Jumat, 24 Oktober 2014
Agar Perempuan Tak Terinfeksi HIV-AIDS
Jumat, 2 Desember 2011 | 12:48 WIB
|
Share:
Shutterstock

Perempuan perlu lebih peduli kesehatan reproduksi, bahkan mewaspadai keputihan, untuk mencegah terinfeksi HIV-AIDS.

KOMPAS.com - Dunia memeringati hari AIDS setiap 1 Desember 2011. Peringatan setiap tahun juga dimaknai sebagai momen meningkatkan kewaspadaan dan langkah pencegahan. Inilah juga yang dilakukan yayasan Spirit Paramacitta, yang bergerak di bidang pemberdayaan orang dengan HIV-AIDS (Odhiv) dan penyuluhan untuk pencegahan. Mengedukasi perempuan juga menjadi sasaran yayasan yang berlokasi di Denpasar, Bali ini.

Kepada Kompas Female, Putu Utami Dewi, Ketua Yayasan Spirit Paramacitta, menegaskan pentingnya perempuan memberdayakan dirinya untuk mencegah terinfeksi HIV-AIDS. Putu menyebutkan data, di Bali, data penderita HIV-AIDS terus terungkap. Bukan berarti bertambah banyak. Hanya saja, kasus dan penderita semakin terkuak dengan semakin meningkatnya kesadaran memeriksakan diri dan banyaknya orang yang datang untuk melakukan konseling.

Estimasi Odhiv di Bali sekitar 7.295 pada 2009, meningkat dari sekitar 3.000-4.000 Odhiv pada 2007. Sebanyak 68 persen Odhiv adalah laki-laki, dan 32 persennya perempuan. Odhiv di Bali kebanyakan berada dalam kisaran usia 20-39 tahun. Namun sejak Oktober 2011 lalu, kasus HIV-AIDS juga banyak ditemui pada anak-anak yang terinfeksi dari orangtuanya.

"Bali berada di posisi kelima, sebagai daerah dengan jumlah Odhiv terbesar di Indonesia. Jakarta dan Papua masih berada di urutan satu dan dua teratas," kata Putu seusai menerima donasi lebih dari Rp 200 juta dari kosmetik MAC di Jakarta, Kamis (1/12/2011) lalu.

Perempuan yang mulai peduli HIV-AIDS sebagai konselor sejak 1999 ini, menjelaskan kasus HIV-AIDS banyak ditemui di pedesaan dan dari pasangan heteroseksual sejak 2009-2010. Sejumlah faktor memengaruhi, seperti perilaku seks pasangan heteroseksual dan kesadaran masyarakat yang masih rendah.

"AIDS dianggap sebagai aib, sesuatu yang hanya terjadi pada pecandu atau mereka yang bukan orang baik-baik. Konteks orang baik dan bergama inilah yang membuat masyarakat merasa takkan terkena AIDS. Padahal, bisa jadi pasangannya tak setia dan memiliki perilaku seksual menyimpang yang tak ia ketahui di luar rumah," jelas Putu.

Peduli kesehatan reproduksi
Perempuan, kata Putu, perlu lebih waspada akan bahaya HIV-AIDS ini. Perempuan perlu lebih berdaya, dengan meningkatkan pengetahuan mengenai berbagai hal terkait HIV-AIDS, dimulai dari kepedulian lebih tinggi akan kesehatan reproduksinya.

"Saat mengalami penyakit kelamin, perempuan perlu mulai waspada. Keputihan misalnya, ini adalah tanda awal sebagai peringatan yang perlu ditindaklanjuti, termasuk dengan meningkatkan keterbukaan komunikasi dengan pasangan. Organ reproduksi perempuan tertutup dan biasanya penyakit mulai diketahui saat sudah berada di stadium tinggi. Itulah sebabnya perempuan perlu lebih waspada jika mulai mengalami penyakit di daerah kelamin, termasuk keputihan," tegas Putu.

Saat perempuan mengalami keputihan, lanjut Putu, ia perlu lebih waspada. Keterbukaan dengan pasangan perlu diciptakan. Berbagai penyakit, bahkan termasuk terinfeksi HIV-AIDS, dapat dideteksi lebih dini dengan adanya keterbukaan dengan pasangan.

"Bahkan keputihan bisa menjadi peringatan awalnya. Masalahnya boleh jadi ada di diri perempuan itu sendiri, namun juga bisa saja ada pada pasangan yang tak setia," kata Putu yang kerapkali menerima konseling dan menemukan perempuan terinfeksi HIV-AIDS dari perilaku seksual pasangannya.

Terbuka dengan pasangan
Perempuan, kata Putu, juga perlu memiliki posisi tawar terhadap laki-laki. Bukan berarti perempuan merasa lebih tinggi dari laki-laki, namun bagaimana perempuan dan laki-laki saling menghargai satu sama lain. Saat mengalami masalah dalam hubungan berpasangan, suami dan istri perlu menanggapinya lebih bijak.

"Saat suami tak setia, bukan berarti istri juga bisa membalasnya dengan juga berperilaku tak setia. Hadapi masalah dengan lebih bijak, bukan dengan menyetarakan tapi dengan cara yang keliru dan justru berisiko," kata Putu.

Persoalan HIV-AIDS, bukan sekedar masalah penyakit, namun juga menyangkut unsur psikologis dan perasaan, juga motivasi. Tak sedikit perempuan yang datang ke yayasan yang dikelola Putu untuk konseling penyakit, namun setelah penggalian mendalam, masalah hubungan berpasangan terkuak lebih mendalam.

Setia kepada pasangan, bersikap saling menghargai, dan terbuka membicarakan semua masalah dengan cara lebih bijak dapat menyelamatkan setiap individu dari risiko terinfeksi HIV-AIDS. Penyakit ini bukan hanya menjangkit mereka yang berperilaku menyimpang, secara seksual maupun kaitannya dengan narkoba. Siapa pun bisa terinfeksi HIV-AIDS, bahkan perempuan yang berusaha setia namun tak berbalas kesetiaan dari pasangannya.


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa
BERITA LAIN: