Senin, 21 April 2014
Kisah Nyata di Balik Film "The Vow"
Selasa, 14 Februari 2012 | 12:30 WIB
|
Share:
THE DAILY MAIL

Kim dan Krickitt Carpenter (kiri), kisah hidupnya menjadi inspirasi dari film The Vow.

KOMPAS.com - Hari Valentine biasanya disambut dengan film-film romantis di bioskop. Salah satu yang bisa Anda tonton sebentar lagi adalah The Vow. Film ini mengisahkan Leo (Channing Tatum), yang harus berjuang sekuat tenaga untuk meraih kembali cinta sang istri, Paige (Rachel McAdams). Memori Paige lenyap setelah kecelakaan mobil yang mereka alami.

Film ini ternyata diangkat dari kisah sejati Kim dan Krickitt Carpenter, pasangan pengantin baru dari Las Vegas, New Mexico. Hanya 10 minggu setelah menikah, suatu kecelakaan mobil mengakibatkan Krickitt mengalami koma selama empat bulan. Ketika akhirnya tersadar, ia kehilangan memorinya. Krickitt bahkan tidak tahu siapa Kim, yang selalu mendampinginya saat itu.

Peristiwa tragis ini terjadi ketika mereka berkendara menuju Phoenix, Arizona, untuk merayakan Thanksgiving bersama orangtua Krickitt. Krickitt, yang mengemudikan mobil, mencoba menghindari sebuah lori yang bergerak lambat. Namun sebuah truk yang mengikuti dalam jarak dekat menabrak mobil mereka dari belakang, membuat mobil itu terguling sekitar 30 meter jauhnya, hingga atap mobil ringsek.

Kim mengalami cidera, tulang iga dan hidungnya patah, dan luka ringan di sana-sini. Namun Krickitt tidak sadarkan diri. Ia harus diangkat dari kendaraan, dan diterbangkan ke rumah sakit. "Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai ketika terbangun dari koma hampir empat bulan sesudahnya, tanpa menyadari dimana aku berada, atau apa yang telah terjadi," kenang Krickitt, yang kini berusia 42 tahun.

Krickitt ternyata mengalami cidera kepala yang begitu parah, hingga pada awalnya tidak mampu mengingat apapun, bahkan untuk memakai pakaian, menggosok gigi, dan berjalan. Namun ketrampilan ini sebenarnya masih tersimpan dalam memori jangka panjangnya, sehingga begitu menjalani terapi intensif, perlahan-lahan Krickitt mampu mengingatnya.

Yang menjadi masalah justru memori jangka pendeknya, karena ternyata jauh lebih parah dan rusak secara permanen. Memorinya selama dua tahun sebelum kecelakaan tersebut hilang seluruhnya, tahun-tahun dimana ia bertemu dan menikahi Kim. Hingga saat ini, 18 tahun setelah peristiwa itu terjadi, memori tersebut tak pernah kembali.

"Ketika ditanya perawat apakah aku ingat suamiku, aku bilang aku tidak menikah," kenang Krickitt. "Aku bisa mengingat nama-nama beberapa mantan kekasihku, tapi aku tak ingat pria yang tidak pernah meninggalkan diriku selama berbulan-bulan di rumah sakit ini."

Ketika ditunjukkan foto-foto dan video pernikahannya, Krickitt tetap tak mampu mengingat apapun. Ia merasa mengenali gadis dalam gaun pengantin yang tengah berjalan memasuki lorong gereja itu sebagai dirinya dalam versi muda. Sayangnya, ia tak bisa mengingat apa yang dirasakan gadis dalam video tersebut.

Krickitt adalah atlet senam berusia 24 tahun ketika bertemu Kim (saat itu 27 tahun), seorang pelatih bisbol. Krickitt bekerja sebagai tenaga penjualan di sebuah perusahaan pakaian olahraga di Anaheim, California selatan. Mereka berkenalan melalui telepon, saat Kim memesan jaket olahraga untuk sesama pelatih di New Mexico Highlands University. Krickitt. Mereka langsung "klik", dan tetap berhubungan sesudahnya.

Setelah berhubungan jarak jauh selama enam bulan, Kim mengundang Krickitt ke New Mexico. Sejak itu mereka saling mengunjungi setiap akhir pekan, dan menikah tiga bulan sesudahnya.

"(Setelah kecelakaan) Dia bukan hanya tak ingat bahwa kami menikah, tapi juga tidak mengenaliku," timpal Kim, yang kini 46 tahun. "Aku sangat kecewa, tentunya, tapi aku mencoba untuk tidak membesar-besarkannya, karena aku begitu senang ia masih hidup."

Kim bertekad untuk tidak meninggalkan Krickitt, sampai sang istri menatapnya dengan kesadaran penuh dan mengatakan bahwa semuanya telah berlalu. Tekadnya yang kuat untuk merehabilitasi Krickitt ternyata tidak diterima oleh perempuan muda ini. Maklum, cidera kepala tersebut ternyata juga mengubah kepribadian Krickitt. Ia menjadi pemarah, tidak sabaran, dan agresif, sangat berlawanan dari sifatnya yang ceria dan bersemangat dulu.

"Aku tak ingin ia ada di sekitarku, menyuruh-nyuruhku menjalani terapi fisik. Aku menentangnya karena mencoba memberitahuku apa yang harus kulakukan," jelas Krickitt. "Aku mencoba bersikap sopan, karena ia terlihat sangat mempedulikanku. Tapi aku tak punya perasaan padanya."

Kim sendiri mengakui, perannya seolah berubah dari suami menjadi ayah. Ia berkeras memasukkan Krickitt ke rehabilitasi. Mantan pesenam yang lincah itu kini bahkan tidak mampu berdiri. Krickitt membenci terapi tersebut, dan membenci Kim karena memaksanya melakukannya. Krickitt mengusir Kim berulangkali.

Orangtua Krickitt turut berusaha mengingatkan bahwa Kim adalah suaminya, sehingga Krickitt merasa ia pasti sangat mencintai pria itu dulu. Tetapi semakin ia berusaha mengenal dan menyayangi Kim, perasaan itu tak juga hadir. Meski begitu, berpisah bukan pilihan terbaik bagi keduanya.

"Aku sudah mengucapkan janji perkawinan di depan keluarga dan teman-temanku, untuk tetap bersama, dalam untung dan malang, di waktu sehat maupun sakit," tegas Krickitt, yang akhirnya memutuskan untuk belajar mencintai pria asing ini lagi, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan dan betapa sulit mencapainya.

Sebaliknya Kim juga memegang teguh janji perkawinannya, dan tidak berniat meninggalkan sang istri dalam keadaan terpuruk. Sepahit apapun pertengkaran yang mereka alami, tidak membuatnya berhenti mencoba memperbaiki hubungan.

Pasangan ini menikah kembali tiga tahun setelah kecelakaan itu terjadi, dan tinggal di New Mexico seperti sebelumnya. Krickitt merasa tidak ada koneksi dengan kota tersebut. Ia juga mengalami kesulitan menjalani peran sebagai istri, apakah ia biasa memasak untuk sang suami, apa makanan kesukaan Kim, atau tipe istri seperti apa yang dijalaninya dulu. Krickitt juga belum siap untuk menjadi ibu sampai delapan tahun sesudahnya.

Yang tersulit baginya adalah mengatasi perubahan kepribadiannya. Tiba-tiba ia menjadi tidak sabaran, dan kepercayaan dirinya runtuh. Dulu ia cekatan, sangat senang berolahraga. Sekarang ia merasa begitu canggung dan kekanak-kanakan. Emosinya juga campur-aduk. Ketika bermaksud tertawa, Krickitt justru menangis, dan begitu sebaliknya. Ia merasa frustrasi dengan dirinya, dan terhadap Kim.

Pasangan ini juga menjalani konseling, dimana mereka diminta untuk membangun kenangan baru bersama. Tujuannya agar Krickitt dapat membentuk ikatan emosional yang sesungguhnya dengan Kim. Mereka mengawali hubungan mereka dari nol lagi, berkencan, nonton film, bowling, dan jalan-jalan.

Perlahan, rasa cinta pada Kim mulai tumbuh. Krickitt mengakui, cinta yang dirasakannya tidak berbunga-bunga seperti dulu. "Saat bersamanya, jantungnya tidak berdebar-debar, kakiku tidak terasa lemas. Aku ingin sekali merasakannya, tapi bukan itu kenyataannya. Kini aku membuat keputusan untuk mencintainya," papar Krickitt, yang terus belajar untuk mencintai pria ini.

Sebelas tahun setelah kecelakaan terjadi, pasangan ini akhirnya dikaruniai anak. Menjadi ibu ternyata merupakan pencerahan bagi Krickitt. Ia merasakan suatu tanggung jawab, yang mendewasakan dirinya. Dua anak hadir dalam kehidupan mereka, yaitu Danny (11) dan LeeAnn (8). Krickitt juga kembali bekerja sebagai pelatih kebugaran, yang mampu mendongkrak kembali kepercayaan dirinya.

Kini Krickitt memiliki banyak kenangan baru bersama Kim. Hubungan mereka memang tak pernah sama seperti sebelum kecelakaan terjadi, namun ia merasa lebih kuat menjalaninya. Ia berharap, kisah hidupnya yang difilmkan dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk memegang teguh janji perkawinan, dan berkomitmen sebagai orang dewasa.

Penulis :
Felicitas Harmandini
Editor :
Dini