Kamis, 21 Agustus 2014
Jakarta Fashion & Food Festival 2011
Kain Tradisional dalam Koleksi "Ready-to-Wear"
Sabtu, 21 Mei 2011 | 23:55 WIB
|
Share:
DOK JFFF 2011

Desainer Stephanus Hamy mengenalkan koleksi Earthnic, dari tenun ikat NTT dalam busana ready-to-wear model jaket, kemeja dan blouse, di Jakarta Fashion & Food Festival 2011.

KOMPAS.com — Citra kain tradisional kini makin terangkat di dunia fashion. Panggung mode di Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) 2011 menampilkan ragam koleksi busana ready-to-wear dengan sentuhan kain tradisional karya para perancang lokal. Kain tradisional dirancang dengan konsep modern, edgy, modis, sehingga menambah pesonanya.

Desainer ternama yang tergabung dalam Ikatan Perancang Muda Indonesa (IPMI) menampilkan konsep busana bergaya etnik dengan ragam pilihan kain tradisional. Sebut saja kain lurik Jawa, tenun ikat NTT, tenun sutera Makassar, tenun Badui, tenun Garut, kain Jambi, dan songket Bali, yang semuanya dirancang menjadi koleksi busana siap pakai.

Era Sukamto dengan tenun Badui dan Garut
Peragaan busana IPMI "Ethnic" pada Senin (16/5/2011) lalu menampilkan Era Sukamto dengan koleksi busana dari tenun bertema "Sonata". Era mengangkat tenun Badui dengan teknik gedogan dan tenun ATBM Garut, dengan motif geometris. Motif tenun yang kaya makna ditafsirkan Era dengan busana ringan, romantis, modern, lengkap dengan detail menarik yang menonjolkan feminitas perempuan. Penafsiran Era dalam busana koleksinya terinspirasi dari makna tenun Badui yang memiliki arti cinta universal, cinta empat arah, atau dimensi paralel antara Tuhan, leluhur, alam, dan sesama manusia.

Barli Asmara dengan tenun sutera Makassar

Anggota baru IPMI, Barli Asmara, untuk pertama kali hadir di JFFF kedelapan. Busana ready-to-wear rancangan Barli memesona dengan mengangkat kain tenun sutera Makassar atau dikenal sutera Bugis (Lippa Sabe). Koleksi busananya bertema "Ecletic" dengan warna kalem dan feminin, seperti pink dan ungu. Barli membuktikan, rancangannya memberikan kesan tradisional modern pada busana siap pakai dalam balutan tenun Makassar.

"Kain tradisional sebagai inspirasi jangan dianggap tidak bisa tampil modern, edgy," katanya saat konferensi pers menjelang peragaan busana di Hotel Harris Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (17/5/2011).

Stephanus Hamy dengan tenun NTT

Hamy tampil dalam dua kali show dalam satu malam. Pertama, Hamy menampilkan koleksi second line miliknya, "Earthnic". Satu panggung dengan Barli, Hamy mengawali peragaan busana dengan mengeluarkan koleksi jaket wanita dari tenun Nusa Tenggara Timur. Motif tenun Sumba yang identik dengan gambar binatang, terlihat apik dirancang dalam model jaket oleh Hamy. Ragam motif tenun NTT hadir dalam desain berbeda dengan sentuhan jebolan Lomba Perancang Mode Femina 1983 ini. Kesan modern, feminin, kental terasa dalam koleksi "Earthnic".

"Setiap daerah punya tenun, dan pasar tenun tradisional semakin baik. Permintaan tenun juga tinggi, satu dua tahun terakhir tenun semakin booming. Namun, kemampuan sumber daya masih terbatas. Karena itu, saya menggunakan tenun ATBM, bukan gedog, tetapi juga tidak menggunakan tenun yang terbuat dari mesin. Tenun mesin menghilangkan nilai tradisi dari tenun itu sendiri. Setiap perajin tenun punya hasil yang berbeda meski motifnya serupa. Perajin mengerjakannya dengan penuh perasaan sehingga tenun memiliki nyawa," kata Hamy.

Lagi-lagi, tenun menjadi primadona, disukai pasar dan dicintai perancang yang menafsirkan ragam tenun Nusantara dalam koleksi busananya. Menurut Hamy, peminat tenun terus bertambah seiring dengan banyaknya kegiatan yang menjadikan tenun sebagai dress code. Kain tenun tak lagi hanya digunakan sebagai selendang. Kini, kain tenun semakin elok melekat di tubuh sebagai rok, jaket, atau blus wanita.

"Dulu jualan busana kain tenun itu susah. Saya sudah delapan tahun menggunakan tenun NTT. Namun, kini permintaan semakin banyak, bahkan kesulitan untuk memenuhi permintaan khusus untuk tenun gedog," aku Hamy, yang juga menggelar pertunjukan tunggal "Jambi to Bali" seusai menampilkan koleksi "Earthnic".

Selain tenun, Hamy juga menangkap keindahan kain tradisional Jambi dan kain songket Bali. Ia kemudian merancang busana berlabel Hamy Culture, dengan padu-padan jaket, celana panjang, rok paduan kain Jambi, dan songket Bali.

Musa Widyatmodjo dengan lurik Jawa

Lain lagi dengan desainer kenamaan Musa Widyatmodjo. Bersama mitranya, Yogi Soegyono, Musa merancang kain lurik Jawa dalam model busana siap pakai untuk perempuan modern yang tegas, cerdas, dan elegan. Ia menamakan koleksinya "The Luric(she)ll", mewakili citra perempuan yang memiliki tekad kuat, dengan mengaplikasikan lurik dalam busana smart-casual hingga cocktail.

"Kain lurik Jawa diolah menjadi bahan utama busana maupun sebagai aksen. Kain lurik sejalan dengan tren fashion tahun ini dengan elemen garis," kata Musa dalam konferensi pers di Hotel Haris Jakarta, Jumat (20/5/2011).


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
Dini
BERITA LAIN: