Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Imajinasi Liar 8 Desainer Muda
Penulis : Wardah Fazriyati | Kamis, 1 Desember 2011 | 23:20 WIB
|
Share:
Instalasi fashion karya Adesagi dipamerkan di PMR Cube, 1-6 Desember 2011 di Sampoerna Strategic Square, Jakarta.

KOMPAS.com - Selama enam hari, pameran seni rupa kontemporer PMR Cube berlangsung di atrium Sampoerna Strategic Square Jakarta. Ini bukan pameran seni yang biasa. Pasalnya, desainer busana muda dan bertalenta, turut menuangkan ide dalam instalasi fashion tanpa peragaan busana.

Desainer kenamaan Indonesia, Sebastian "Seba" Gunawan, selaku kurator fashion di pameran ini memastikan, ada delapan desainer yang berani menampilkan instalasi fashion.

"Dari sembilan desainer yang merespons positif kegiatan ini, ada delapan yang akhirnya menampilkan karyanya dalam pameran," kata Seba kepada Kompas Female di sela pembukaan pameran, Kamis (1/12/2011).

Delapan desainer muda yang berani unjuk gigi dengan imajinasi kreatifnya adalah Andreas Odang, Adesagi Kierana, Barli Asmara, Deden Siswanto, Didit Hediprasetyo, Jeffry Tan, Sapto Djojokartiko, Steven Huang.

Menurut Seba, pameran produk fashion di kegiatan seni rupa kontemporer dapat menjadi pilihan cara berpromosi dan membangun citra berbeda sosok desainer.

"Keterlibatan desainer dalam acara ini juga menunjukkan desainer muda Indonesia punya konsep dalam mendesain, bukan hanya tukang jahit atau merancang busana made to order," jelas Seba seusai jumpa pers.

Desainer yang terlibat dalam pameran seni rupa ini ditantang untuk menghadirkan fashion dalam konsep berbeda. Mereka harus memikirkan rangkaian cerita, memiliki konsep dan nilai seni dalam produk fashion yang mereka pamerkan.

Para perancang berbeda karakter ini, baik yang eksentrik, kontemporer atau perancang yang terbiasa medesain baju cantik, harus membawakan fashion dengan gaya pameran seni kontemporer.

"Perbedaan utamanya terletak pada konsep display," kata Seba membandingkan konsep fashion dalam pameran seni dan panggung mode. Delapan desainer ini nyatanya memang menghadirkan pertunjukkan baru yang menyegarkan dengan imajinasi "liar".

Beberapa membawakan koleksi baru khusus untuk pameran seni rupa, sebagian lagi menampilkan koleksi lama yang ditampilkan berbeda. "Para desainer muda ini menampilkan satu sampai tiga busana yang memberikan satu kesatuan jalinan cerita seni kontemporer," kata Seba.

Imajinasi desainer busana

Adesagi misalnya, ia sengaja merancang satu gaun khusus untuk pameran ini. Desainer yang merancang konsep instalasi hanya dalam tiga hari ini memberi judul karyanya "Drowning In Your Love".

Lain lagi dengan Barli yang memamerkan empat gaun yang dirancangnya menggunakan teknik makram. Gaun ini pernah ditampilkannya dalam pagelaran busana Trend Show 2012 Ikatan Perancang Mode Indonesia beberapa waktu lalu. Merek produk pewarnaan rambut asal Paris, juga menggunakan gaun Barli ini dalam hairshow di Jakarta belum lama ini.

Steven menghadirkan konsep fashion bernilai seni yang lebih ekstrem. Instalasi fashion diberinya judul "Generation Gap". Lain lagi dengan Didit, ia memajang tiga busana berwarna putih yang diberinya tema "Mooncaster".

Jeffrey memamerkan tiga busana, satu busana pria, dua di antaranya adalah gaun. Menggunakan topeng dari ukiran kayu bernuansa Jawa, ia memberi judul instalasi fashionnya "Wedding Obsession". Sementara karya Deden berjudul "Lovely Nagari" menyambut tamu undangan di pintu utama area pameran dengan gaun mewah keemasan.

Andreas punya konsep lebih ekstrem dalam memamerkan busana rancangannya. Seperti Barli yang menggantung busana rancangannya, Andreas menghadirkan nuansa dramatis dengan mengantung manekin bergaun putih. Judul instalasinya, "I Don't Want You To See Me This Way".

Sapto, salah satu desainer muda yang menutup pekan mode Jakarta Fashion Week 2012, 18 November lalu juga punya ide serupa dengan Barli dan Andreas. Ia menggantung dua busananya berhadapan, lengkap dengan sepatu ala Jepang serupa yang dikenakan modelnya di peragaan busana penutupan JFW 2012 lalu. Karya instalasi fashionnya diberi nama "Misogyny, Harted of Women".

Bagi penikmat fashion, belum lengkap jika tak berkunjung ke pameran seni rupa ini. Fashion memiliki sisi lain yang ditampilkan tanpa model dan runway.

"Fashion adalah bagian dari seni, cara kerjanya sama. Bedanya, seniman menuangkan imajinasinya berdasarkan keadaan sosial budaya di sekitarnya. Sedangkan desainer harus berinteraksi dengan pemakai saat menciptakan karya. Di pameran ini, desainer busana berdampingan dengan seni rupa. Desainer juga bisa melihat bahwa fashion tidak hanya interaksi dengan pemakai. Fashion juga bisa berdiri sendiri, sebagai seni," tandas Seba.

Penasaran? Nikmati karya delapan desainer ini di PMR Cube yang berlangsung hingga 6 Desember 2011, di Sampoerna Strategic Square Jakarta.

Editor :
wawa