Minggu, 31 Agustus 2014
Pesona Batik Nusantara dalam Koleksi Perancang Dunia
Jumat, 30 September 2011 | 13:33 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/BANAR FIL ARDHI

Sebastian Gunawan mengangkat tema "The Nyonya Glam", menampilkan dress batik elegan dengan menonjolkan kekhasan batik Pekalongan.

KOMPAS.com - Indonesia mengukuhkan perannya sebagai tuan rumah batik melalui World Batik Summit 2011. Ragam motif batik, dengan keindahan corak dan kearifan lokal serta sejarah di baliknya menjadi sumber kekayaan budaya milik Indonesia. Batik juga cantik diaplikasikan dalam ragam model busana siap pakai. Mulai gaun malam yang elegan, seksi, juga mewah, hingga dress kasual yang modis. Di tangan 11 perancang kenamaan dari Indonesia, Jepang, China, Malaysia, batik nusantara kian memesona.

World Batik Summit 2011, berlangsung mulai 28 September hingga 2 Oktober 2011, di Jakarta Convention Center. Di hari kedua, acara Malam Budaya pun digelar, mengapresiasi penggiat batik di Indonesia. Sejumlah pengharagaan juga diberikan kepada pembatik hingga berbagai pihak yang berperan dalam mengembangkan batik sebagai warisan budaya bangsa, yang diakui dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Perancang busana tak ketinggalan menampilkan batik dalam busana siap pakai berkesan modern, modis, tanpa meninggalkan kekhasan batik. Desainer Indonesia, Chossy Latu membuka peragaan busana dengan koleksi bertema "Twilight Garden". Sebanyak 10 set pakaian siap pakai bernuansa hitam dan putih, yang menjadi ciri khasnya, ditampilkan.

"Inspirasi motif batiknya dari batik Pekalongan, pembatiknya juga asli Pekalongan. Namun saya mengolah batik lebih modern dan elegan. Batik tapi bukan kebaya. Bahannya pun menggunakan taffeta silk jadi agak lebih berat," jelas Chossy yang ditemui Kompas Female sesuai pagelaran busana, di Jakarta, Kamis (29/9/2011) lalu.

Batik Pekalongan ditampilkan berbeda dengan sentuhan Chossy. Model busana batik siap pakai karya Chossy berkesan megah, dengan jaket yang elegan. Tak hanya Chossy yang melirik batik Pekalongan sebagai inspirasi, juga bahan utama pembuatan busananya. Masih dari Indonesia, Sebastian Gunawan juga apik menampilkan busana batik.

Menghadirkan batik Pekalongan yang kaya warna, Sebastian Gunawan mengangkat tema "The Nyonya Glam", menampilkan dress batik berkesan seksi elegan. Gaun malam one shoulder memberikan kesan modern pada motif batik khas Pekalongan, dengan warna cerah. Sebastian menampilkan tujuh set busana batik khusus untuk kaum hawa.

Perancang, kolektor, pecinta batik dari Jepang, Kaoru juga jatuh hati dengan batik Pekalongan. Namun Kaoru bereksplorasi dengan tak hanya terpaku pada satu jenis batik saja. Melalui busana batik kasual, masih untuk perempuan, Kaoru menggabungkan motif batik kuno dengan batik modern, perpaduan unsur budaya Jepang dan Indonesia. Selain Pekalongan, Kaoru menampilkan batik tua Madura, Solo, Cirebon, Yogyakarta dan batik motif Hokokai.

Koleksi Parang Kencana dan Danar Hadi memperkaya pilihan koleksi busana batik. Keduanya menampilkan lebih banyak koleksi busana batik untuk pria. Danar Hadi menampilkan busana pria yang modern, mewah, elegan dengan tetap menonjolkan kharisma batik. Keunikan batik kental menonjol lewat rancangan busana pria Danar Hadi.

Sementara perancang dari China, Lu Kun, menafsirkan batik Danar Hadi dengan versinya sendiri. Mengangkat tema "Miss Shanghai" Lu Kun sukses memukau penikmat batik dan fashion, dengan koleksi terusan panjang yang sederhana namun elegan, menonjolkan kekhasan batik Indonesia. Lu Kun, salah satu desainer yang dipercaya Paris Hilton untuk merancang busana untuknya, menampilkan delapan set busana siap pakai, menggunakan material batik Indonesia, Danar Hadi.

Parang Kencana, dengan motif bunga besar berwarna toska, fuchsia, dusty pink dan merah, memberikan nuansa cerah sarat gradasi warna sebagai ciri khasnya. Sembilan set busana batik, perempuan dan laki-laki, ditampilkan untuk memberikan lebih banyak pilihan gaya berbusana dengan batik nusantara.

Malaysia, melalui perancangnya, Deanoor menampilkan dress batik pendek berkesan kasual. Deanoor yang sukses mengibarkan sayap hingga ke Milan, Paris, dan New York, mengangkat batik Madura yang dikombinasikannya dengan batik Parang Kencana.

Di tangan perancang dunia ini, Indonesia memposisikan diri sebagai si empunya ragam motif batik serta berbagai kreasi busana batik yang juga bisa tampil modern, elegan, sarat tradisi.

Peragaan busana yang terbagi menjadi dua sekuen ini juga menampilkan koleksi Carmanita dengan batik klais, Bi dengan batik Madura, Bantul, Cirebon dikombinasikan dengan batik eyelet motif boneka Rusia matryoshka. Ramli dengan batik prada, dan pagelaran ditutup dengan koleksi kebaya anggun, modern nan elegan dengan kain batik Solo dan Yogyakarta, rancangan Anne Avantie.

Pada kesempatan yang sama, sebagai bentuk pelestarian budaya, Yayasan Batik Indonesia selaku penyelenggara, bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia menyerahkan penghargaan kepada pemenang lomba rancang motif batik dari kalangan mahasiswa.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa
BERITA LAIN: