Sabtu, 26 Juli 2014
Pameran Fashion Tanpa Busana
Sabtu, 7 Mei 2011 | 19:40 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Banar Fil Ardhi

Perancang busana Stella Rissa berkolaborasi dengan Jay Subyakto, menciptakan instalasi dan video, berjudul "Bosex". Tema fashion ditafsirkan Stella dan Jay dalam karya seni kontemporer, dipamerkan dalam Dysfashional pada 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

KOMPAS.com - Dunia mode dan fashion ditafsirkan berbeda dalam pameran seni kontemporer, Dysfashional #6 Jakarta. Dua perancang busana ternama Indonesia, Oscar Lawalata dan Stella Rissa turut andil mecipta karya seni di pameran ini, bersanding bersama tiga seniman Indonesia lainnya, dan belasan seniman Eropa. Namun di ajang ini, jangan berharap Stella dan Oscar menampilkan koleksi busana terbarunya. Pameran delapan hari ini menampilkan instalasi, video dan karya seni konstemporer, terinspirasi dari fashion, namun tanpa pameran busana.

Pameran yang berlangsung 8-15 Mei 2011 di Galeri Nasional Indonesia ini digelar oleh Centre Culturel Francais Jakarta, bekerjasama dengan Goethe-Institut dan disponsori oleh majalah Dewi. Sekitar 15 karya seni kontemporer ditampilkan dalam pameran fashion tanpa menunjukkan pakaian ini. Dysfashional di Jakarta merupakan kelanjutan dari pelaksanaan pameran serupa di Luxembourg (2007), Lausanne (2008), Paris (2009), Berlin dan Moskow (2010).

Menurut kurator Italia di balik Dysfashional, Luca Marchetti dan Emanuele Quinz, seniman di setiap negara memiliki karakter khas dan nilai lokal berbeda, yang memperkaya karyanya. Namun yang menarik dari seniman Indonesia, bagi kedua kurator ini, adalah kemampuan improvisasi, mencipta karya dalam waktu yang cepat, dan memerhatikan setiap detil dari karyanya.

"Seniman muda Indonesia punya konsep dan tujuan yang jelas, dan melahirkan ide segar dalam meciptakan karyanya. Mereka melihat detil pada proses dan material dari karya yang dibuat. Termasuk para perancang busana yang membuat karya bertema fashion dalam bentuk instalasi. Prinsipnya, semua karya di pameran ini menunjukkan kultur lokal, identitas personal. Setiap seniman memiliki sudut pandang sendiri dalam melihat fashion. Karya di pameran ini menyederhanakan fashion menjadi karya yang aspirasional dan indah. Ajaibnya, para seniman Indonesia mampu menciptakan karya lebih cepat. Kemampuan ini tak mudah ditemui pada seniman lain di Eropa," jelas kurator Luca Marchetti, dalam konferensi pers Dysfashional #6 Jakarta di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu (7/5/2011).

Kurator Italia ini terkesima dengan proses kreatif seniman Indonesia dalam mecipta karya untuk Dysfashional. Rata-rata, mereka mencipta karya dalam waktu satu minggu. Maklum, persiapan pameran ini dimulai Februari 2011 lalu. Penyelenggara dan seniman hanya punya waktu tiga bulan untuk mematangkan kegiatan termasuk dalam proses produksi karya seni.

Pameran yang punya misi sebagai wadah kolaborasi budaya Eropa dan Indonesia ini punya makna lebih bagi Ni Luh Sekar, pemimpin redaksi majalah Dewi. "Talenta muda Indonesia berhak mendapatkan kesempatan tampil di panggung yang lebih besar, di kancah internasional. Pameran seperti ini menjadi salah satu caranya untuk tampil di panggung dunia. Selain juga merangsang desainer muda Indonesia untuk melatih dirinya memikirkan konsep fashion dengan selangkah lebih maju. Merangsang mereka bereksplorasi tanpa dibatasi apapun," jelas Ni Luh Sekar kepada Kompas Female di sela pembukaan pameran untuk media.

Bagi Sekar, Dysfashional #6 Jakarta ini menjadi ajang bagi stakeholder fashion di Indonesia, untuk mensejajarkan posisinya di kancah internasional. "Melalui pameran ini, stakeholder fashion dirangsang untuk melihat sesuatu lebih mendalam, tak hanya dalam hal gaya namun juga dari sisi nilainya. Tugas kami adalah memprovokasi, agar kegiatan seperti ini bisa langgeng, dan mampu memberikan kesempatan bagi desainer lokal untuk menunjukkan karyanya, sejajar dengan seniman lainnya di tingkat dunia," tutupnya.

 

 


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa
BERITA LAIN: