Kamis, 24 April 2014
Kapan Perlu Konsultasi Seks?
Kamis, 23 Februari 2012 | 17:19 WIB
|
Share:
OUTNOW

Untuk berkonsultasi seks diperlukan inisiatif dari istri ataupun suami.

KOMPAS.com - Boleh jadi selama ini belum banyak orang yang peduli akan pentingnya konsultasi seks. Bahkan tak sedikit yang justru merasa malu saat harus benar-benar berkonsultasi. Maklum, takut dicap macam-macam, semisal tak perkasa, yang bisa menurunkan harga diri sebagai laki-laki sejati. "Padahal, manfaat yang dituju dari konsultasi seks itu sendiri, kan, tak lain adalah hidup berkeluarga yang bahagia, di mana seks merupakan salah satu unsurnya," ujar Dr Ferryal Loetan, ASCT&T, Sp.RM, MMR.

Konsultasi seks, lanjut Ferryal, "Sebetulnya bisa dilakukan kapan saja, kendati umumnya dilakukan kala ada masalah." Padahal, selagi tak bermasalah pun boleh-boleh saja dilakukan. Semisal mempertanyakan apakah aktivitas seksual yang selama ini dilakukannya sudah baik atau belum.

Berapa kali konsultasi seks yang diperlukan, amat tergantung pada kasus. Kalau ringan, sekali saja mungkin sudah bisa terselesaikan masalahnya. Bila berat, tentu perlu berulang kali. Terlebih jika masalahnya tak cuma fisik, tapi juga berkaitan dengan faktor psikis. Biasanya perlu waktu penanganan yang lebih lama sehingga kesabaran dari yang bersangkutan memang sangat diharapkan.

Waktu yang pas
Menurut Ferryal ada waktu-waktu tertentu yang pas untuk berkonsultasi, yakni:

Sebelum menikah
Begitu memasuki perkawinan, tak sedikit pasangan yang belum mengerti atau bahkan buta sama sekali mengenai hal-hal seputar kehidupan seksual. Contohnya, sebut Ferryal, tak bisa membedakan lubang vagina dan lubang kencing.

Idealnya, pengetahuan seks sudah diperoleh anak dari keluarga atau sekolah sejak ia remaja atau dewasa muda agar tak salah kaprah. Itu sebabnya sebelum memasuki perkawinan, calon pengantin diberi kesempatan mendapat konsultasi atau bimbingan perkawinan secara umum oleh KUA. Nah, tak ada salahnya berkonsultasi juga ke ahlinya agar merasa lebih siap.

Setelah menikah, yang paling mungkin dan sering menjadi penyebab perceraian adalah masalah keperawanan. Kalau tak berdarah di malam pertama, dianggap tak perawan. Padahal, bisa saja istri tak berdarah atau merasa sakit. Ada banyak faktor penyebabnya. Antara lain, bentuk atau elastisitas selaput daranya.

Ada gangguan/kelainan organ kelamin wanita
Yang ini pun termasuk paling sering mendorong suami-istri berkonsultasi. Misalnya, susah penetrasi meski sudah sekian bulan menikah. Bila ada masalah seperti itu, lebih baik konsultasikan secepat mungkin untuk diatasi. Mungkin saja vagina istri tertutup, selaput daranya keras dan tebal, atau karena frigiditas yang lebih disebabkan faktor psikis. Bisa juga karena takut sehingga otot vagina kaku atau tertutup rapat.

Gangguan/kelainan organ kelamin pria
Masalahnya banyak sekali. Mulai dari impotensi hingga ejakulasi prematur dan yang terhambat. Penyebab umumnya bisa psikis dan fisik.

Saat anak bertanya soal seks
Tak ada salahnya berkonsultasi ketika anak sudah mulai aktif atau banyak bertanya tentang seks. Kendati pengertian seks di sini bukan berarti hubungan seks, melainkan masih bersifat umum, terutama yang berhubungan dengan jenis kelamin. Semisal, "Kok, aku punya titit, tapi adik enggak, sih?" Tak semua orang tua bisa menjawab dengan jelas dan singkat. Ada pula yang ragu, apakah anak sudah boleh tahu soal seperti itu.

Padahal, salah menjawab atau sama sekali tak menjawab, bisa bahaya buat anak. Ia akan mencari jawaban dari orang lain yang belum tentu dapat memberi jawaban benar. Anak juga akan berpikir, seks adalah sesuatu yang jorok dan tabu dibicarakan.

Lakukan bersama pasangan
Menurut Ferryal, untuk berkonsultasi seks memang diperlukan inisiatif dari istri ataupun suami. Namun banyak suami yang merasa harga dirinya hancur akibat impoten atau ejakulasi prematur lantas tak mau berobat. Di sinilah pentingnya pasangan memberi dukungan. Konkretnya, dengan berobat bersama-sama, atau setidaknya menemani atau mengantarnya berkonsultasi meski barangkali yang bermasalah hanya istri atau suaminya saja.

Sekalipun suami yang impoten, contohnya, akan lebih bagus bila istri selalu mndampinginya berkonsultasi. Selain merasa dapat dukungan, istri pun bisa diajak membantu melakukan terapi di rumah menggunakan teknik-teknik sesuai yang disarankan dokternya. Hal ini tentu bisa membantu mempercepat proses penyembuhan.

(Dedeh Kurniasih)

Editor :
Dini