Minggu, 26 Oktober 2014
Demam dan Revolusi Kaftan
Kamis, 1 September 2011 | 21:57 WIB
|
Share:
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Meski bukan termasuk model baru dalam dunia mode, desain kaftan saat ini sudah penuh variasi.

KOMPAS.com - Belakangan ini banyak acara formal maupun nonformal mensyaratkan kaftan sebagai dress code, yaitu busana yang dianjurkan dikenakan tamu yang akan hadir.

Pertokoan dari kelas Tanah Abang hingga mal mewah juga didominasi kaftan di bagian pakaian perempuan. Hampir semuanya berwarna cerah. Ada yang menyukai kaftan karena sifatnya yang ringan serta bisa dikenakan pada acara resmi maupun santai. Kaftan yang ada di pasaran umumnya berukuran panjang dengan hiasan ”bling-bling” berupa payet, mute, dan batu-batuan.

”Karena sudah ramai dengan hiasan di bagian dada, saya tidak perlu lagi menggunakan kalung. Cukup gelang dan anting,” kata Ochi Apri Daryanti (30), seorang karyawati di Jakarta yang selama bulan Ramadan ini harus menghadiri acara buka bersama— setidaknya dua kali—dengan dress code kaftan.

Selain menghadiri acara di luar kantor, Ochi juga terkadang memakai kaftan saat bekerja. Berbeda dengan yang dikenakan pada saat berkumpul dengan temannya, kaftan untuk ke kantor lebih bergaya kasual dengan panjang selutut dan hiasan yang lebih sederhana berupa bordir.

Selain bisa membuat dirinya tampil modis, kaftan rupanya punya fungsi. ”Karena potongannya lebar, kaftan bisa menutupi kekurangan yang merupakan kelebihan di tubuh saya, yaitu kelebihan lemak, ha-ha-ha,” kata Ochi yang mengenakan kaftan setelah melahirkan.

Di pusat belanja, tren kaftan tak hanya bisa dilihat pada merek-merek ritel. Para perancang busana turut merasakan tren tersebut dengan tingginya permintaan dari konsumen.

”Sebenarnya sudah dua tahun terakhir kaftan menjadi tren di Jakarta. Tetapi tahun ini permintaannya lebih tinggi,” kata perancang busana Muslim, Merry Pramono, yang 75 persen pesanan konsumennya berdesain kaftan.

Meski bukan termasuk model baru dalam dunia mode, desain kaftan saat ini sudah penuh variasi. ”Misalnya dengan memberi aplikasi draperi di bawah dada, hiasan payet, mute, atau memakai dua warna berbeda dalam satu baju,” kata Merry.

Selain Merry, banyak perancang lain yang memperlihatkan variasi kaftan dalam berbagai acara peragaan busana selama Ramadhan. Ghea Panggabean, misalnya, dalam acara yang berlangsung di Pasaraya Blok M, pertengahan Agustus, menampilkan warna warni desain kaftan dari material jumputan gringsing asal Palembang. Selain itu, ada Raden Sirait yang menyuguhkan kreasi kaftan dalam gradasi warna dan kerutan di bawah dada.

Mendunia
Sejak pertama kali dikenal di Persia, 600 tahun sebelum Masehi, kaftan memang telah berevolusi sesuai wilayah budaya pemakai busana tersebut. Di negeri asalnya, kaftan dikenal sebagai pakaian laki-laki yang terbuat dari katun atau sutera dengan panjang hingga engkel dan dikenakan dengan memakai sash (selendang yang diikatkan di pinggang).

Kaftan yang dikenakan perempuan, seperti yang banyak kita kenal, berasal dari Maroko. Itu mengapa ada istilah kaftan Maroko saat akan membeli kaftan. Di keluarga kerajaan Maroko, pakaian ini dikenakan untuk acara resmi, seperti kumpul keluarga dan acara pernikahan. Di wilayah lain di luar kerajaan, kaftan bisa bergaya kasual hingga mewah tergantung pada material yang digunakan dan untuk acara apa kaftan tersebut dipakai.

Untuk gaya kasual, kaftan pendek bisa dipadukan dengan celana panjang. Bisa juga tanpa celana panjang seperti yang sering terlihat dalam peragaan busana bertema musim semi/panas.

Di sisi lain, kaftan juga bisa berfungsi sebagai gaun malam. Apalagi jika terbuat dari sutera buatan tangan dengan bordir emas atau perak. Bisa dikenakan dengan atau tanpa ikat pinggang.

Awal tahun 1950-an, seperti pernah diulas dalam situs Vogue Italia, mode bergaya Timur Tengah, termasuk kaftan, mulai memasuki budaya barat. Perancang Christian Dior dan Yves Saint Laurent menjadikan kaftan sebagai elemen mode internasional. Laurent menempatkan bordir dengan pola yang indah dan dikenakan model di panggung peragaan busana.

Kaftan desain Laurent menjadi populer ketika dipamerkan oleh aktris Belanda kelahiran Indonesia, Talitha Getty (1940-1971), yang merupakan simbol dari gaya hippie. Getty mengenakan kaftan dengan banyak perhiasan dan berpose di atap sebuah bangunan di Marrakesh. Dampaknya, sejak era 1960-an, kaftan menarik perhatian pencetus tren bergaya hippie.

Para selebriti yang hidup di zaman itu pun mulai terpengaruh kaftan, termasuk ikon yang terkenal karena gayanya yang elegan seperti ikon mode Marella Agnelli dan Jacqueline Kennedy.

Di zaman sekarang, kaftan tak jarang menjadi pilihan bintang Hollywood untuk tampil di acara ”karpet merah”. Apalagi, para desainer, seperti Valentino dan Roberto Cavalli, menyediakan kaftan bagi para bintang ini. Penelope Cruz dan Cate Blanchett termasuk yang cukup sering mengenakan kaftan. Angelina Jolie juga pernah mengenakannya saat hamil dan menghadiri acara Festival Film Cannes.

Tak ketinggalan, si seksi Jennifer Lopez juga pernah membalut tubuhnya dengan kaftan karya Valentino ketika menghadiri Academy Awards 2003. Modelnya terinspirasi dari kaftan yang pernah dikenakan Jacqueline Kennedy.

(Yulia Sapthiani)

 


Editor :
Dini
BERITA LAIN: