
Oleh: Syukri Muhammad Syukri
Kompasiana: muhammadsyukri
Dunia maya memang dunia di awang-awang, di antara kabel dan gelombang elektromagnetik. Dunia yang sepi bunyi, namun ramai peristiwa, ide dan gagasan. Pertemanan, misalnya, persis suasana dunia nyata—bisa ngobrol, mengirim pesan, berkomentar dan berkirim surat. Persahabatan dan rasa solidaritas bisa terjalin di media sosial meskipun antarpengguna belum pernah bertemu alias “kopi darat”.
Aku merasakan sendiri tingginya rasa solidaritas di media sosial belum lama ini. Pada 2 Desember lalu, aku menurunkan laporan di Kompasiana berjudul “Fahmi, Benarkah Engkau Ditahan Polisi di Batam, Nak?” Tulisan itu menceritakan kisah Rohani yang dimintai uang oleh penelpon gelap dengan alasan Fahmi, anak Rohani, ditahan polisi.
Tulisan yang diangkat sebagai headline Kompasiana tersebut dibaca oleh 1115 pembaca, 50 komentar, dan dibagikan sebanyak 74 kali lewat Twitter dan 18 di Facebook. Komentar yang datang rata-rata menyatakan simpati terhadap Rohani. Tak kurang Pramono Anung, Fadjroel Rahman, Sandrina Malakiano, Eep Saifulloh Fatah, Illian Deta Arta Sari, dan Prof Nazaruddin Sjamsuddin ikut me-retweet nya di akun masing-masing.
Kompasianer Batam begitu cepat merespon tulisan tersebut. Adirisno Nadeak, misalnya, meminta ijin untuk menyebarkan foto Fahmi di ruang publik dan jejaring sosial di kota Batam. Sementara, Sita Simarmata langsung menghubungi adiknya, yang berprofesi sebagai wartawan di Batam, untuk memastikan kebenaran alamat yang disebutkan si penelpon gelap.
Zee Zee lebih fantastis lagi, ia langsung mengecek keberadaan Muhammad Fahmi di Mapolresta Barelang Batam. Menurut penuturannya, ia masuk ke ruang tahanan dan bertanya langsung kepada para tahanan, “Ada yang bernama Fahmi atau Muhammad Fahmi?”
Dari hasil penyelidikannya ditambah keterangan petugas, Zee Zee menginformasikan tidak ditemukan tahanan atas nama Fahmi. Zee Zee selanjutnya menyarankan agar Ibu Rohani tidak merespon permintaan uang si penelpon gelap.
Inilah sebuah solidaritas dunia maya yang hasilnya nyata. Bantuan dan respon dari para Kompasianer begitu cepat. Hanya dalam tempo dua hari, sudah ditemukan keterangan yang sangat berharga. Bukan mustahil, suatu saat ada Kompasianer atau pengguna media sosial yang menemukan sosok Muhammad Fahmi.
Selengkapnya: http://kom.ps/hDzE