
KOMPAS.com - Tata cara pernikahan adat Yogyakarta dalam pernikahan agung Kanjeng Pangeran Haryo Yuda Negara dan GKR Bendara (Ubai dan Reni) pada Oktober 2011 lalu, termasuk busana pengantinnya, dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja.
Pakem dalam pelaksanaan upacara maupun penggunaan busana pengantin tradisional adat Yogyakarta dapat diadopsi atau bahkan dimodifikasi secara tepat. Dengan memahami makna dan filosofinya, tata cara pernikahan adat menjadi kebanggaan yang seharusnya bisa dilestarikan siapa saja, termasuk pasangan muda di perkotaan.
Mengingatkan, mengenalkan kembali lebih dekat kepada masyarakat, membangkitkan pakem dan ritual pernikahan adat Yogyakarta, serta menjadikannya sebagai inspirasi, menjadi tujuan diadakannya Art Installment dan talkshow bertema "Yogyakarta Royal Wedding" di sela kegiatan Senayan City Country Cross Culture 2012.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi desainer Era Soekamto yang fokus pada pengembangan dan pelestarian budaya Yogyakarta tiga tahun terakhir, bersama komunitas seni Yogyakarta di Jakarta Laksita Mardhawa, binaan GKR Pembayun dengan Kanjeng Ratu Hemas sebagai penasehatnya.
"Kalau saja masyarakat tahu ada arti mendalam di balik setiap upacara dan pakem berbusana, siapa pun pasti mau menjalankan setiap ritual dan tata cara pernikahan adat seperti ini," jelas desainer Era Soekamto kepada Kompas Female, di sela acara Senayan City Country Cross Culture 2012, Jakarta, Minggu (29/1/2012) lalu.
Menurut Era, setiap busana dan ritual upacara dalam pernikahan adat Yogyakarta yang dipraktikkan di keraton memiliki filosofi. Muncul kekhawatiran, orang mulai lupa dan tak memahami makna berbagai ritual dan adat istiadat pernikahan warisan budaya. Minimnya pemahaman inilah yang pada akhirnya membuat masyarakat modern meninggalkan tata cara pernikahan adat, atau banyak melakukan pemotongan pada ritual yang sarat makna.
"Adat pernikahan banyak dipotong, mungkin sekitar 30 persennya saja yang masih dijalankan," jelas Era.
Padahal, menurut Era, tata cara pernikahan Royal Wedding Yogyakarta sarat dengan makna perjalanan budaya, termasuk asimilasi budaya. Salah satunya penggunaan busana pengantin Jangan Menir yang terbuat dari beludru yang merupakan bahan asal Eropa. Batik yang digunakan dalam ritual upacara dan beragam prosesi pernikahan juga sarat makna. "Berbagai hal inilah yang bisa digali dari pernikahan royal wedding Yogyakarta," lanjutnya.
Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Suryo Diningrat, yang turut hadir saat sesi talkshow mengatakan, dulunya tradisi pernikahan di keraton berlangsung tujuh hari tujuh malam. Namun, hal ini dapat dimodifikasi, seperti yang dilakukan pada pernikahan keraton Yogyakarta beberapa waktu lalu, dengan pelaksanaan selama lima hari berturut-turut.
"Tidak menutup kemungkinan, siapa pun boleh mengadopsi penikahan adat keraton, dan boleh dimodifikasi, seperti pada pernikahan lalu dilakukan selama lima hari saja, karena sudah dipadatkan," jelas GBPH Suryo.
Mengambil esensi dan inspirasi dari pernikahan adat dapat dilakukan siapa saja. Namun dengan memahami setiap makna dari berbagai ritual dan pakem, pernikahan adat dapat dijalankan dengan penuh sukacita dan kebanggaan di kalangan masyarakat umum. Dengan begitu, pernikahan adat Yogyakarta atau daerah mana pun tetap terpelihara dan lestari sepanjang zaman.