. Pelatihan di WSDK membantu perempuan menyelamatkan dirinya dari pelecehan seksual, pencopetan, atau perampokan. Bela diri praktis membuat perempuan lebih berani mengambil sikap," jelas Lia.

Berlatih bela diri praktis juga menumbuhkan keberanian perempuan untuk bersikap dan bersuara. Sebenarnya, saat posisi terjepit, perempuan ingin bersikap namun tak punya keberanian atau bekal pengetahuan mengenai apa yang sebaiknya dilakukan, kata Lia. Dengan memelajari gerakan praktis bela diri, perempuan merasa percaya diri bersikap karena juga memiliki bekal ilmu untuk melindungi dirinya.

Lia menyampaikan, tatapan mata yang menandakan penolakan atau ketidaksukaan bisa menjadi langkah awal untuk melawan tindakan kejahatan. Selanjutnya, ucapkan ketidaksukaan saat posisi terancam. Misalnya, saat ada pelaku pria yang memposisikan dirinya terlalu dekat dan membuat Anda tak nyaman. Menyampaikan keberatan Anda dan meminta pelaku menjauh juga merupakan bentuk perlawanan. Namun, kata Lia, tak semua perempuan bisa bersikap dan bersuara, lalu memilih diam dan menjadi korban. Membekali diri dengan bela diri praktis menumbuhkan keberanian ini.

"Saat memiliki keterampilan bela diri praktis, perempuan merasa lebih berani bersikap. Meski begitu kemahiran bela diri jangan diumbar begitu saja. Saat posisi terjepit, lakukan tahapan tadi, yakni utarakan dengan tatapan bahwa Anda tidak nyaman dan tidak suka dengan perlakuan si pelaku. Lalu jika tatapan tak mempan, ungkapkan dengan perkataan. Saat kedua cara ini masih juga tak digubris, lakukan gerakan bela diri yang memberikan efek kejut pada pelaku. Jika ada kesempatan lari, usai memberikan efek kejut, lari lah mencari bantuan," jelas Lia.

Sebaliknya, tanpa dibekali ilmu bela diri banyak perempuan yang merasa takut saat berada dalam posisi terjepit. "Saat perasaan takut menguasai diri, tenaga semakin habis. Sementara, ketika kita berani, adrenalin semakin tinggi. Keberanian inilah yang membuat perempuan bisa menyelamatkan dan melindungi dirinya. Keberanian ini terpupuk saat berlatih bela diri praktis," lanjutnya.

Menurut Lia, kebanyakan anggota WSDK yang dilatihnya setiap Sabtu-Minggu di dojo Kopo adalah korban pelecehan seksual di kendaraan umum. Pengalaman pahit para perempuan inilah yang mendorong mereka mencari perlindungan diri. Keterampilan bela diri terbukti membuat perempuan merasa lebih berdaya atas dirinya.

Ibu dua anak ini menambahkan, meski memiliki keterampilan bela diri, membela diri bukan berarti menjadi jagoan dengan mengumbar keahlian. "Bela diri praktis untuk perempuan lebih kepada shock therapy kepada pelaku. Tujuannya untuk mencegah pelaku berbuat hal yang lebih membahayakan perempuan korban. Langkah pencegahan ini memberikan kesempatan kepada perempuan korban untuk melepaskan diri dari bahaya, dan lari jika memungkinkan kondisinya. Perempuan jangan hanya diam, karena jika diam, pelaku akan jauh lebih berani bertindak," tegas Lia.

Upaya bela diri oleh perempuan juga mengurangi tindakan kejahatan terhadap perempuan, bahkan risiko kematian. "Remaja puteri hingga TKW perlu dibekali ilmu bela diri praktis seperti ini agar mereka mampu melindungi dan menyelamatkan diri dalam keadaan tak aman," tandasnya.

Ingin bergabung?

Women Self Defense of Kushin Ryu
Jl. Kopo Cetarip Timur II/4, Bandung 40234
Telp: 022-520 8219, 0857 2245 3857
E-mail: wsdk_bdg@yahoo.co.id

 


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Dini
BERITA LAIN: