Jumat, 1 Agustus 2014
Menembus Bisnis Fashion di Luar Negeri
Rabu, 24 Agustus 2011 | 09:11 WIB
|
Share:
ARDISTIA NEW YORK

Ardistia Dwiasri, saat mengenalkan koleksi signature 2011-2012, Relaxed Elegance, di Jakarta.

KOMPAS.com - Bagi desainer profesional, mampu mendesain busana saja tidak cukup. Jika ingin berkarier di industri fashion, desainer harus mampu memikirkan sisi bisnis dari busananya, sehingga terpacu untuk membangun brand sendiri, memiliki butik sendiri, dan memasarkannya secara luas baik di dalam dan luar negeri.

Bisnis fashion ini dimulai dari hal yang paling awal, yakni fashion show. Desainer tak perlu sungkan mengajak desainer handbag, sepatu, dan aksesori, untuk berkolaborasi. Biaya penyelenggaraan fashion show pun bisa didapat dari sponsor. Hal ini juga pernah dirasakan Ardistia Dwiasri, perancang busana yang juga pendiri brand Ardistia New York.

Agar mendapat kepercayaan sponsor, wanita yang akrab disapa Disti ini mencoba mengikuti berbagai kompetisi fashion agar namanya dikenal terlebih dahulu. “Setelah memenangkan kompetisi-kompetisi tersebut kan biasanya diberi ksempatan untuk mengadakan fashion show. Kesempatan itu saya gunakan untuk memperkenalkan siapa saya dan bagaimana karya saya,” ujar Disti dalam talkshow mengenai “Style Market” di fX Plaza, Jakarta, Jumat (19/8/2011) lalu.

Setelah itu, Disti kemudian mengadakan fashion show sendiri, bekerjasama dengan banyak desainer. Ia juga sering mengikuti berbagai trade show di Eropa dan Asia yang memungkinkan karyanya lebih dikenal. Baginya, jika seseorang telah menyukai sesuatu, maka segala hal akan berjalan dengan sendirinya.

“Lakukan sesuatu yang benar-benar disukai, maka hasrat ingin sukses akan tumbuh dan kita akan menemukan solusi-solusi terbaik dengan sendirinya,” ungkap wanita yang telah tinggal di New York lebih dari 15 tahun ini.

(Baginya, bisa menembus pasar New York bukan datang karena keberuntungan. “Bukan berarti karena saya kuliah dan lama di New York maka saya bisa sukses di sini. Belum tentu orang yang lama di Indonesia tidak bisa lebih sukses dari saya. Belum tentu juga semua orang yang ada di New York bisa sukses di kota itu. Semua tergantung usaha masing-masing,” ungkap Disti.

Ide mendirikan perusahaan di bidang fashion tercetus sejak tahun 2005. Setelah menyusun business plan-nya pada tahun 2006, tahun 2007 koleksi pertamanya mulai diluncurkan di New York)

“Untuk bisa menembus pasar internasional, kita harus melakukan riset standar industri fashion internasional dan global, misalnya mengetahui standar tren fashion berdasarkan kalender fashion week dan sebagainya. Lalu pelajari target market di tiap negara yang kita tuju. Misalnya kita ingin memasarkan produk di Kanada, maka kita harus tahu selera fashion mereka bagaimana, iklim disana seperti apa, dan seterusnya,” jelas Disti.

Ketika sudah berhasil menembus pasar internasional, untuk mempertahankan agar brand tetap unggul, Disti menyarankan untuk selalu menyiapkan sesuatu yang baru dan unik. “Di negara barat misalnya, ada empat musim. Coba di setiap musim kita gelar fashion show berisi koleksi terbaru. Atau di sela-sela musim, kita buat fashion show mini berisi koleksi terbaru. Kalau sulit, minimal setahun dua kali deh, mengeluarkan koleksi terbaru,” tutur Disti.

Selain itu, yang juga harus diperhatikan adalah memaksimalkan peran media. Misalnya, bekerja sama dengan majalah fashion di negara tertentu untuk mensponsori peragaan busana yang kita gelar. Atau, memberi rilis produk terbaru agar majalah fashion tersebut memuat item fashion di salah satu rubrik. “Apalagi jika ada artikel tentang profil desainer, itu sangat membantu,” kenang Disti, berbagi strateginya untuk mencuri perhatian media.

Harus balance
Kegigihan sangat dibutuhkan seorang desainer untuk tetap bertahan di industri fashion. Desainer harus memiliki passion agar ia kuat menghadapi tantangan yang menghadang kariernya. Tantangan terbesar yang dihadapi Disti adalah sulitnya menemukan keseimbangan antara desain yang dibuatnya dengan permintaan industri.

"Harus ada balance di antara keduanya, dan itu saya jadikan tantangan, bukan hambatan,” ungkap desainer yang gemar mendesain dengan ciri khas modern, tidak terpaku tren tertentu, dan serbaguna ini.

Mendirikan perusaan Ardistia New York bukanlah hal mudah. Ia juga pernah merasakan jatuh-bangun dan sulitnya menyatukan visi-misi dengan rekan-rekan kerjanya yang berasal dari Asia dan Amerika. Namun, kesulitan-kesulitan itu tak pernah membuatnya ingin berhenti. “Kalau udah suka, kita tidak bisa berhenti begitu saja. Ada keinginan untuk selalu meraih yang terbaik,” ujar Disti.

Menurutnya, orang yang belum pernah ke luar negeri pun bisa menembus pasar internasional, asal memiliki kesiapan mengikuti ritme persaingan di luar negeri. Seorang desainer harus siap dengan jumlah pesanan yang banyak, dan tenggat waktu yang sempit. Buyer tentu tidak mau tahu mengapa desainer tidak dapat memenuhi pesanannya. Intinya, desainer harus mampu memenuhi pesanan yang sudah disepakati.

"Satu lagi, kualitas bahan dan desain. Mereka sangat teliti memperhatikan kualitas bahan dan desain yang sesuai dengan iklim mereka. Makanya sekali lagi saya bilang, riset itu sangat penting, dan kita juga harus siap mengikuti ritme industri fashion di berbagai negara yang berbeda,” tutup Disti.


Penulis :
Tenni Purwanti
Editor :
Dini
BERITA LAIN: