Sabtu, 20 Desember 2014
Harusnya Tinja Mengapung atau Tenggelam?
Kamis, 14 Juli 2011 | 17:57 WIB
|
Share:
OPRAH.COM

Kesan pertama dari kotoran bisa diketahui dari suaranya ketika nyemplung ke dalam air, kata Dr Oz.

KOMPAS.com - Ketika sedang menunaikan "kewajiban" di toilet, pernahkah Anda memperhatikan bagaimana rupa hasil buangan Anda? Menyimak tinja yang masuk ke kloset bukan suatu kegiatan yang dilakukan untuk iseng, lho. Mengetahui bagaimana bentuk, warna, bau, hingga apakah tinja mengapung atau tenggelam di dasar kloset, bisa memberikan informasi mengenai pola makan kita dan apakah tubuh kita mencernanya dengan baik.

Pada dasarnya, tinja adalah hasil akhir dari tubuh dalam memproses nutrisi yang diperlukan dari makanan, dan membuang sisanya. “BAB penting bagi kesehatan, karena hal itu merupakan cara alami tubuh dalam mengeluarkan sampah dari tubuh," tukas Eric Esrailian, MD, kepala seksi gastroenterology di David Geffen School of Medicine at UCLA.

Kondisi kotoran yang normal tergantung dari apa yang biasa terjadi pada Anda. Ingin tahu bagaimana kondisi feses yang normal, perhatikan hal berikut.

Suaranya ketika jatuh. Kesan pertama dari kotoran bisa diketahui dari suaranya ketika nyemplung ke dalam air. "Jika suaranya seperti bom, 'plop, plop, plop', hal itu kurang baik karena artinya Anda mengalami sembelit. Artinya (sisa) makanan terlalu keras ketika tiba waktunya dikeluarkan. Seharusnya tinja masuk ke air seperti ketika seorang penyelam terjun ke air, swoosh... begitu," kata Dr Mehmet Oz, ahli bedah kardiotoraks dari Columbia University.

Frekuensinya. “Tidak ada ukuran normal mengenai frekuensi BAB, yang ada adalah rata-rata," ujar Bernard Aserkoff, MD, dokter di GI Unit, Massachusetts General Hospital, Boston. Yang disebut rata-rata tersebut bisa sekali atau dua kali sehari, namun banyak pula orang yang BAB lebih dari dua kali sehari. Ada yang dua hari sekali baru BAB, bahkan ada yang hanya sekali atau dua kali seminggu. Selama Anda masih merasa nyaman, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Warnanya. Tinja biasanya berwarna coklat, diakibatkan oleh air empedu yang diproduksi di liver. Menurut Aserkoff, hal ini diperlukan untuk proses pencernaan. Makanan yang kita makan umumnya membutuhkan waktu tiga hari, sejak dikonsumsi, hingga berakhir di toilet. Jika proses pembuangan itu berlangsung lebih cepat, tinja biasanya akan berwarna kehijauan, karena hijau adalah satu dari warna-warna pertama dalam proses pencernaan. Warna tersebut juga harus diwaspadai jika perubahannya terjadi secara drastis. "Jika warnanya hitam, itu bisa berarti Anda mengalami pendarahan di dalam, kemungkinan akibat luka atau kanker," katanya.

Kotoran yang berwarna lebih terang, seperti abu-abu, juga perlu diwaspadai jika hal itu berbeda dari biasanya. Meskipun tidak sering terjadi, kotoran yang berwarna terang bisa merupakan gejala penyakit liver.

Ukuran dan bentuknya. "Bentuknya seharusnya seperti huruf S, dan Anda harus yakin warnanya normal, karena warna tinja menunjukkan bagaimana Anda menghasilkannya," ujar Dr Oz. Bentuknya harus utuh memanjang. Makanan (yang sehat) sebenarnya bisa menjadi "obat" bagi tubuh Anda. Tinja yang terpotong-potong sebelum Anda selesai mencerna makanan menandakan Anda tidak cukup menyisakannya untuk dikeluarkan dengan cara yang benar. Kemungkinan, makanan itu juga melukai usus yang harus memprosesnya.

Bau.
Wajarlah bila feses berbau tak sedap. Jika Anda meninggalkan toilet setelah BAB dan baunya masih tertinggal hingga 1 atau 2 jam sesudahnya, hal ini juga normal. Bahkan, bisa jadi merupakan pertanda baik karena isi perut Anda dipenuhi dengan bakteri yang bekerja keras untuk menjaga Anda tetap sehat. Isi perut Anda diserbu oleh milyaran bakteri yang meningkatkan sistem pencernaan dan proses metabolisme. Bakteri inilah yang menjadi penyebab mengapa kotoran berbau, yaitu akibat aktivitas bakteri di dalam perut Anda.

Mengapung atau tenggelam? Apakah mengambang atau tenggelam, tergantung dari apa yang Anda makan. Pola makan yang baik menyebabkan feses tenggelam di dasar kloset. Artinya, Anda mengonsumsi cukup banyak serat dan nutrisi lainnya. Sedangkan kotoran akan mengapung bila Anda mengonsumsi terlalu banyak lemak. Peningkatan kadar nutrisi dalam tinja yang disediakan untuk bakteri normal yang hidup di saluran pencernaan, akan menghasilkan lebih banyak gas. Bila gas itu tak punya kesempatan untuk keluar (sebagai kentut), akibatnya tinja yang mengandung gas itu mengapung.

Oleh karena itu, jangan pernah menahan kentut. Menurut Dr Oz, rata-rata orang akan kentut 14 kali dalam sehari. Dan, kurang dari satu persennya biasanya berbau.

Berdarah? Bila Anda sudah lama tidak BAB, ketika akhirnya BAB, tinja menjadi keras. Lalu, tinja yang keras melukai anus sehingga berdarah. Namun kadang-kadang darah juga muncul saat Anda tidak mengalami sembelit. Menurut Esrailian, darah yang ada dalam kotoran adalah salah satu peringatan yang paling menuntut perhatian. Darah bisa merupakan gejala dari masalah yang lebih besar, seperti kanker. Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter, terutama bila keluarga Anda memiliki sejarah penyakit kanker usus besar.

(Dari berbagai sumber)


Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini
BERITA LAIN: