Sabtu, 1 November 2014
Malinda Dee, Sosialita yang Salah Kaprah?
Kamis, 7 April 2011 | 12:39 WIB
|
Share:
BEST EYE CANDY

Di luar negeri, sosialita adalah kalangan yang memang berasal dari keluarga kaya atau seseorang yang berpengaruh dan punya kemampuan.

KOMPAS.com — Perempuan berpenghasilan tinggi dengan gaya hidup sekelas sosialita boleh jadi jumlahnya tidak banyak di Indonesia. Namun, kelas sosialita di Indonesia terbukti ada. Namun, banyak yang salah kaprah. Gaya hidup yang dijalani sebatas untuk mendapatkan pengakuan atas kekayaannya, untuk membangun citra diri semu.

Pengamat gaya hidup, Fira Basuki, dan penulis buku serial Miss Jinjing, Amelia Misniari, adalah contoh dua perempuan yang bersentuhan dengan kalangan sosialita. Menurut kedua perempuan ini, banyak sosialita di Indonesia yang salah kaprah. Dalam bincang-bincang di program 8-11 Show di Metro TV pagi tadi, Kamis (7/4/2011), keberadaan dan gaya hidup sosialita Indonesia dipertanyakan.

Mengapa sosialita di Indonesia salah kaprah? Fira mendefinisikan sosialita sebagai seseorang yang memiliki karakter kuat untuk menggerakkan masyarakat, membagi sesuatu yang lebih kepada orang lain untuk menghasilkan sesuatu yang lebih.

"Di luar negeri, sosialita adalah kalangan yang memang berasal dari keluarga kaya atau seseorang yang berpengaruh dan punya kemampuan. Mereka mampu menarik masyarakat menjadi sesuatu hal yang positif. Jadi, ada sosok pribadi yang menonjol dalam diri sosialita, bukan berkelompok seperti kebanyakan di Indonesia," ungkap Fira.

Pada kesempatan lain, motivator muda Bong Chandra mengatakan, mereka yang terjebak dalam kesenangan, tak mampu menunda kesenangan, dan menikmati penderitaan sementara adalah kalangan yang fokus pada lifestyle dan mengabaikan wealthstyle. Gaya hidup tak sesuai kemampuan kemudian mendorong mereka cenderung mengambil jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Mereka ingin merasakan kenyamanan yang semu. Kalangan ini tak mampu hidup dalam ketidaknyamanan dan menjadi manusia yang tak bertumbuh.

Amelia mempunyai pandangan yang sedikit berbeda. Menurutnya, di Indonesia, sosialita berkontribusi terhadap masyarakat secara berkelompok. "Kalaupun mereka mengadakan penggalangan dana, misalnya, mereka beramal ramai-ramai, tak ada sosok yang menonjol," kata Amelia. Namun ia sepakat, yang menonjol dari karakter sosialita di Indonesia adalah gaya hidupnya. Mereka saling menandingi dalam hal kepemilikan sejumlah barang bermerek hingga barang mewah, termasuk kendaraan.

Kasus Malinda Dee menjadi contoh nyatanya.

"Di Indonesia, sosialita adalah mereka yang naik Ferrari, punya barang bermerek, eksis di pesta, beramal ramai-ramai, kurang banyak sosok pribadi yang menonjol," ungkap perempuan yang berprofesi sebagai personal buyer ini.

Menurutnya, kebanyakan sosialita di Indonesia menghabiskan dana jutaan untuk perawatan tubuh dan kecantikan. Biaya perawatan tubuh lebih tinggi dibandingkan anggaran belanja tas yang bernilai ratusan juta per buahnya.

"Saat menghadiri pesta atau peluncuran program bank yang bekerja sama dengan merek tertentu, kalangan sosialita itu enggak berbelanja. Mereka lebih banyak menghabiskan uang untuk manicure pedicure dan perawatan lainnya. Mereka bahkan sudah tidak tahu caranya mencuci rambut sendiri. Gaya hidup yang juga tinggi adalah, saat menghadiri pesta mereka, harus mengenakan busana bermerek beserta aksesori dengan merek sama dari ujung rambut ke ujung kaki. Sulit untuk memasuki kalangan sosialita dan bertahan di antara mereka," lanjutnya.

Fira menambahkan, sosialita seharusnya memiliki sesuatu yang dibanggakan dan mempunyai penghargaan atas dirinya, nilai kemanusiaan dan kejujuran, dan bukan sesuatu yang semu. "Seharusnya, sosialita memiliki kepercayaan diri, menggali dan mempelajari kelebihan diri. Kalau tidak, mereka akan menggunakan topeng di balik sesuatu yang palsu dan semu," kata Fira.

Sosialita, terutama perempuan, harusnya menjadi inspirasi, memiliki kekuatan dan karakter yang membanggakan, serta berkontribusi terhadap masyarakatnya. Perempuan kalangan atas seharusnya tidak dilihat dan menonjol karena menjadi istri tokoh ternama. Sosok sosialita dalam arti sebenarnya bisa didapati dari diri Dewi Soekarno.

"Ada sosok sosialita, Dewi Soekarno, tapi itu sudah lama sekali. Saat ini sosialita sudah bergeser definisinya," tutup Fira.


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Dini
BERITA LAIN: