Kamis, 23 Oktober 2014
Melukis Kuku dengan "Gel Nail"
Selasa, 6 September 2011 | 08:26 WIB
|
Share:
BLOSSOM NAILS

3D Gel Nail Extension

KOMPAS.com - Seni mengecat kuku atau biasa disebut nail art terus berubah. Tahun ini, misalnya, mengacu pada pekan mode busana musim semi/panas yang berlangsung di New York. Tren ini berbeda dengan tahun lalu yang bertema gotik.

”Untuk musim gugur, trennya biasanya berbeda. Terkadang, tren diambil dari yang ada di film,” kata Sandra, pemilik tempat spa kuku Blossom Nails di Jakarta.

Seperti halnya tren busana, tren seni mewarnai kuku di Indonesia tak hanya dipengaruhi tren internasional. Perayaan hari besar, seperti Idul Fitri, Natal, Imlek, dan Valentine, juga turut berpengaruh pada desain.

Untuk momen Natal, misalnya, orang biasanya akan meminta dilukiskan gambar-gambar pohon natal, sinterklas, dengan nuansa warna merah. Sementara untuk Valentine, gambar berbentuk hati dan nuansa warna merah muda menjadi favorit.

Momen lain, seperti pernikahan dan penyelenggaraan kejuaraan sepak bola Piala Dunia, juga bisa menjadi inspirasi untuk menciptakan motif baru. Ketika berlangsung Piala Dunia, konsumen biasanya akan meminta dilukiskan warna bendera negara yang menjadi favorit.

”Orang Indonesia biasanya lebih menyukai motif dan warna yang lembut, kecuali ketika akan menikah. Sementara orang Jepang lebih berani dalam memilih warna dan motif karena sudah menjadi gaya hidup mereka. Suatu hari pernah ada nenek-nenek orang Jepang meminta kuku kakinya dilukis dengan warna dan motif berbeda-beda,” tutur Sandra.

Konsumen di Blossom Nails, yang berada di Hotel Intercontinental Mid Plaza dan Apartemen Golf Pondok Indah, memang didominasi orang Jepang. Hal ini bisa dimaklumi karena Jepang adalah salah satu negara kiblat mode, termasuk untuk seni melukis di atas kuku.

Teknik
Selain motif dan warna, teknik dan bahan untuk melukis kuku juga berubah. Rinny Nawi, pemilik salon kuku Meji Mejiku di Cengkareng, Jakarta Barat, menjelaskan, seni melukis di kuku terus berkembang sesuai perkembangan teknologi, mulai dari yang menggunakan cat kuku biasa, stempel, bahan akrilik berupa serbuk warna-warni, gel nail, hingga bahan organik.

Motif juga terus berkembang. Gambar yang kita kehendaki bisa dibuat lebih hidup dengan menggunakan efek tiga dimensi (3D). Caranya, dengan menempelkan batu permata atau kristal Swarovski, yang populer di Indonesia dalam dua tahun terakhir, atau gambar-gambar 3D yang diiris tipis dan ditempel di atas kuku yang disebut fimo.

”Saat ini, banyak pula konsumen perempuan yang menggemari teknik gradasi. Dengan teknik ini, kuku yang pendek dapat terlihat lebih panjang,” kata Rinny.

Di Blossom Nails, Sandra menjelaskan, teknik yang tengah disukai konsumen adalah melukis dengan menggunakan gel atau yang biasa disebut gel nail. Bahan ini, dikatakan Sandra, memiliki kelebihan tahan lama, terlihat lebih alami, dan bahannya tidak berbau seperti akrilik yang dicampur cairan monomer.

Untuk seni lukis kuku menggunakan gel, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan kultikula kuku agar gel tak mudah lepas. Setelah kuku dalam kondisi keruh, gel bening diaplikasikan lalu dipanggang di bawah sinar ultraviolet.

”Setelah itu kuku diwarnai, dipanggang lagi, dilukis, diberi gambar 3D atau kristal. Proses terakhir adalah dipanggang lagi dan diberi top coat agar hasilnya terlihat mengilat,” ujar Sandra.

Kebiasaan mempercantik diri dengan mewarnai kuku diperkirakan ada sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Ketika itu, orang China menggunakan semacam lapisan sekali pakai di kuku mereka. Setelah beberapa jam didiamkan, muncullah warna merah muda di permukaan kuku. Di India, para perempuan mewarnai kuku mereka dengan menggunakan bubuk dari tanaman henna yang meninggalkan warna merah kecoklatan.

Tak hanya mempercantik bagian tubuh, warna kuku juga melambangkan status sosial seseorang di daerah tertentu, seperti yang berlaku di Mesir. Orang dengan status sosial tinggi akan menggunakan warna merah, sedangkan dari kelas yang lebih rendah hanya boleh memakai warna pucat.

Di abad ke-19, melukis di atas kuku diawali dengan kepopuleran manicure di berbagai salon di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, di tahun 1920-an, teknik mewarnai mobil menjadi inspirasi untuk mewarnai kuku.

Revlon, menjadi perusahaan pertama yang memopulerkan produk cat kuku dan mencapai puncak ketenaran di tahun 1940-an.

Cat kuku juga menjadi media untuk mengomunikasikan identitas kelompok, seperti kelompok gotik dan para penyanyi rock yang menyukai warna hitam untuk kuku mereka.

Di era 1990-an, mewarnai dan seni melukis di atas kuku memasuki panggung mode, dan menjadi pencetus tren.

(Yulia Sapthiani)


Editor :
Dini
BERITA LAIN: