
KOMPAS.com - Ada yang berbeda dalam fashion show yang menjadi penutup rangkaian acara Tahun Baru Imlek di Grand Indonesia Shopping Town. Dalam peragaan busana bertema "Red in Fashion", pusat perbelanjaan ini menghadirkan tujuh desainer/brand yang menampilkan koleksi busana yang terinspirasi dari perayaan Imlek. Warna merah dan busana bergaya cheongsam mendominasi koleksi mereka. Namun brand fashion Benten rupanya memilih untuk membuat tema sendiri untuk koleksi mereka.
"Kami punya tema sendiri untuk tahun ini, yakni Flower Romance, dan kami memilih warna-warna pastel yang lebih soft. Kami ingin tampil beda," jelas Cecilia Yuda, salah satu pendiri Benten, saat ditemui Kompas Female usai fashion show di Main Atrium Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta, Minggu (5/2/2012) lalu.
Sebagian besar koleksi mereka menggunakan bahan silk tulle dari Perancis. Bahan tersebut dikombinasikan dengan organza dan butiran Swarovsky. Lima koleksi yang seluruhnya bergaya cheongsam diberi aksen lace yang memberi kesan romantic.
Disukai sosialita dan selebriti
Ciri khas rancangan Benten adalah ringan dan sederhana, sehingga membuat penggunanya merasa nyaman. "Bahannya halus, gaunnya wearable, simpel, dan tidak terlalu drama. Makanya banyak yang merasa nyaman dengan gaun kami. Pengguna busana Benten juga merasa lebih feminin kalau menggunakan produk kami," ungkap Cecilia.
Busana Benten kerap dikenakan oleh kaum sosialita dan selebriti. Sebab pada awalnya Benten memang hanya menyediakan gaun untuk para presenter tayangan infotainment di televisi. Lama-kelamaan, para selebriti ikut menyukai dan memesan gaun dari brand yang dirancang oleh duet desainer Cecilia Yuda dan Lisa Daryono ini. Asmirandah, Nabila Syakieb, Cahty Sharon, dan Nadine Chandrawinata, adalah beberapa klien Benten.
Tak berlatar belakang fashion
Cecilia dan Lisa memang sejak lama punya cita-cita membangun fashion line sendiri. Doa mereka terkabul pada Juni 2007, setelah membuka concept store Benten yang pertama di kawasan Pluit, Jakarta Utara.
"Nama Benten dipilih dari bahasa Jepang yang artinya Dewi. Benten artinya Dewi Keberuntungan, Dewi Kecantikan, dan predikat lain yang feminin," kenang Cecilia. Tak heran, mereka berfokus pada rancangan cocktail dress dan evening gown.
Sebelum menjadi perancang, kedua perempuan ini sebenarnya tak memiliki latar belakang fashion. Cecilia adalah lulusan Profesional Communication PR di Melbourne, Australia. Temannya, Lisa, adalah sarjana perbankan dan keuangan. Mereka tak pernah menempuh pendirikan formal tentang fashion, dan memilih untuk memelajarinya secara otodidak. Persahabatan mereka dimulai sejak sama-sama melanjutkan kuliah di Melbourne. Mereka ternyata memiliki passion yang sama di bidang fashion. Sekembalinya ke Indonesia, mereka pun sepakat membangun fashion line bernama Benten.
Koleksi gaun malam mereka ternyata segera memikat para sosialita. Empat tahun sejak didirikan, Benten membuka toko keduanya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Melalui website dan jaringan online, Cecilia dan Lisa juga memperkenalkan brand ini ke dunia internasional. Seluruh koleksi Benten akhirnya diperagakan di Hong Kong Fashion Week Spring/Summer 2011. Selain itu, koleksi Benten juga telah didistribusikan di Malaysia, Singapura, dan tak lama lagi di Melbourne dan Sydney, Australia.