Kamis, 24 April 2014
CakCuk, Kaos Kata-kata Suroboyoan
Jumat, 28 Oktober 2011 | 10:34 WIB
|
Share:
FACEBOOK

Surabaya terkenal dengan warganya yang ceplas-ceplos dalam berbicara, yang mungkin bagi sebagian orang dianggap kasar. Inilah yang menginspirasi munculnya CakCuk.

KOMPAS.com - Ingin mencari buah tangan untuk rekan, kerabat, atau sahabat, tapi bosan membeli yang itu-itu saja? Tak perlu ragu untuk mencoba melongok ke toko yang menjual cenderamata unik berupa kaos kata-kata. CakCuk dari Surabaya, misalnya.

Peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2005 silam, menjadi tonggak sejarah tersendiri bagi Dwita Roesmika, SE, Ak  (35). Pasalnya, di hari itu usaha pembuatan kaos kata-kata Suroboyoan miliknya mulai diperkenalkan ke masyarakat. “Proses pembuatan usaha ini enggak membutuhkan waktu lama. Hanya hitungan minggu,” tutur mantan karyawan sebuah perusahaan besar tingkat nasional itu.

Dwi, begitu pria ini biasa disapa, tak menyangka usahanya dapat berkembang pesat hingga seperti saat ini. Tak banyak harapan muluk ketika ia mulai membuka usahanya ini. “Awalnya, cuma ingin mengisi waktu luang di hari Sabtu dan Minggu. Selain itu, usaha ini adalah bentuk kegusaran saya, kenapa Surabaya tidak punya oleh-oleh yang khas seperti daerah lain. Kalau pun ada, ya, cuma itu-itu saja. Akhirnya, terpikir untuk bikin oleh-oleh alternatif. Saya pilih kaos sebagai medianya.”

Surabaya terkenal dengan warganya yang ceplas-ceplos dalam berbicara, dan berani mengungkapkan isi pikiran dengan kata-kata, yang mungkin bagi sebagian orang dianggap “kasar”.

“Tapi, di Surabaya itu sudah biasa, itu namanya misuh. Agar semakin menarik dan mudah diingat, saya memilih nama CakCuk. Cak adalah panggilan akrab di Surabaya yang artinya sama dengan Mas atau Bang. Kalo Cuk, ya itu juga kata yang biasa diucapkan,” ungkap Dwi ketika ditemui di salah satu toko CakCuk miliknya di jalan Mayjend Sungkono No. 35, Surabaya.

Bermodal Rp 5 juta, Dwi memulai usahanya melalui pameran di Balai Pemuda. “Saya bikin 400 kaos dengan 20 desain. Awalnya, agak sulit memasarkannya. Wajarlah, namanya juga barang baru. Lakunya saat itu cuma 5 kaos per minggu. Tapi, saya enggak patah semangat, saya terus ikut berbagai pameran dan membuka stand di berbagai acara. Alhamdulillah, setahun kemudian mulai dikenal dan makin banyak pelanggannya,” tutur pria yang kini sudah memiliki 25 karyawan ini.

Ratusan desain
Setelah usahanya makin mapan, tahun 2008 Dwi memutuskan untuk benar-benar fokus mengelola CakCuk. Dwi pun keluar dari pekerjaannya sebagai Senior Accounting. “Sekarang, saya sudah punya empat toko sendiri, dan sekarang juga kaos CakCuk ada di lima cabang swalayan yang bekerjasama dengan saya.”

Agar pelanggan tak bosan, lanjutnya, setiap bulan ia mengeluarkan tiga sampai lima desain kaos baru. Ia juga memiliki enam tema kaos. Yaitu, tema nasional, Surabaya Kota Pahlawan, Surabaya Esek Esek, Surabaya Kota Makanan, Surabaya Tempo Doeloe, dan desain nyeleneh yang berisi kata-kata misuh.

Meski kini sudah ada ratusan desain yang dibuatnya, “Ada saja pelanggan yang minta desain lama. Bahkan mereka rela menunggu beberapa hari untuk dibuatkan,” ucap Dwi, yang juga menerapkan paket diskon dan bonus untuk menarik semakin banyak pelanggan. “Apalagi di masa liburan, pasti akan semakin ramai pembelinya,” sambung Dwi yang kini memiliki omzet per bulan sekitar Rp 120 juta.

Satu kaos produksi CakCuk harganya Rp 64.000. Namun Dwi terpaksa menaikkan harganya, menyusul kenaikan barang baku dan proses pembuatannya. "Ini saja saya belum naikkan lagi, soalnya kalau dihitung dengan biaya produksi dan lain-lain, satu kaos harusnya dijual Rp 95 ribu. Tapi kalau saya naikkan, enggak enak sama pelanggan. Kalaupun harga harus naik, saya juga harus meningkatkan kualitas produksi dengan menggunakan bahan-bahan terbaik.”

Selain menjual produknya secara langsung, Dwi juga menggunakan sistem penjualan online. Melalui media ini pelanggan CakCuk justru semakin banyak. Karena, orang-orang di kota lain bisa ikut memesannya. Bahkan, ada juga pemesan dari Amerika.

Seiring dengan perkembangan usahanya, ada beberapa yang meniru usaha serupa. Dwi sebenarnya tidak mempermasalahkan adanya usaha serupa. "Tapi, yang jadi masalah, mereka meniru desain CakCuk. Memang tidak setiap desain saya patenkan, tapi tidak menutup kemungkinan saya melayangkan somasi terhadap mereka karena menggunakan desain CakCuk tanpa izin,” tegas Dwi.

Selanjutnya, pria lajang ini berharap usahanya dapat terus berjalan baik dan mampu melebarkan sayap bisnisnya. “Memang ada tawaran buka toko di daerah lain, tapi saya tolak. Saya ingin CakCuk tetap ada di Surabaya dan hanya bisa ditemukan di Surabaya. Sekarang, saya sedang mencari lokasi baru untuk buka usaha, tidak cuma untuk menjual kaos, tapi juga akan jadi tempat nongkrong. Orang Surabaya bilang 'nyangkruk',” tutupnya.

Outlet CakCuk di Surabaya:
1. Jl. Mayjen Sungkono 35
2. Jl. Dharmawangsa 35

3. Jl. Ahmad Yani 263
4. Bandara Juanda  Surabaya (depan Gate 4)
5. Carrefour Golden City
6. Carrefour Ngagel
7. Carrefour A. Yani
8. Carrefour ITC
9. Carrefour Bubutan

(Tabloid Nova/Edwin Yusman F)

Editor :
Dini
TERKAIT: