Jumat, 19 Desember 2014
Home / /
Kapan Pendidikan Seks Masuk Kurikulum?
Rabu, 30 November 2011 | 18:26 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Tenni Purwanti

Dokter Boyke Dian Nugraha dan Ratanjit Das (General Manager Reckitt Benckiser Indonesia - produsen Durex), dalam jumpa pers pemaparan Sexual Wellbeing Global Survey di Jakarta, Rabu (30/11/2011)

Kompas.com - Penyakit HIV/AIDS meski belum bisa disembuhkan namun bisa dicegah. Sayangnya pengetahuan masyarakat akan penyakit ini masih rendah sehingga masih banyak yang percaya pada berbagai mitos yang salah.

Dalam hasil riset Sexual Wellbeing Global Survei yang dilansir Durex di Jakarta (30/11) terungkap 82 persen orang Indonesia membutuhkan informasi yang benar mengenai penyakit HIV/AIDS. Survei dilakukan secara global dengan melibatkan 1.015 orang di Indonesia.

Pengetahuan akan reproduksi dan pendidikan seks yang sehat menurut dr.Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, seharusnya dimasukkan dalam kurikulum sekolah "Mungkin bisa dimulai dengan ekstra kurikuler pendidikan seks dulu, baru perlahan masuk jadi kurikulum resmi," ungkapnya dalam jumpa pers di Jakarta.

Ia menjelaskan pendidikan seks yang wajib dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan adalah pengetahuan seputar sistem reproduksi, bahaya seks bebas, serta resiko penularan penyakit-penyakit kelamin termasuk herpes, maupun informasi mengenai HIV/AIDS.

"Tidak perlu takut memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum, karena belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa pendidikan seks menyebabkan angka seks bebas meningkat. Justru penelitian di Kyoto, menyatakan sebaliknya karena generasi muda lebih mengetahui resiko-resikonya, bukannya malah merangsang," jelasnya.

Selain dari pemerintah, dia juga menyarankan agar para orang tua tidak menganggap tabu pembicaraan seks dengan anak. "Sejak usia 10 tahun, atau menjelang anak memasuki masa menstruasi dan mimpi basah, anak sudah harus diberi informasi yang memadai mengenai pendidikan seks," katanya

Selain orang tua dan pemerintah, informasi seputar pendidikan seks dan HIV/AIDS juga diharapkan datang dari media massa, terutama televisi karena banyak masyarakat di pedalaman sulit mengakses informasi dari media cetak atau internet.

"Kita bisa mencoba memasukkan informasi tentang pendidikan seks dan HIV/AIDS ini ke dalam sinetron, film, atau musik misalnya, yang lebih mudah dicerna. Jangan cuma ribut memberitakan soal demo-demo hari anti AIDS sedunia, lalu selesai sampai disitu," tutupnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Penulis :
Tenni Purwanti
Editor :
Lusia Kus Anna
BERITA LAIN: