Jumat, 25 Juli 2014
Pola Makan Sehat Antisipasi "Hidden Hunger"
Rabu, 22 Juni 2011 | 17:22 WIB
|
Share:
Shutterstock

Ilustrasi

KOMPAS.com — Tubuh membutuhkan asupan mineral yang seimbang. Sumber mineral bisa berasal dari sayuran, buah, biji-bijian, hingga susu. Sayangnya, kualitas kandungan mineral pada banyak sumber makanan ini terus menurun. Kondisi lingkungan yang tercemar memengaruhi kandungan mineral dalam sumber makanan. Inilah salah satu penyebab terjadinya hidden hunger atau malanutrisi mineral. Selain penyebab lain yakni asupan mineral dalam menu harian yang belum seimbang. Faktanya, hampir 20 tahun terakhir, sebagian besar masyarakat dunia mengalami malanutrisi mineral. Indonesia termasuk negara yang mengalami hidden hunger .

Prof Dr Ir Maggy Thenawidjaja Suhartono, MSc, Biochemist dan Guru Besar Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Bogor, mengatakan, belum ada riset yang menyebutkan sejauh mana level hidden hunger di Indonesia. Namun, sejumlah riset di Amerika menunjukkan kandungan mineral pada sumber makanan seperti buah dan sayur terus menurun.

"Status hidden hunger di Indonesia adalah sebagai warning, setiap orang perlu hati-hati. Akibat dari defisiensi mineral memang tidak terasa dalam waktu cepat, namun akan terasa dalam jangka waktu lama. Namun, saat ini pada kalangan tertentu, misalnya, perempuan usia matang, dampaknya mulai terasa. Gejala penuaan menjadi salah satu akibat yang ditimbulkan dari malanutrisi mineral. Sementara di desa, bisa ditemui penderita gondokan, ini pertanda hidden hunger," jelasnya saat konferensi pers HiLo bertema "Lingkungan Hijau Menciptakan Hidup Lebih Sehat dengan Mineral" di E-Corner Epicentrum Walk, Jakarta, Selasa (21/6/2011) lalu.

Asupan sayur dan buah yang minim dalam menu harian Anda memengaruhi terjadinya hidden hunger dalam satu keluarga. Karenanya, pastikan menu harian di rumah memenuhi pola makan sehat dengan gizi seimbang. Kalaupun Anda sudah cukup rajin mengonsumsi buah, sayur, susu, atau sumber mineral lainnya, pastikan makanan tersebut mengandung mineral tinggi. Pasalnya, saat ini kandungan mineral pada bahan makanan sumber mineral semakin menurun karena pengaruh lingkungan.

Negara "hijau" dengan green index yang baik memiliki sumber mineral yang lebih baik. Artinya, sayuran, buah, dan susu dari negara "hijau" dengan lingkungan hijau yang masih alami memproduksi sumber mineral dengan kualitas yang jauh lebih baik. Green index menjadi ukuran suatu negara yang dinilai ramah lingkungan dengan memiliki lingkungan hijau sehat. Saat ini 10 besar negara dengan green index terbaik masih berasal dari Eropa. Indonesia masih berada pada peringkat ke-134 dari total 163 negara.

Gejala kekurangan mineral
Mineral penting untuk kesehatan tubuh. Prof Maggy mengatakan, mineral baik dikonsumsi setiap hari dan bermanfaat menyalurkan dan membangkitkan sistem elektrik dalam tubuh agar fisik tampil prima. Gejala kekurangan mineral bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Gejalanya seperti sering mengalami sakit kepala, pening, migran, daya ingat berkurang, kurang konsentrasi, gemetar, gugup, kejang otot, mual, muntah, atau kesemutan.

Lebih lanjut, Prof Maggy menjelaskan, mineral memiliki fungsi penting yang memengaruhi kerja organ tubuh sehingga kekurangan asupan mineral dalam menu harian bisa menyebabkan berbagai masalah, seperti osteoporosis, gangguan tulang, gangguan otot, dan kulit. Malanutrisi mineral juga menyebabkan penyakit diabetes tipe 2 serta berbagai gangguan tubuh lainnya, seperti lemah otot, tekanan darah menurun, anemia, gangguan sistem kekebalan tubuh, hingga penyakit yang sering kali dialami seperti diare dan muntah.

Solusi
Untuk menghindari berbagai gejala dan gangguan tubuh akibat malanutrisi mineral, ada dua langkah yang bisa dijalankan. Susana STP, MSc, PDEng, Head of Nutrifood Research Center for XT Life Division, menawarkan dua solusi yang bisa dilakukan untuk merespons masalah hidden hunger ini.

"Solusi pertama adalah dengan meningkatkan asupan gizi seimbang, terutama asupan gizi pada orang dewasa yang saat ini masih sangat kurang. Solusi kedua, secara bertahap, kita perlu meningkatkan kesadaran lingkungan hijau. Meski lingkungan hijau di negara-negara Eropa masih lebih baik, dan menghasilkan sumber mineral berkualitas, bukan berarti kita harus terus-menerus impor bahan makanan berkualitas. Jika kesadaran lingkungan hijau di Indonesia terus meningkat, sumber mineral berkualitas juga bisa didapatkan dari tanah Indonesia," jelasnya.

Mengenai kebutuhan mineral, Prof Maggy menambahkan, kebutuhan setiap orang berbeda. Perbedaan kebutuhan mineral setiap individu dipengaruhi oleh faktor usia, aktivitas, kondisi kesehatan, dan cadangan nutrisi dalam tubuh. Asupan mineral pada diri seseorang dikatakan cukup atau kurang juga dipengaruhi dari sumber mineral yang diasupnya, termasuk kualitas sumber mineral. Semakin berkualitas sumber mineral yang diasup, kebutuhan mineral seseorang semakin tercukupi dengan baik.


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa
BERITA LAIN: