Senin, 28 Juli 2014
Home / /
Kasus Asusila
Diancam Mutasi, Korban Pelecehan di BPN Tutup Mulut
Rabu, 14 September 2011 | 14:22 WIB
|
Share:

Ilustrasi: Pelecehan seksual

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaku pelecehan seksual terhadap tiga orang bawahannya di Badan Pertanahan Nasional (BPN) ternyata memiliki banyak cara dalam mengintimidasi korban. Seusai melakukan tindakan tak bermoralnya, pelaku memaksa korban untuk tutup mulut.

Kuasa hukum korban, Ahmad Jazuli, menuturkan, korban diancam akan dimutasi ke Papua apabila berani membuka tindakan yang dilakukan G. "Supaya tidak membocorkan, korban katanya bisa dimutasi sampai ke Papua. Korban tidak berani dan akhirnya memilih diam," ucap Jazuli, Rabu (14/9/2011), saat dihubungi wartawan.

Dia melanjutkan, hal lain yang dilakukan G, yang merupakan direktur di Direktorat Pengaturan dan Penetapan Tanah BPN, adalah dengan meminta maaf kepada korban dan suami korban.

"Dia sudah minta maaf kepada ketiga korban dan suami-suaminya. Dia pun berjanji untuk mengundurkan diri," kata Jazuli.

Untuk membuat korban tak angkat bicara, pelaku juga sempat membesarkan hati korban dengan iming-iming melanjutkan studi dan barang-barang. "Korban dibilang akan disekolahkan lagi dan diberikan barang-barang," tutur Jazuli.

Namun, semua janji G tidak ada yang terealisasi, termasuk janjinya untuk mengundurkan diri.

"Dari pihak atasan pelaku pun tidak ada tindakan apa-apa. Akhirnya, kami melaporkan kasus ini ke Polda Metro," ucap Jazuli.

Sebelumnya, G (44), direktur di Direktorat Pengaturan dan Penetapan Tanah BPN, dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Pelaku G diduga sudah melancarkan aksi cabulnya sejak tahun 2010 kepada tiga korban, yaitu AIF (22), AN (25), dan NPS (29).

Terungkapnya kasus itu berawal dari NPS yang mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari G sekitar Juli 2011 lalu. NPS menceritakan kepada rekan kerjanya yang juga bawahan G, berinisial AIF dan AN, terkait peristiwa pelecehan seksual tersebut. Dari cerita NPS ini, akhirnya terbongkar kasus serupa yang menimpa AIF, yang merupakan sekretaris G, dan staf lainnya, yakni AN.

"AIF menjadi korban paling lama. Sudah setahun mengalami pelecehan seksual dari G dari tahun 2010," ujar Jazuli.

Sementara NPS mendapatkan perlakuan pelecehan seksual sejak Juli 2011 sebanyak dua kali dan AN sekitar Mei-Juni 2011. Bentuk pelecehan seksual yang dilakukan G adalah dengan meraba-raba tubuh korban. Pelaku dilaporkan dengan Pasal 294 Ayat 2 KUHP tentang Pencabulan dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara.

Selain membuat laporan, korban juga menyertakan bukti rekaman berisi pengakuan pelaku melakukan pelecehan seksual di hadapan beberapa orang, termasuk suami korban.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Penulis :
Sabrina Asril
Editor :
Hertanto Soebijoto
BERITA LAIN: