Minggu, 20 April 2014
Valas
Awali Pekan, Rupiah Melemah
Senin, 18 April 2011 | 10:56 WIB
|
Share:
KOMPAS/RIZA FATHONI

Staf penukaran valuta asing di kawasan Kwitang, Jakarta, memeriksa lembaran dollar Amerika Serikat.

JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta pada Senin pagi melemah 10 poin menjadi Rp 8.670 per dollar dibanding penutupan akhir pekan lalu Rp 8.660, karena pada awal perdagangan terjadi pelepasan rupiah.

Direktur Currency Management Group Farial Anwar di Jakarta, Senin (18/4/2011), mengatakan, posisi rupiah sepanjang pekan lalu berada dalam kisaran sempit dan berfluktuasi. "Karena itu, koreksi harga yang terjadi pada Senin ini dinilai merupakan hal yang wajar," katanya.

Menurut Farial, peluang rupiah untuk naik mencapai Rp 8.600 per dollar cukup besar dan koreksi yang terjadi saat ini kemungkinan Bank Indonesia berusaha menahannya. "BI menginginkan rupiah tidak terlalu cepat mencapai ke level Rp 8.600 per dollar meski kenaikan rupiah dinilai tidak menggerus pendapatan Indonesia dari ekspor," katanya.

Pasar uang Indonesia masih positif apalagi fundamental ekonomi dinilai baik, seperti cadangan devisa yang terus meningkat hingga mencapai 112 miliar dollar AS.

Karena itu, rupiah masih berpeluang untuk naik lagi, tetapi kapan kenaikan itu terjadi hingga mencapai Rp 8.600 per dollar sulit diperkirakan. "Kami optimistis apabila pasar eksternal positif akan mendorong pelaku asing kembali bermain di pasar domestik melakukan aksi beli rupiah dan saham sehingga mata uang Indonesia akan mengalami kenaikan cukup berarti," tuturnya.

Ia mengatakan, rupiah seharusnya sudah dapat mencapai level Rp 8.600 per dollar, tetapi terlihat sulit untuk mencapai level tersebut karena ada hambatan dari pasar. "Apabila pergerakan rupiah mengikuti perkembangan pasar, kemungkinan besar mata uang Indonesia sudah berada di bawah level tersebut dan mendekati angka Rp 8.500 per dollar," ucapnya.

"Kami menyadari BI juga mempunyai kepentingan dengan pergerakan rupiah yang cenderung menguat karena kenaikan yang berlanjut kurang menguntungkan," ucapnya.

Editor :
Erlangga Djumena