Sabtu, 1 November 2014
Meronce Manik "Sampah" Kertas Menjadi Aksesori
Sabtu, 31 Desember 2011 | 18:39 WIB
|
Share:
KOMPAS.com/Wardah Fajri

Nina Masjhur, perajin aksesori dari kertas bekas.

KOMPAS.com - Nina's Upcycles, demikian Nina Masjhur melabel berbagai pernik dan aksesori buatan tangannya yang dironce dari manik kertas hasil transformasi kertas tak terpakai.

Mengolah kertas tak terpakai menjadi benda bernilai guna bukan kegiatan baru. Orang mungkin lebih akrab menyebutnya recycling atau mendaur ulang. Namun Nina punya sebutan baru, upcycling, mengubah kertas tak terpakai menjadi benda layak pakai, bernilai jual, dan bernilai seni serta menunjang penampilan perempuan. Ia menciptakan manik kertas dari berbagai kertas bekas layak pakai, lalu manik ini dironcenya menjadi ragam aksesori seperti anting, gelang, kalung.

"Menaikkan martabat sampah," katanya sederhana saat berbincang bersama Kompas Female di Jakarta.

Ide untuk membuat ragam produk upcycling digeluti perempuan yang berprofesi sebagai fixer ini, sejak 2008. Layaknya hobi pada umumnya, meronce aksesori dari manik kertas merupakan hobi yang menyenangkan dan disukai Nina sebagai salah satu caranya menghibur diri. Hobi yang juga menjadi tantangan bagi perempuan yang kerapkali melakukan perjalanan berhari-hari lamanya dalam menjalani profesi sebagai fixer.

Rupanya, kebiasaan membuat manik kertas dan meroncenya menjadi aksesori, menjadi teman setia Nina di waktu kosongnya. Kapan dan di mana pun, Nina membawa serta lembaran kertas untuk diubahnya menjadi manik kertas. Kalau pun tak sempat membuat manik kertas, setidaknya ia tak menyia-nyiakan selembar kertas yang ditemukannya.

"Saya pengumpul sampah. Mengumpulkan kertas apa pun yang bisa dibuat manik kertas. Paper bag, struk ATM, struk belanja, kertas apa saja, kertas tiket bus juga bisa," jelasnya.

Bagi mereka yang mengenal Nina, takkan menyia-nyiakan kertas-kertas ini. Apalagi bagi mereka yang terbiasa menyimpan struk makan atau belanja, lalu membuangnya jika sudah terlalu lama menumpuk di dompet. Nina menjadi pengumpul kertas-kertas ini, yang dalam beberapa waktu, akan berubah menjadi gelang yang indah.

Aksesori etnik yang murah
Aksesori buatan Nina berkesan etnik, inilah komentar yang kerap didengarnya setiap kali menawarkan aksesori melalui bazaar. Aksesori dari manik kertas buatan tangan ini juga terbilang murah, harganya mulai Rp 8.000.

Unik dan etnik, inilah karakter aksesori Nina's Upcycles yang terbuat dari manik kertas. "Saya masih ingin mengembangkan desain dan membuat variasi tak hanya manik kertas tapi juga dari manik kaca," jelas penggemar origami ini.

Mencipta aksesori yang berbeda, murah, dari bahan baku "sampah" kertas memberikan kepuasan tersendiri bagi perempuan asal Sumatera Barat ini. Apalagi teknik membuat manik kertas terbilang rumit dan membutuhkan ketelitian lantaran ukurannya yang sangat kecil. Namun justru di situ lah letak tantangannya. Soal hasil karyanya menjadi populer atau tidak, itu soal kedua. Meski, tentunya menyenangkan dan membanggakan jika ternyata ide kreatifnya mendapat respons positif dari penggemar aksesori.

"Saya juga ingin bikin aksesori dari perak. Tapi bahan baku yang mahal, membuat harga aksesorinya juga menjadi mahal, saya nggak mau menjual aksesori mahal," katanya.

Mencipta benda kreatif untuk kepuasan personal menjadi pilihan Nina untuk mengisi waktu luangnya. Masalah hasil, ini bukan jadi soal. Nina pun tak ngoyo berjualan aksesori hasil karyanya, namun juga tak tinggal diam.

"Justru teman yang yang aktif jualan di toko nya, Ita Nusa Arts and Crafts," jelas Nina yang dibantu memasarkan aksesori buatannya oleh Neldan Djakababa, teman baiknya yang juga menggemari kerajinan tangan.

Bergabung bersama komunitas Lingkar Pernik juga menjadi caranya mengenalkan kreasi aksesori dari manik kertas. Melalui bazaar di kafe atau di tempat berkumpulnya komunitas ini, produk kerajinan buatan Nina lebih dikenal publik.

Karena profesinya kadang menuntut komitmen waktu yang tak tentu, Nina memutuskan tak menerima pesanan dalam jumlah besar. Namun Nina bersedia membagi waktunya mengajarkan keterampilan membuat manik kertas dan meroncenya menjadi aksesori untuk mendukung gerakan sosial berupa pemberdayaan perempuan penderita AIDS, juga anak-anak dan ibu rumah tangga.

Nina tak ingin hobi yang dijalankannya dikaitkan dengan gaya hidup hijau yang menjadi semakin komersial belakangan. Meski pada kenyataannya, kegiatan hobi yang dilakukannya jelas mengurangi sampah kertas dan tak membuat kertas terbuang sia-sia.

Mengolah sampah kertas dengan cara kreatif untuk menghasilkan produk fashion yang unik, inilah pilihan Nina mengisi waktunya. Bagaimana dengan Anda, di sela waktu, cara apa yang dipilih untuk menghibur diri namun juga punya dampak bagi yang lainnya?


Penulis :
Wardah Fazriyati
Editor :
wawa
BERITA LAIN: