Minggu, 20 April 2014
Perawatan Spa Tak Hanya Jawa dan Bali
Jumat, 9 Desember 2011 | 11:39 WIB
|
Share:
MARTHA TILAAR SALON DAY SPA/SUDAR

Wulan Tilaar, Direktur PT Cantika Puspa Pesona yang memayungi Martha Tilaar Salon Day Spa, menjelaskan perawatan spa Batimung Spa terinspirasi ritual kecantikan perempuan Banjar, Kalimantan Selatan, saat jumpa pers di Jakarta, Kamis, 8/12/2011.

KOMPAS.com - Setiap perempuan di berbagai daerah di Indonesia menjalani perawatan tubuh yang khas, menjadi tradisi yang merupakan warisan budaya dari leluhurnya. Perawatan tubuh dari berbagai daerah ini dapat juga dinikmati perempuan kota, dengan kemasan dan cara berbeda, melalui perawatan spa.

Untuk menghasilkan perawatan spa terinspirasi dari kekayaan tradisi daerah, dibutuhkan sentuhan teknologi. Selain juga penggalian data mendalam mengenai legenda juga tradisi yang menjadi kebiasaan turun temurun tanpa pernah ada dokumentasi.

Wulan Tilaar, Direktur PT Cantika Puspa Pesona yang memayungi Martha Tilaar Salon Day Spa mengatakan perawatan tubuh yang kemudian dikenalkan dengan konsep spa, lebih banyak mengangkat daerah Jawa dan Bali.

"Indonesia disebut sebagai capital spa of the world, dan terkenal dengan perawatan spa Jawa dan Bali. Namun daerah lain juga punya perawatan tubuh yang khas dan perlu diangkat. Karenanya, lebih mudah bagi kita untuk mengeksplorasi berbagai perawatan khas daerah, dan menjadikannya signature treatment dan menjadi kebanggaan bersama," jelas Wulan di sela peluncuran Batimung Spa, terinspirasi dari perawatan tubuh calon pengantin perempuan Banjar, Kalimantan Selatan, di Martha Tilaar Center, Jakarta, Kamis (8/12/2011) lalu.

Martha Tilaar Salon Day Spa sendiri saat ini memiliki perawatan spa dari Jawa, Bali, dan Borneo, kata Wulan. Daerah seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur juga memiliki potensi yang sama. Perawatan tubuh dari daerah lain juga perlu digali dan dikembangkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.

Namun memang, butuh investasi waktu, tenaga, uang dan upaya ekstra untuk mentransformasikan tradisi kecantikan menjadi perawatan spa yang terstandarisasi. Wulan mengakui, ada sejumlah tantangan yang harus dilewati jika ingin mengembangkan ritual kecantikan tradisional menjadi perawatan spa berkualitas.

Untuk menghasilkan perawatan spa yang mengeksplorasi tradisi daerah, ada tiga tantangan utamanya:

1. Narasumber
Menurut Wulan, sulit untuk mendapatkan narasumber yang valid mengenai perawatan tubuh yang menjadi ritual juga tradisi masyarakat setempat. Tak adanya literatur menyulitkan peneliti untuk mengumpulkan data yang akurat mengenai suatu perawatan khas daerah.

"Informasi dikumpulkan melalui word of mouth saja. Masyarakat setempat juga belum tentu bisa langsung percaya dan memberikan informasi seutuhnya. Tak ada budaya menulis ritual kecantikan di daerah, inilah letak kesulitan dalam mencari sumber yang valid," jelasnya.

2. Bahan baku
Mencari bahan baku yang otentik sesuai ritual kecantikan yang sebenarnya penting dilakukan jika tujuannya adalah melestarikan budaya tersebut. Butuh upaya ekstra dan biaya yang tinggi untuk mewujudkannya, kata Wulan.

Kalau pun harus mencari alternatif, tetap saja diupayakan untuk mencari bahan otentik namun dari tempat berbeda, bukan dari daerah asalnya. Nah, inilah yang menyebabkan biaya tinggi. "Belum lagi harus mencari pemasok yang konsisten dan dapat dipercaya," lanjutnya.

3. Meramu legenda
Dalam menghadirkan perawatan spa khas daerah, perlu disertakan cerita atau legenda yang dihubungkan dengan ritual di masyarakat tersebut. Mengumpulkan cerita mengenai legenda asli terkait ritual kecantikan membutuhkan proses, kata Wulan.

Meski begitu, legenda menjadi penting untuk mendukung branding dan informasi yang menguatkan produk perawatan tubuh itu sendiri.

Dengan berbagai tantangan ini, tak heran jika kemudian perawatan spa berkualitas yang menggali kekayaan dan kearifan lokal, dipatok dengan harga tinggi. Ada upaya ekstra di baliknya, selain juga pengembangan teknologi yang dibutuhkan untuk memodifikasi beberapa bahan, terutama dalam aroma yang lebih disukai masyarakat perkotaan.

"Penggunaan bahan alami tetap sama dengan tradisi masyarakat setempat, namun untuk aroma perlu dilakukan pengembangan, untuk menyesuaikan kebutuhan pasar," jelas Wulan.

Agar aman
Selain tiga tantangan tadi, pengembangan produk spa yang menunjang perawatan tubuh juga perlu dilakukan. Bagi industri spa skala besar seperti Martha Tilaar, standar keamaan produk menjadi ritual wajib yang perlu dilewati sebelum menawarkan ke publik.

Wulan mengatakan, sudah menjadi standarisasi umum ketika akan meluncurkan produk, terlebih dahulu dilakukan sejumlah tes. Seperti bagaimana reaksi produk terhadap kulit, tes alergi dan sensitivitas untuk mencegah terjadinya iritasi.

Cara pengeringan, penyimpanan, pengemasan rempah-rempah yang menjadi bahan baku perawatan spa juga penting. "Jika cara mengeringkan, menyimpan dan mengemasnya tak higienis, rempah-rempah ini bisa berjamur, dan akibatnya menyebabkan gatal-gatal bagi pemakainya," tandas Wulan.

Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa