Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Susan Budihardjo:
Indonesia Harus Punya "Fashion Statement"
Wardah Fazriyati | wawa | Kamis, 9 Februari 2012 | 14:15 WIB
|
Share:
Batik dan berbagai kain nusantara lainnya memiliki banyak motif yang sebenarnya bisa diproduksi menjadi busana siap pakai untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar mode dunia.

KOMPAS.com -  Indonesia punya banyak talenta di bidang fashion. Kreativitas di industri fashion Indonesia juga tak ada matinya, selalu ada kekayaan budaya tradisi yang digali menjadi produk fashion siap pakai. Para perancang selalu punya cara menampilkan kekayaan budaya tradisi Indonesia melalui koleksi busana maupun aksesori. Itulah sebabnya, desainer dan pendidik di bidang mode, Susan Budihardjo menilai Indonesia harus punya statement fashion yang mewakili potensi mode di Indonesia di tingkat dunia.

"Tren statement fashion etnik harusnya berasal dari Indonesia," tegas Susan saat berbincang bersama sejumlah media di Sekolah Mode Susan Budihardjo, Cikini, Jakarta, belum lama ini.

Susan menilai, pelaku industri fashion di Indonesia belum serempak menggaungkan statement fashion, terutama terkait berbagai produk fashion etnik. Motif batik atau tenun yang banyak berasal dari kekayaan budaya tradisi Indonesia, lebih berhasil digaungkan desainer asing di luar negeri. Karena mereka mampu mencipta produk fashion terinspirasi material yang dimiliki Indonesia, dalam produk massal yang dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan internasional.

"Indonesia masih lebih sering menciptakan busana handmade, dari batik atau tenun, yang diproduksi dalam jumlah terbatas. Akhirnya pemesanan juga tak bisa banyak, hanya 1-2 lusin misalnya. Padahal material bernuansa etnik dan mengangkat budaya bisa diolah lebih modern untuk memenuhi kebutuhan internasional," jelasnya.

Susan mengakui tingginya kualitas produk fashion tenun dengan metode handmade dari Indonesia. Namun, menurutnya, jangan terpaku pada produk fashion handmade yang tak mampu memenuhi kebutuhan pasar mode dunia. "Bagaimana memajukan perajin tetap perlu dipikirkan caranya, tapi harus ada juga yang memikirkan bagaimana motif-motif etnik Indonesia ini bisa dikembangkan dan menjadi statement fashion dari Indonesia," sarannya.

Ia menambahkan, di luar negeri motif tenun dan batik dikenalkan dengan model print, sehingga bisa diproduksi dalam jumlah banyak dan dikenal lebih luas oleh pecinta fashion juga pengguna akhir. Sentuhan kain tradisional di berbagai produk fashion tetap dibutuhkan, namun sesuaikan juga dengan tren dunia dan kebutuhan pasar internasional. Untuk busana misalnya, koleksi siap pakai yang bisa digunakan sehari-hari, namun tetap memiliki sentuhan budaya lokal, menjadi kebutuhan yang sebenarnya.

Susan menyontohkan, kebaya bisa dirancang menjadi busana siap pakai yang juga dapat dikenakan sehari-hari oleh masyarakat barat. Tantangannya, menjadikan kebaya dari Indonesia sebagai busana yang tak hanya dipakai pada momen khusus, tapi juga sebagai busana harian untuk banyak orang di berbagai negara. Menurut susan, mewujudkan statement fashion seperti ini memang tak mudah, dan menjadi tantangan besar bagi desainer yang harus lebih peka. Jeli melihat kebutuhan pasar, namun juga tetap melestarikan budaya tradisi termasuk para perajin di balik sebuah kain batik atau tenun.

Fashion di Indonesia punya karakter kuat dan dapat menjadi pembeda dari lainnya, dengan kekayaan aneka motif kain nusantara. Ini adalah potensi yang sebenarnya bisa dikembangkan jika kepekaan pelaku industri fashion lebih terasah. Untuk itu, diperlukan kekompakan pelaku industri fashion dari berbagai level, desainer, garmen hingga UKM. Salah satu caranya adalah dengan perhelatan Indonesia Fashion Week (IFW) yang memfasilitasi kebutuhan berbagai kalangan di industri mode.

Susan menilai, "IFW yang paling kompak. Harusnya seperti inilah fashion week yang sebenarnya, seperti yang dilakukan negara-negara lain. Fashion week yang bukan sekadar show atau pameran," ungkap desainer berpengalaman 30 tahun dan tercatat sebagai anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia ini.