Kamis, 24 Juli 2014
Bagaimana Starbucks Bangkit dari Krisis
Kamis, 5 Mei 2011 | 09:28 WIB
|
Share:
KOMPAS.COM/C12-11

Buku "Onwards" karya Howard Schultz, yang menceritakan tentang perjuangan Howard saat Starbucks mengalami krisis.

KOMPAS.com — Hidup tak selamanya berjalan mulus. Ada kalanya manusia maupun perusahaan harus mengalami krisis. Ada yang berhasil melewatinya, namun ada pula yang menyerah. Howard Schultz adalah salah satu yang berhasil melewati krisis yang dialami perusahaan miliknya, Starbucks.

Kisah perjuangan Schultz membawa Starbucks keluar dari krisis dituangkan dalam sebuah buku berjudul Onward: How Starbucks Fought for Its Life without Losing Its Soul. Buku ini resmi dirilis di Indonesia bulan Mei 2011.

Howard Schultz adalah Chairman, President, dan CEO Starbucks. Tahun 2001, Schultz mundur dari jabatan CEO dan mengurangi kegiatan operasional sehari-hari. Selama delapan tahun mengawasi, Starbucks pun mengalami krisis yang memuncak pada tahun 2008. Pada tahun itu Schultz memutuskan kembali menduduki jabatan CEO dan berusaha mengeluarkan Starbucks dari krisis. Konsep Starbucks Experience mengalami perubahan demi pertumbuhan ekonomi, dan Schultz bertekad membuat Starbucks kembali kepada nilai-nilai dasar, sekaligus memperbaiki kesehatan secara finansial.

Melalui Onward, Schultz berbagi cerita bagaimana ia kembali ke perusahaan tersebut dan seberapa besar transformasi yang dilakukannya setelah itu. Ia membuka semua rahasia, bagaimana pada saat kondisi ekonomi paling buruk dalam sejarah, Starbucks justru berhasil mendapatkan profit.

"Ada satu tempat di California yang kumuh, dan salah satu store Starbucks ada di wilayah tersebut. Akhirnya Howard mengirimkan memo kepada top management untuk menyikapi hal ini agar store Starbucks tidak ikut-ikutan kumuh begitu. Tetapi, memo ini kemudian dijual ke media dan akhirnya dipublikasikan ke seluruh dunia dengan simpang siur. Kisah bocornya memo ini juga diceritakan Howard dalam bukunya," ujar Farah Milda, General Manager-Operations Starbucks, saat bedah buku di Kinokuniya Bookstore, Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (4/5/2011).

Schultz juga pernah menutup seluruh toko Starbucks di Amerika Serikat untuk beberapa jam demi keperluan training karyawan. "Keputusan ini secara ekonomi merugikan karena berapa kerugian jika toko tutup tiga jam? Namun, ternyata keputusan berani Howard tersebut justru membawa dampak baik bagi Starbucks. Banyak konsumen mencari-cari Starbucks, bahkan sengaja datang untuk minum kopi sebelum ditutup. Setelah buka kembali, para konsumen puas dengan hasil training dengan meningkatnya kualitas kopi yang dijual," tutur Farah.

Sebelumnya Schultz juga pernah menulis buku tentang Starbucks dengan judul Pour Your Heart into It (Hyperion; 1997). "Perbedaan buku pertama dan kedua ini adalah bahwa buku pertama lebih bercerita tentang how to build company, sedangkan buku kedua lebih kepada bagaimana mempertahankan perusahaan pada saat krisis. Jadi memang dua buku ini sangat berbeda," tambah Farah.

Selain bicara tentang manajemen dan entrepreneurship, buku ini juga memberikan penjelasan tentang produk Starbucks itu sendiri. Dimulai dari pemilihan bahan baku kopi, cara mengolah kopi, mencampur bahan minuman, mesin pembuat kopi, standar toko, sampai pembuatan merchandise.

Di Indonesia, Farah berharap buku ini bisa mengedukasi konsumen tentang produk yang dikonsumsinya. "Kami mengharapkan customer juga memberikan feedback setelah membaca buku ini melalui e-mail," ungkap Farah. Feedback bisa dikirimkan via e-mail ke: feedback@starbucks.co.id.

Di Amerika, tur buku Onward telah dimulai di kota New York sejak tanggal 29-30 April 2011, dilanjutkan ke beberapa kota lain. Akhir bulan April, terjemahan buku Onward ini hadir di China, Jepang, Korea, Taiwan, Thailand, Inggris, Rusia, dan Brasil. Pada September 2011, Onward  rencananya juga akan diterjemahkan dan diterbitkan di Perancis, Jerman, dan Spanyol.

Di Indonesia, buku Onward bisa didapatkan di beberapa toko buku, termasuk juga di sebagian besar toko Starbucks dengan penawaran khusus. Untuk pembaca tunanetra, The National Braille Press menawarkan buku Onward dalam format e-Braille yang bisa di-download secara gratis melalui situs: http://www.nbp.org/ic/nbp/ONWARD.html.

Tentunya Starbucks Experience yang selalu diusung Schultz untuk pelanggannya semakin lengkap. Anda bisa menambah pengalaman bersama Starbucks dengan membaca buku berkualitas ini, sambil menyeruput kopi di berbagai store Starbucks.


Penulis :
C12-11
Editor :
Dini
BERITA LAIN: